Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Rangkuman Sekolah Sabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rangkuman Sekolah Sabat. Tampilkan semua postingan
08.30
PRAWACANA:
Sub-judul dari seri pendalaman Alkitab sepanjang triwulan ini--Pelajaran Sekolah Sabat (Dewasa)--ialah "Pelajaran-pelajaran Besar dari Para Nabi Kecil." Istilah "nabi kecil" yang digunakan di sini merupakan terjemahan dari "minor prophets" dalam bahasa Inggris, di mana sebutan "kecil" di sini bukan berarti tidak penting atau sepele, baik menyangkut pribadi para nabi itu maupun pekabaran mereka. Bahkan, seperti akan kita lihat nanti, mereka adalah nabi-nabi dengan kepribadian raksasa dan pekabaran-pekabaran mereka juga sangat penting serta relevan hingga pada zaman kita sekarang. "Nabi-nabi Kecil" adalah sebutan yang dipopulerkan oleh St. Augustine (354-430 AD), seorang uskup agung gereja Katolik Roma yang amat berpengaruh.
Penyebutan "kecil" di sini adalah julukan yang semata-mata berkaitan dengan ukuran atau panjangnya pekabaran mereka (yang terpendek hanya 1 pasal, terpanjang 14 pasal), dibandingkan dengan tulisan empat "nabi besar" (major prophets)--Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan Daniel--yang tulisan-tulisannya sampai berpuluh-puluh pasal panjangnya. Namun, singkatnya tulisan mereka tidak menggambarkan masa pelayanan mereka yang pendek. Hosea, misalnya, tugas kenabiannya berlangsung sekitar 40 tahun. Begitu juga, pekabaran mereka mengandung unsur-unsur yang sama dengan pekabaran dari nabi-nabi besar yang meliputi (a) uraian tentang dosa-dosa umat Tuhan, (b) amaran penghukuman akibat dosa, (c) uraian tentang penghukuman yang sedang datang, (d) seruan pertobatan, dan (e) janji kelepasan bila mereka bertobat. Mungkin, karena singkatnya tulisan-tulisan mereka, lebih tepat jika keduabelas nabi terakhir bagi bangsa Israel itu disebut sebagai "nabi-nabi mini" (seperti yang digunakan oleh Wikipedia).
Dalam bahasa aslinya (bahasa Aram), kumpulan tulisan-tulisan dari para nabi kecil atau mini tersebut dinamai ืชืจื ืขืฉืจ, Trei Azar, yang berarti "Dua Belas" atau juga dijuluki "Kitab Dua Belas" sesuai dengan jumlah mereka yang 12 orang itu. Berturut-turut adalah Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi, yang dalam Alkitab PL tertera sebagai kitab-kitab terakhir. Urutan ini tidak merepresentasikan urutan masa pelayanan mereka yang diperkirakan telah dimulai sebelum masa pembuangan orang Israel ke Babel, sejak diutusnya nabi Yunus ke kota Niniwe (tahun 800-an SM) sampai yang terakhir adalah masa pelayanan nabi Maleakhi (tahun 430-an SM) setelah pemulangan mereka ke Yerusalem.
Dalam susunan Kitabsuci Ibrani yang terdiri atas tiga kelompok--Torah (Lima Kitab Musa: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), Nevi'im (Kitab Para Nabi), dan Kethuvim (Kumpulan Tulisan)--pekabaran dari keduabelas nabi mini tersebut termasuk dalam kelompok Nevi'im sebagai bagian kedua dengan tajuk "Nabi-nabi Terakhir" bersama kitab-kitab nabi Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel (bagian pertama bertajuk "Nabi-nabi Permulaan" yang berisi kitab Yosua, Hakim-Hakim, 1&2 Samuel, 1&2 Raja-raja). Kitab nabi Daniel sendiri digolongkan sebagai "Kitab Sejarah" yang ditempatkan pada bagian ketiga dari Kethuvim (dua bagian pertama ialah "Syair" dan "Lima Gulungan").
Sepanjang dua Sabat pertama triwulan ini, 6 & 13 April, pembahasan pelajaran kita bertumpu pada pekabaran dalam kitab Hosea yang melayani pada masa pemerintahan raja-raja Uzia (767-739 SM), Yotam (739-731 SM), Ahas (731-715 SM), dan Hizkia (715-686 SM) dari kerajaan Yehuda di selatan, dan pemerintahan raja Yerobeam II (782-752 SM) dari kerajaan Israel di utara (Hos. 1:1). Sebenarnya, fokus pelayanan nabi Hosea adalah kerajaan Israel di utara di mana dia telah menjadi saksi penobatan dan kejatuhan dari enam raja Israel, meskipun di awal tulisannya dia hanya menyebut salah satu nama saja dari mereka sedangkan lainnya adalah nama raja-raja kerajaan Yehuda di selatan. Hosea melayani selama 40 tahun, 760-720 SM, yaitu 250 tahun sesudah pemerintahan raja Daud ketika Israel masih bersatu, atau 650 tahun setelah bangsa pilihan itu mewarisi negeri perjanjian Kanaan.
Nama Hosea (Ibrani: ืืֹืฉֵׁืขַ, Hoshea) itu sendiri artinya "keselamatan." Kata ini berasal dari akar kata ืָืฉַׁืข, Yashua, yaitu akar kata yang sama dengan nama Yoshua dan Yesus yang juga berarti "keselamatan" atau "kelepasan." Ketiga nama ini membawa pesan yang serupa, ialah bahwa "Tuhan adalah keselamatan." Tema pekabaran nabi Hosea adalah tentang Allah yang menyelamatkan, dan kehidupannya sendiri merupakan alegori (kiasan) dari pekabaran Tuhan yang disampaikannya kepada bangsa Israel. Sekalipun bangsa itu adalah bangsa yang murtad, yang melakukan perzinaan rohani dengan menyembah berhala-berhala kafir, namun Allah tetap mengasihi mereka dan ingin menerima kembali bilamana mereka bertobat.
Sabat Petang, 30 Maret
PENDAHULUAN
Pelayanan totalitas. Cuma Hosea yang dipanggil Allah untuk menjadi jurukabar dengan berbicara lewat mulutnya dan juga melalui peragaan kehidupan rumahtangganya yang nyata. Jadi, selain berkhotbah Hosea juga "mengorbankan" kehidupan pribadinya sendiri menjadi sebagai lambang pekabarannya. Tuhan memerintahkannya untuk dengan sengaja mengawini Gomer, seorang PSK (pekerja seks komersial), untuk melambangkan Israel sebagai "negeri bersundal" (Hos. 1:2). Sungguh ini merupakan sebuah pelayanan yang bersifat totalitas dari seorang jurukabar Tuhan, sesuatu yang mungkin hanya seorang Hosea dapat melakukannya.
"Kisah pribadi dan nubuatan Hosea terjalin ke dalam kitab ini secara tak terpisahkan. Sama seperti nabi itu telah mengampuni istrinya yang tidak setia dan bersedia untuk menerimanya kembali, demikianlah Allah bersedia berbuat hal yang sama bagi umat-Nya...Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman Hosea dan cara Allah memperlakukan ketidakpatuhan Israel?" [alinea ketiga dan keempat].
Dosa bangsa Israel disamakan dengan persundalan, atau perzinaan rohani, oleh sebab sementara mereka mengaku sebagai umat Allah dan mengadakan upacara-upacara keagamaan secara tradisional, pada waktu yang sama mereka juga beribadah kepada ilah-ilah kafir atau berhala-berhala orang Kanaan. Tetapi kemurtadan bukanlah perzinaan rohani umat Israel purba saja, perzinaan rohani adalah juga "penyakit" yang diidap oleh umat Israel rohani pada zaman ini.
Namun demikian, sebagaimana pada zaman Hosea dulu Allah bersedia untuk menerima kembali dan mengasihi bangsa pendurhaka itu, Allah yang sama juga tetap mau untuk menerima kembali dan mengasihi umat-Nya yang berzina dan murtad pada zaman ini. Dalam bahasa Ibrani, gomer berasal dari akar kata yang sama dengan gamar yang artinya berakhir atau berhenti, yang mungkin melambangkan berakhir dan berhentinya kesetiaan Israel, tetapi kasih Allah terhadap umat-Nya itu tidak pernah berhenti apalagi berakhir. Dan sebagaimana pelayanan totalitas Hosea, demikian pula kasih Allah kepada manusia bersifat total dan tidak setengah-setengah.
Minggu, 31 Maret
MEMPERAGAKAN PEKABARAN ALLAH (Perintah yang Aneh)
Kepatuhan seorang hamba Tuhan. Karena sifat pekerjaannya, seorang calon pendeta dituntut untuk mempertimbangkan masak-masak ketika memilih teman hidup atau istri. Tetapi tidak bagi Hosea. "Kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal," perintah Tuhan kepadanya (Hos. 1:2). Perintah yang aneh? Tidak bagi Hosea. Hamba Tuhan ini menuruti perintah itu tanpa ragu, mengambil Gomer lalu menikahinya dan lahirlah anak pertama, seorang anak laki-laki (ay. 3).
Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika membaca adegan awal dari cerita ini? Keluguan Hosea, atau kepatuhannya? Sebagian komentator Alkitab meragukan apakah perkawinan Hosea dengan Gomer adalah sebuah kisah nyata, mungkin itu hanya sebuah cerita perumpamaan saja oleh sebab rasanya mustahil kalau Tuhan membiarkan apalagi menyuruh seorang nabi kawin dengan pelacur. Tetapi sebagian komentator berpendapat bahwa justeru kisah perkawinan Hosea dan Gomer dimaksudkan untuk menjadi sebuah perumpamaan yang nyata dan hidup, untuk menggambarkan kasih Allah yang mengampuni terhadap ketidaksetiaan bangsa Israel seperti yang diperagakan oleh Hosea. Kalau perkawinan itu bukan sebuah kenyataan, berarti pengampunan Allah terhadap pendurhakaan manusia juga bukan suatu kenyataan.
"Kita tidak tahu kepastiannya. Akan tetapi satu hal adalah pasti: ketika Tuhan berbicara kepada Hosea dan melalui dia, Ia ingin mengalihkan perhatian umat manusia dari cerita Hosea kepada kisah cinta Allah dengan Israel. Karena Gomer adalah bangsa Israel, kisah perkawinannya dengan sang nabi berpadu dengan riwayat perjanjian Allah dengan Israel...Sama seperti amoralitas Gomer menyakiti hati suaminya, demikianlah kemusyrikan Israel mendukakan hati Allah. Hosea dipanggil untuk menanggung hati yang patah dan perkawinan yang hancur. Dia tentu telah merasakan kemarahan dan celaan orang banyak. Namun, semakin dia mengalami ketidaksetiaan Gomer, semakin mendalam pemahamannya akan kepedihan dan kekecewaan Allah terhadap Israel" [alinea kedua; alinea ketiga: empat kalimat terakhir].
Bukan hanya berkhotbah. Pengalaman hidup Hosea barangkali adalah yang paling ekstrem, namun bukan dia saja yang diperintahkan Allah menjalani hal-hal nyata untuk menjadi perumpamaan yang hidup demi mempertegas pekabaran-Nya. Nabi-nabi "besar" seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel juga mendapat perintah memperagakan perbuatan-perbuatan yang ganjil dalam rangka memberi bobot tambahan terhadap pekabaran Allah kepada umat-Nya. Untuk menyampaikan pekabaran yang penting dan mendesak kepada manusia pada umumnya, dan terhadap umat-Nya secara khusus, terkadang berkhotbah saja tidak cukup.
Contohnya, Yesaya selama tiga tahun harus bepergian keluar rumah tanpa mengenakan jubah luar dan kasut--sehingga dianggap seperti "telanjang" menurut tatakrama budaya pada masa itu--sebagai pertanda bahwa Tuhan akan mempermalukan Mesir dan Etiopia yang menjadi andalan Israel (Yes. 20:1-6). Juga Yeremia disuruh mengenakan gandar kayu dengan tali pengikat pada lehernya sebagai alat peraga saat dia harus berbicara kepada para utusan dari raja-raja kafir yang menghadap raja Israel, Zedekia, untuk mengibaratkan beban yang akan ditanggungkan ke atas mereka melalui raja Babel (Yer. 27:1-7). Yehezkiel pun disuruh membuat miniatur kota Yerusalem dengan pasukan-pasukan musuh mengepung kota itu, dan nabi itu harus tidur pada posisi badan sebelah kiri sambil matanya menatap kepada miniatur tersebut selama 390 hari yang melambangkan 390 tahun hukuman yang akan didatangkan ke atas kota itu (Yeh. 4:1-6).
Pena inspirasi menulis: "Sebagian dari para pemimpin Israel sangat merasa kehilangan gengsi mereka dan berharap bahwa hal ini bisa dipulihkan. Tapi gantinya berbalik dari praktik-praktik yang telah mengakibatkan kelemahan pada kerajaan itu, mereka terus berbuat kelaliman, memuji diri bahwa apabila muncul kesempatan mereka akan meraih kekuasaan politik yang mereka inginkan oleh bersekutu dengan orang kafir...Melalui hamba Tuhan yang muncul di hadapan mezbah di Betel, melalui Elia dan Elisa, melalui Amos dan Hosea, Tuhan telah berulang-ulang menghadapkan kepada sepuluh suku itu kejahatan dari ketidakpatuhan. Tetapi kendati ada teguran dan desakan, Israel terbenam lebih dalam dan semakin merosot dalam kemurtadan" (Ellen G. White, Prophets and Kings, hlm. 281).
Apa yang kita pelajari tentang "perintah aneh" yang harus dijalani nabi Tuhan?
1. Hosea adalah seorang nabi penurut yang diutus kepada umat yang tidak menurut. Dalam kepatuhannya, Hosea rela mengorbankan kebahagiaan dirinya demi tuntutan tugas. Betapa berbeda sikap nabi Tuhan ini dengan banyak hamba Tuhan zaman ini yang menempatkan kesenangan diri di atas pengabdian.
2. Dalam keadaan-keadaan tertentu, dan demi keberhasilan dalam menyampaikan pekabaran Tuhan, acapkali berkhtobah saja tidak cukup. Meski tidak harus berbuat seperti Hosea, namun dibutuhkan kesediaan untuk menjadikan kehidupan kita sendiri sebagai contoh dan pekabaran yang hidup.
3. Pekabaran nabi Hosea tetap relevan bagi umat Tuhan sepanjang zaman, khususnya pada masa sekarang ini. Banyak umat Tuhan zaman ini yang, disadari atau tidak, sedang berbuat dosa yang sama dengan bangsa Israel purba. Sambil beribadah kepada Tuhan kita juga "menyembah" ilah keduniawian.
Senin, 1 April
AKIBAT RASA TIDAK PUAS (Perzinaan Rohani)
Penyebab ketidaksetiaan. Gomer adalah personifikasi dari ketidaksetiaan dan perselingkuhan. Barangkali bisa dipertanyakan, Mungkinkah mengharapkan kesetiaan dari seorang perempuan PSK? Betul, Hosea mengawini Gomer yang notabene adalah wanita pelacur. Bisa jadi pada waktu dilamar perempuan itu berjanji akan berhenti dari profesi yang selama ini dilakoninya, bukankah diperistri oleh lelaki baik-baik (hamba Tuhan!) adalah suatu anugerah? Normalnya, tidak ada wanita yang bercita-cita menjadi PSK. Lazimnya, perempuan yang terjun ke dunia prostitusi bukan untuk membangun karir, tapi semata-mata untuk mencari nafkah dengan jalan gampang. Pelacur manapun mengidam-idamkan seorang suami yang mampu menyediakan penghidupan yang layak dengan siapa dia berharap untuk hidup bahagia. Kenyataannya, Gomer bukan tipe perempuan yang "normal" seperti itu.
Saya teringat kepada seorang teman, mantan pebulutangkis nasional yang telah malang-melintang dalam berbagai kompetisi dunia dan menjadi juara di berbagai kejuaraan internasional. Sayangnya--atau lebih tepat lagi, sialnya--kawan ini jatuh cinta pada seorang gadis yang ternyata seprofesi dengan Gomer. Perkawinan tersebut menjadi penyebab utama kemunduran prestasinya yang terlalu cepat, sebab istrinya itu tidak sama sekali meninggalkan dunianya yang lama hampir setiap kali suaminya bepergian mengikuti turnamen-turnamen di luar kota atau di mancanegara. Dengan berbagai hadiah uang dan barang berharga yang diterimanya dari para sponsor maupun pemerintah, sudah pasti kekayaannya cukup berlimpah. Apa lagi yang dicari? "Istri saya itu tidak pernah puas dengan apa yang dia dapat," katanya dengan nada sendu bercampur kesal. Memang teman saya itu bukan Hosea, maka mereka pun bercerai.
Barangkali alasan dari ketidaksetiaan bangsa Israel purba juga sama, ketidakpuasan. Tuhan sudah memerdekakan mereka dari perhambaan di Mesir dan mengantar mereka ke tanah perjanjian untuk menjadi satu bangsa yang berdaulat, tangguh dan diberkati. Tetapi itu semua seakan tidak cukup, sambil mengaku sebagai umat Tuhan mereka berselingkuh dengan dewa-dewa kafir dan menyembah berhala-berhala Kanaan. Bangsa Israel "telah berzina dengan banyak kekasih" (Yer. 3:1) dan menjadi seperti seorang "istri yang berzina, yang memeluk orang-orang lain gantinya suaminya sendiri" (Yeh. 16:32). Israel purba tidak puas dengan apa yang telah mereka terima dari Tuhan, bukan karena masih kurang tetapi karena keserakahan.
Mengingkari berkat Tuhan. Tidak cukup dengan menyembah berhala-berhala asing, bangsa Israel purba juga melakukan sesuatu yang keji dan amat menyakitkan hati Allah. Bayangkan saja, mereka sudah menerima berbagai kelimpahan berkat Tuhan, tapi gantinya bersyukur malah mereka mengaku itu semua berasal dari dewa-dewa kafir yang mereka sembah. "Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku...tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal" (Hos. 2:4, 7).
"Pada zaman Hosea, bangsa itu sangat tidak tahu berterimakasih kepada Allah, begitu terkungkung dalam dunia di sekitar mereka, sehingga mereka mempersembahkan pemberian-pemberian yang sebenarnya diberikan oleh Tuhan untuk mereka itu kepada berhala-berhala palsu mereka. Betapa ini menjadi sebuah amaran kepada semua kita agar pemberian-pemberian yang telah diberikan kepada kita harus digunakan dalam pelayanan Tuhan, bukan dalam cara-cara yang tidak pernah dimaksudkan untuk itu (Mat. 6:24)" [alinea ketiga: dua kalimat terakhir].
Jadi, sebagai umat Tuhan kita bisa terjebak ke dalam perzinaan rohani bukan hanya dengan cara menyembah berhala kafir, dalam arti kata yang sesungguhnya maupun kiasan. Anda dan saya pun dapat terjerat ke dalam dosa yang sama dengan Israel purba apabila kita mengingkari berkat-berkat Tuhan dengan cara menyombongkannya seolah-olah itu adalah hasil kemampuan kita sendiri dan berasal dari keberuntungan nasib, atau jika kita menggunakan berkat-berkat Tuhan itu untuk tujuan-tujuan yang bersifat mementingkan diri. Sebab perzinaan rohani pada hakikatnya adalah setiap pemikiran dan perilaku yang tidak mengakui pemeliharaan Allah dan tidak mengutamakan Tuhan dalam peribadatan kita.
Apa yang kita pelajari tentang perzinaan rohani?
1. Ketidaksetiaan seringkali timbul karena adanya rasa tidak puas dalam hati. Tidak puas dengan keadaan kita dan dengan apa yang kita miliki, selanjutnya akan memicu anda dan saya untuk berusaha meraih apa yang kita inginkan dengan cara kita sendiri.
2. Sebagai umat percaya, kita adalah ibarat "perawan suci yang telah dipertunangkan kepada Kristus" (2Kor. 11:2), oleh sebab Kristus adalah bagaikan suami bagi jemaat (Ef. 5:22-27). Kesetiaan adalah kewajiban yang terutama dan tak tergantikan dalam suatu ikatan perkawinan.
3. Segala bentuk ketidaksetiaan rohani pada prinsipnya adalah perzinaan rohani. Setiap umat Tuhan dapat terjebak ke dalam keadaan ini jika tidak berhati-hati dalam menilai dan memanfaatkan setiap berkat Tuhan secara tepat dan benar.
Selasa, 2 April
INJIL DALAM KITAB HOSEA (Sebuah Janji Pemulihan)
Pengampunan sesudah hukuman. Seperti yang kita baca dalam kitab Hosea pasal pertama, Gomer melahirkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Putra pertama bernama Yizreel (ืִืְืจְืขֶืื, artinya: Allah menabur); anak kedua, perempuan, dinamai Lo-Ruhama (ืֹื ืจֻืָืָื, artinya: tiada pengampunan); dan anak ketiga, laki-laki, dinamai Lo-Ami (ืֹื ืขַืִּื, artinya: bukan umatku). Berdasarkan perilaku ibu mereka yang tidak setia terhadap suami, dan pernyataan Tuhan "pernakkanlah anak-anak sundal" (Hos. 1:2), banyak komentator Alkitab cenderung berpendapat bahwa ketiganya bukan anak-anak Hosea tapi anak-anak haram tanpa ayah yang jelas. Bahkan mereka percaya Gomer tadinya adalah perempuan baik-baik tetapi kemudian berbuat serong dan menjadi pelacur setelah kawin dengan Hosea, sesuai dengan skenario yang sudah diketahui oleh sang nabi. Namun itu hanya pendapat, dan tidak ada ayat yang menjadi patokan untuk pandangan tersebut.
Ada sedikit perbedaan isi antara versi TB (Terjemahan Baru) dengan versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) dari kitab Hosea pasal 2. Dalam versi TB--seperti juga versi TL (Terjemahan Lama)--pasal ini hanya terdiri atas 22 ayat, sedangkan dalam versi BIMK--seperti juga versi King James--terdapat 23 ayat. Hal ini karena dalam versi BIMK dan KJV pasal ini dimulai dengan penyebutan nama anak-anak Hosea yang kedua dan ketiga, sedangkan pada versi TB tidak menyebutkannya tetapi langsung kepada desakan kepada kedua anak itu (yang melambangkan rakyat Israel) untuk berbantah dengan ibu mereka (melambangkan para pemimpin Israel). Versi King James memulai pasal 2 (ay. 1) dengan kalimat, "Say ye unto your brethren, Ammi; and to your sisters, Ruhamah" (Katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki, Ami; dan katakanlah kepada saudara-saudaramu perempuan, Ruhama). Dalam versi BIMK bunyinya menjadi, "Karena itu panggillah sesamamu dengan nama "Umat Allah" dan "Dikasihani TUHAN" (ay. 1). Lo dalam bahasa aslinya adalah kata negatif yang berarti tidak, bukan, atau tanpa.
Berdasarkan kata-kata pembukaan dari pasal 2 (Hosea 2:1, BIMK) tersebut kita dapati bahwa Allah menawarkan kembali pengampunan kepada bangsa itu. Fakta bahwa Ia ingin mereka menyapa sesamanya dengan "umat Allah" dan "dikasihani Tuhan" menunjukkan bahwa Allah menyediakan pengampunan bagi mereka, sesudah mereka menjalani hukuman atas pendurhakaan itu. "Pekabaran Hosea menyajikan kebenaran mendasar dari kasih Allah yang teguh bagi satu umat yang tidak layak. Hosea 2 berisi sebuah khotbah yang panjang oleh Tuhan tentang kemurtadan Israel, yang kemudian dibedakan dengan kasih Allah yang tak kunjung padam bagi umat-Nya. Sesudah pehukuman, sang suami akan menuntun sang istri pada sebuah perjalanan ke padang belantara di mana mereka akan dinikahkan kembali" [alinea pertama].
Harga sebuah pengampunan. Kasih Allah yang luar biasa dan ajaib ditunjukkan dalam kerinduan dan tindakan-Nya untuk rujuk dengan umat yang telah berkhianat itu. Allah yang sesungguhnya lebih dulu mengambil inisiatif untuk memulihkan hubungan dengan umat-Nya. Hal ini diperagakan oleh Hosea dengan menebus kembali Gomer, istrinya, yang rupanya sudah balik lagi ke rumah bordil dan menjual diri kepada mucikari. Perintah Tuhan kepada sang nabi menjelaskan segalanya, "Pergilah lagi dan cintailah seorang wanita yang suka berzinah. Cintailah dia seperti Aku juga mencintai orang Israel sekalipun mereka meninggalkan Aku dan menyembah ilah-ilah lain serta suka mempersembahkan kue kismis kepada berhala" (Hos. 3:1, BIMK).
Menurut hukum Musa, apabila seorang istri sudah keluar dari rumah suaminya lalu tidur dengan laki-laki lain, sang suami tidak boleh menebusnya kembali dan membawanya pulang, "sebab hal itu adalah kekejian di hadapan Tuhan" (Ul. 24:1-4). Apalagi, Gomer minggat dari rumah suaminya untuk pergi berzina (Mat. 19:7-9). Namun nabi yang sangat penurut itu tidak ingin berbantah dengan Tuhan sekalipun dia mempunyai alasan yang sah untuk menolak perintah itu, sebab dia tahu bahwa dirinya tengah memerankan skenario Allah agar pekabaran penting kepada bangsanya dapat dipahami. Sesungguhnya, inilah Injil dalam kitab Hosea.
Hosea patuh pada perintah Tuhan sekalipun dia harus mengorbankan harga dirinya dan juga hartanya (Hos. 3:2). Bahkan, Hosea sedang memperagakan kasih Allah kepada manusia berdosa melalui kehidupan pribadinya yang nyata, sebuah peragaan yang tidak ada nabi lain manapun pernah melakukannya. Hanya seorang hamba Tuhan sejati yang mau melayani secara totalitas dan rela mengorbankan "zona nyaman" kehidupannya demi tercapainya tujuan pelayanan yang diembannya.
"Bagaimana pun juga Hosea 'membeli' dia kembali. Dalam satu pengertian, Allah melakukan hal yang sama bagi umat manusia, tetapi harganya adalah kematian Yesus di salib. Maka, hanya dengan memandang kepada Salib kita dapat memperoleh gambaran yang jauh lebih jelas akan harga yang Allah bayar untuk menebus kita kembali dari kehancuran yang telah diakibatkan oleh dosa" [alinea terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang janji pemulihan Allah kepada umat-Nya?
1. Sementara pada Hosea pasal 1 Tuhan mengungkapkan kekesalan-Nya terhadap bangsa Israel purba yang berkhianat, di pasal 2 Tuhan menampilkan kasih-Nya yang tak kunjung padam kepada manusia.
2. Bagi Hosea, harga dari pengampunan ialah menebus istrinya yang berzina dan membawa dia pulang kembali ke rumahnya. Bagi Tuhan, harga pengampunan adalah kematian Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, di atas salib. Dalam pengorbanan ini kita melihat bahwa harga pengampunan itu jauh lebih besar dari harga diri.
3. Hosea adalah model dari seorang hamba Tuhan yang melayani tanpa pamrih, bahkan tanpa tedeng aling-aling. Kepatuhannya kepada apa saja yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan dan dilakonkannya dapat menjadi inspirasi bagi kita yang mengaku dan bekerja sebagai hamba-hamba Tuhan.
Rabu, 3 April
KETIKA ALLAH BERPERKARA (Tuduhan Atas Israel)
Israel wanprestasi. Dalam dunia hukum dikenal istilah "wanprestasi" yang dapat dikenakan kepada salah satu dari para pihak yang mengadakan perjanjian berdasarkan kontrak tertulis. Bilamana dua pihak, disertai sedikitnya dua saksi, mengikat diri dalam sebuah perjanjian tertulis di atas kertas bermaterai atau di hadapan notaris selaku wakil negara, biasanya dalam perjanjian atau kontrak tersebut terdapat klausul-klausul yang merupakan butir-butir perjanjian yang disepakati bersama secara timbal-balik dan bersifat mengikat. Apabila dalam pelaksanaannya salah satu pihak terbukti tidak menjalankan butir-butir kesepakatan dimaksud dan dengan demikian dianggap merugikan pihak yang lain, baik karena kelalaian maupun kesalahan, maka pihak yang dirugikan itu dapat mengajukan gugatan terhadap lawannya dengan tuntutan wanprestasi. Istilah ini adalah kata serapan dari bahasa Belanda, wanprestatie (dibaca: wanprestatsi), yang arti harfiahnya adalah "prestasi buruk" atau dalam pengertian lain "ingkar janji" dan tergolong sebagai kasus perdata.
Hubungan antara Allah dengan bangsa Israel dikukuhkan dalam perjanjian tertulis melalui hukum-hukum dan perintah-perintah yang diturunkan Allah melalui Musa (Kel. 24:4). Untuk pengesahannya dilakukan melalui sebuah ritual yang ditentukan oleh Allah, yaitu berupa persembahan kurban lembu-lembu jantan yang disembelih dan dibakar, kemudian darahnya disiramkan ke atas mezbah pembakaran kurban. Sesudah itu Musa mengambil kitab yang berisi perintah-perintah tersebut kemudian membacakannya kepada seluruh bangsa itu, dan mereka menyambutnya dengan berkata, "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan" (ay. 7). Setelah itu Musa mengambil darah binatang kurban yang sisa lalu menyiramkannya ke arah bangsa itu sambil berkata, "Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini" (ay. 8). Demikianlah perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel itu disahkan atas darah kurban. Upacara pengesahan perjanjian itu dilakukan sampai berkali-kali dan diakui tetap mengikat sampai pada generasi sekarang ini.
Salah satu "klausul" yang paling penting dalam perjanjian ini adalah soal pembuatan dan penyembahan berhala. "TUHAN memerintahkan Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel, 'Kamu telah melihat bagaimana Aku, TUHAN, berbicara kepadamu dari langit. Jangan membuat bagi dirimu patung-patung perak atau emas untuk kamu puja selain Aku'" (Kel. 20:22-23, BIMK). Kenyataannya, inilah pelanggaran yang paling sering dilakukan oleh bangsa Israel dari generasi ke generasi yang mereka lakukan secara sadar dan disengaja.
"Hosea 4:1-3 menghadirkan Allah sebagai pihak yang mengajukan tuntutan atau sengketa hukum (Ibrani: rรฎb) terhadap Israel. Bangsa pilihan itu kedapatan bersalah di hadapan Allah mereka oleh karena bangsa itu telah gagal mengamalkan syarat-syarat perjanjian tersebut. Kebenaran, rahmat, dan pengetahuan akan Allah seharusnya menjadi ciri-ciri dari hubungan Israel yang unik dengan Dia. Menurut Hosea 2:18-20, inilah pemberian-pemberian yang Allah karuniakan atas umat-Nya pada pembaruan perjanjian itu" [alinea pertama].
Dosa paling serius. Bangsa Israel purba terlibat dalam berbagai pelanggaran atas perintah-perintah Allah yang telah mereka sanggupi untuk taati, dan puncak dari pelanggaran-pelanggaran mereka ialah penyembahan berhala. Padahal sebelum bangsa itu memasuki tanah perjanjian Kanaan, dalam sebuah upacara perpisahan dengan Musa yang tidak ikut masuk bersama mereka, pemimpin besar itu dengan wanti-wanti sudah berpesan: "Jangan menyembah ilah-ilah lain yang disembah bangsa-bangsa yang tinggal di sekitarmu. Bila kamu menyembah ilah-ilah lain, maka kamu akan ditimpa kemarahan TUHAN Allahmu dan dibinasakan sama sekali, sebab TUHAN Allahmu yang ada di tengah-tengahmu tak mau disamakan dengan apa pun" (Ul. 6:14-15, BIMK). Pesan ini terus diulang-ulanginya (baca Ul. 7:4; 8:19; 11:16, 28; 13:2, 6, 13; 16:22; 17:3; dst.) Pesan itu juga kembali diingatkan oleh Yosua, penerus Musa, yang mengantar bangsa itu masuk ke Kanaan (Yos. 23:16), dan bangsa itu sekali lagi berjanji: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!" (Yos. 24:16).
Tetapi janji tinggal janji, dan apa yang mereka lakukan pada zaman Hosea sangat mengerikan. Mereka bukan saja menyembah patung dan dewa Baal saja, tetapi sampai meminta petunjuk kepada tongkat kayu (Hos. 4:12), mempersembahkan kurban dan membakar dupa di bawah pohon-pohon besar (ay. 13), dan bersetubuh dengan para pelacur di kuil-kuil orang Kanaan dengan harapan untuk mendatangkan kesuburan pada ternak dan ladang-ladang mereka (ay. 14) yang mengalami kekeringan akibat hukuman Tuhan. Begitu bersemangatnya bangsa itu dalam penyembahan berhala sampai Tuhan berkata, "Umat Israel sudah terpikat oleh berhala. Sebab itu biarkanlah mereka" (ay. 17, BIMK).
"Dalam Perjanjian Lama, penyembahan berhala dianggap sebagai dosa paling serius karena hal itu menyangkal peranan Tuhan Allah dalam kehidupan bangsa dan secara pribadi. Disebabkan oleh iklim yang kering, hujan di negeri Israel adalah masalah hidup dan mati. Orang Israel sampai kepada keyakinan bahwa berkat-berkat mereka, seperti hujan yang memberi kehidupan, adalah berasal dari Baal. Jadi, mereka membangun kuil-kuil bagi allah-allah asing dan mulai mencampur-adukkan hal yang tidak bermoral dengan peribadatan" [alinea ketiga].
Apa yang kita pelajari tentang tuduhan Allah atas Israel?
1. Tuhan mempunyai dasar hukum untuk menuntut Israel purba atas kejahatan dan dosa mereka, yakni perjanjian yang disepakati oleh nenek moyang bangsa itu. Dalam tradisi budaya bangsa Israel purba, perjanjian yang dilakukan oleh leluhur mereka mengikat sampai turun-temurun.
2. Tindakan wanprestasi (ingkar janji) paling besar yang dilakukan oleh generasi penerus Israel pada zaman nabi-nabi terakhir, khususnya Hosea, adalah penyembahan berhala. Allah sangat membenci penyembahan berhala sebab hal itu merupakan penyangkalan atas eksistensi Allah dan kuasa pemeliharaan-Nya.
3. Penyembahan berhala bukanlah "dosa fosil" dalam arti hanya terjadi pada umat Tuhan zaman purba saja. Pada zaman moderen ini penyembahan berhala dipraktikkan di kalangan umat Tuhan dalam bentuk idola kekayaan, kepelesiran, ketenaran, pangkat, jabatan, dsb.
Kamis, 4 April
TUJUAN PEKABARAN HOSEA (Panggilan Untuk Bertobat)
Tuhan menyelamatkan. Bukan kebetulan bahwa nama Hosea mengandung arti "Tuhan menyelamatkan." Sebagian pelajar Alkitab berspekulasi bahwa nama Hosea (Ibrani: ืืֹืฉֵׁืขַ, Hoshea; Grika: แฝจฯฮทฮญ, ลsฤรฉ) adalah nama yang diberikan Tuhan ketika Ia memanggil nabi itu untuk menjadi jurukabar-Nya. Tetapi memang secara tradisional pemberian nama anak di kalangan masyarakat Yahudi selalu dikaitkan dengan sesuatu makna, khususnya pada zaman Perjanjian Lama.
Menurut tradisi, orang Yahudi hanya memiliki satu nama dan tidak mempunyai nama keluarga (marga atau fam), tapi menggunakan pola patronymics yang ditandai dengan ben (anak laki-laki dari) dan bat (anak perempuan dari). "Ben" dan "bat" adalah kata sisipan spesifik dari nama seseorang, yang padanannya dalam tradisi bangsa Arab adalah bin (untuk anak laki-laki) dan binti (untuk anak perempuan). Penggunaan nama keluarga dalam masyarakat Yahudi moderen mulai dikenal pada tahun 1787 ketika undang-undang kekaisaran Austro-Hungarian yang menguasai sebagian besar wilayah Eropa waktu itu (benua di mana terdapat banyak pemukim Yahudi) mengharuskan setiap orang menyandang nama keluarga di belakang nama kecil. Itulah sebabnya nama-nama keluarga Yahudi moderen sangat berbau Jerman, bahasa resmi pada masa itu, yang di kemudian hari banyak dari mereka yang berbondong-bondong hijrah ke Amerika.
"Nama Hosea dalam bahasa Ibrani berarti 'Tuhan menyelamatkan,' dan berhubungan dengan nama-nama Yosua, Yesaya dan Yesus. Sang nabi menyerukan bangsa itu untuk menolak dosa dan menemukan perlindungan di dalam Tuhan Allah mereka karena Dialah Pencipta dan Penebus mereka. Tujuan dari penghakiman ilahi ialah untuk mengingatkan orang-orang berdosa bahwa hidup dan kekuatan mereka berasal dari Dia kepada siapa mereka harus kembali" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].
Kurang pengetahuan? Hosea meminta perhatian bangsa Israel yang murtad itu dengan berkata, "Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini...Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu..." (Hos. 4:1, 6; huruf miring ditambahkan). Jadi, dalam kasus bangsa Israel purba di zaman Hosea, apabila nanti umat Tuhan binasa itu bukan karena Allah telah kehilangan kasih dan kekuatan-Nya, melainkan itu adalah akibat dari penolakan mereka untuk mengenal Allah dengan lebih akrab dan lama-kelamaan mereka menjadi tidak mengenal Dia lagi.
Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan mengenal dalam ayat-ayat di atas adalah ืַּืขַืช, da`ath, yang artinya pengetahuan atau pengertian. Agak aneh kedengarannya bahwa satu bangsa yang secara turun-temurun kehidupan mereka dijalankan menurut aturan-aturan dan ketetapan-ketetapan Allah, tetapi mereka tidak mengenal dan tidak mempunyai pengetahuan tentang Allah itu sendiri. Janggal rasanya bahwa satu umat yang sejak kecil diajarkan tentang hukum-hukum Allah, dan setiap hari menyebut-nyebut nama Allah, tetapi mereka tidak memiliki pengertian yang cukup tentang siapa itu Allah. Mengapa? Karena mereka itu "menolak" untuk mengenal Allah.
"Sebaliknya, melalui iman dan penurutan mereka bisa datang untuk mengenal Tuhan bagi diri mereka sendiri. Pengetahuan ini dapat menjadi dekat dan juga intim. Itulah persisnya mengapa berulang-ulang kali perkawinan adalah lambang dari jenis hubungan yang Tuhan inginkan dengan kita...Itu juga mengapa kehidupan Kristiani terdiri utamanya dari satu hubungan dengan Allah yang hidup. Itulah sebabnya mengapa Tuhan memanggil orang banyak itu untuk mengenal Dia dan mengikuti kehendak-Nya bagi kehidupan mereka" [alinea ketiga dan keempat].
Tantangan yang sama. Bukankah umat Tuhan zaman sekarang pun bisa menghadapi tantangan dan cobaan serupa? Banyak di antara kita yang mengaku sebagai orang Kristen, yang menyebut-nyebut nama Tuhan dan beribadah sebagai layaknya umat Tuhan, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan dengan sesungguhnya. Banyak orang Kristen yang mengaku memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi pengetahuan mereka "belum juga mencapai pengetahuan sebagaimana yang harus dicapainya" (1Kor. 8:2). Oleh karena kita tidak mengenal Allah dengan sempurna, maka kita juga tidak mengasihi Dia dengan sempurna.
Pena inspirasi menulis: "Keadaan umat Tuhan zaman ini serupa dengan Israel yang musyrik. Banyak yang membawa nama Kristen sedang melayani ilah-ilah lain di samping Tuhan. Pencipta kita menuntut pengabdian kita yang tertinggi, kesetiaan kita yang pertama. Apapun yang cenderung mengurangi kasih kita kepada Allah, atau yang menghalangi pelayanan kita kepada-Nya, itu menjadi suatu berhala...Kita harus mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati. Tidak kurang dari penurutan terhadap setiap hukum--tidak kurang dari kasih tertinggi kepada Allah yang setara dengan kasih kepada sesama manusia" (Ellen G. White, Signs of the Times, 26 Januari 1882).
Apa yang kita pelajari tentang panggilan Tuhan untuk bertobat?
1. Nama nabi Hosea itu sendiri sudah merupakan sebuah pekabaran, yaitu "Tuhan menyelamatkan." Allah memilih Hosea menjadi jurukabar kepada bangsanya, untuk mengamarkan mereka akan dosa-dosa mereka dan memanggil mereka kembali kepada Allah yang menjadi sumber kehidupan.
2. Tampaknya bangsa Israel pada zaman itu mengalami masalah yang besar, yakni tidak cukup mengenal Allah nenek moyang mereka, dan akibatnya mereka mudah terpengaruh untuk menyembah berhala-berhala kafir seperti yang dipraktikkan oleh bangsa-bangsa tetangga mereka.
3. Bangsa Israel purba tidak meninggalkan Allah sama sekali, tetapi mereka mencampuradukkan peribadatan kepada Allah yang benar dengan penyembahan kepada allah-allah palsu. Umat Tuhan zaman moderen ini juga tak luput dari cobaan serupa, mengidolakan hal-hal duniawi sambil beribadah kepada Allah surgawi.
Jumat, 5 April
PENUTUP
Arti kesetiaan. Kalau ada seorang nabi yang paling menyelami bagaimana perasaan Allah terhadap umat-Nya, Hosea adalah orangnya. Kehidupan rumahtangga Hosea adalah sebuah pengalaman kepahitan. Gomer adalah seorang istri yang telah membuat hati sang nabi hancur berkeping-keping, barangkali tubuhnya pun sudah menjadi kurus kering. Namun kasih sayang Hosea terhadap istrinya itu tidak pernah surut. Seperti Hosea, hati Allah telah sangat disakiti oleh "petualangan cinta" bangsa Israel purba yang terus melakukan perzinaan rohani, padahal mereka sudah menikmati kenyamanan hidup karena berkat-berkat Tuhan. Pengalaman pribadinya membuat Hosea semakin mengerti apa artinya kesetiaan dalam hubungan perkawinan.
"Sementara waktu berlalu, Hosea menjadi sadar akan kenyataan bahwa nasib diri pribadinya adalah cermin dari rasa kesedihan ilahi, bahwa penderitaannya menggemakan kesedihan Allah. Dalam penderitaan orang ini sebagai sebuah lakon simpati bersama rasa kesedihan ilahi, sang nabi mungkin melihat arti dari perkawinan yang telah dia ikat atas perintah ilahi..." [alinea pertama].
Dalam hubungan perkawinannya yang nyata dengan Gomer, istrinya yang suka berselingkuh, Hosea tidak saja memperagakan kasih Allah yang tak kunjung padam tetapi juga kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Sebagaimana Hosea tetap sayang dan setia kepada istrinya yang pezina itu--setidaknya hal itu terlihat dari kesediaannya untuk menebus Gomer dari tangan mucikarinya--demikianlah Allah tetap mengasihi dan setia kepada umat Israel yang terus melakukan perzinaan rohani. Seperti kata rasul Paulus, "Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sekali-kali tidak!" (Rm. 3:3, 4).
Sebagaimana Allah menunjukkan kesetiaan kasih-Nya kepada Israel purba, demikianlah Ia akan menunjukkan kesetiaan kasih-Nya kepada umat-Nya di zaman moderen. Panggilan untuk bertobat yang diserukan oleh Hosea tetap berkumandang kepada kita semua pada zaman ini, supaya bila kita menyambut seruan pertobatan itu maka kita pun beroleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan kembali berkat-berkat yang telah hilang. "Dalam bahasa simbolik Hosea membentangkan di hadapan sepuluh suku itu rencana Allah untuk memulihkan setiap jiwa yang menyesali dosanya, dan yang mau bersatu dengan gereja-Nya di bumi, berkat-berkat yang dikaruniakan kepada Israel di masa-masa kesetiaan mereka di Tanah Perjanjian" [alinea ketiga: kalimat pertama].
"Aku mau mendengar perkataan TUHAN Allah; Ia menjanjikan kesejahteraan kepada kita, umat-Nya, asal kita tidak kembali berbuat dosa. Sungguh, Ia siap menyelamatkan orang yang takwa, Allah yang agung akan berdiam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai akan berpeluk-pelukan. Kesetiaan manusia akan tumbuh dari bumi, dan keadilan Allah menjenguk dari langit" (Mzm. 85:9-12, BIMK).
Perzinaan Rohani (Hosea)
Written By Unknown on Sabtu, 06 April 2013 | 08.30
PELAJARAN KE-I; 6 April 2013
"PERZINAAN ROHANI (HOSEA)"
"PERZINAAN ROHANI (HOSEA)"
PRAWACANA:
Sub-judul dari seri pendalaman Alkitab sepanjang triwulan ini--Pelajaran Sekolah Sabat (Dewasa)--ialah "Pelajaran-pelajaran Besar dari Para Nabi Kecil." Istilah "nabi kecil" yang digunakan di sini merupakan terjemahan dari "minor prophets" dalam bahasa Inggris, di mana sebutan "kecil" di sini bukan berarti tidak penting atau sepele, baik menyangkut pribadi para nabi itu maupun pekabaran mereka. Bahkan, seperti akan kita lihat nanti, mereka adalah nabi-nabi dengan kepribadian raksasa dan pekabaran-pekabaran mereka juga sangat penting serta relevan hingga pada zaman kita sekarang. "Nabi-nabi Kecil" adalah sebutan yang dipopulerkan oleh St. Augustine (354-430 AD), seorang uskup agung gereja Katolik Roma yang amat berpengaruh.
Penyebutan "kecil" di sini adalah julukan yang semata-mata berkaitan dengan ukuran atau panjangnya pekabaran mereka (yang terpendek hanya 1 pasal, terpanjang 14 pasal), dibandingkan dengan tulisan empat "nabi besar" (major prophets)--Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan Daniel--yang tulisan-tulisannya sampai berpuluh-puluh pasal panjangnya. Namun, singkatnya tulisan mereka tidak menggambarkan masa pelayanan mereka yang pendek. Hosea, misalnya, tugas kenabiannya berlangsung sekitar 40 tahun. Begitu juga, pekabaran mereka mengandung unsur-unsur yang sama dengan pekabaran dari nabi-nabi besar yang meliputi (a) uraian tentang dosa-dosa umat Tuhan, (b) amaran penghukuman akibat dosa, (c) uraian tentang penghukuman yang sedang datang, (d) seruan pertobatan, dan (e) janji kelepasan bila mereka bertobat. Mungkin, karena singkatnya tulisan-tulisan mereka, lebih tepat jika keduabelas nabi terakhir bagi bangsa Israel itu disebut sebagai "nabi-nabi mini" (seperti yang digunakan oleh Wikipedia).
Dalam bahasa aslinya (bahasa Aram), kumpulan tulisan-tulisan dari para nabi kecil atau mini tersebut dinamai ืชืจื ืขืฉืจ, Trei Azar, yang berarti "Dua Belas" atau juga dijuluki "Kitab Dua Belas" sesuai dengan jumlah mereka yang 12 orang itu. Berturut-turut adalah Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi, yang dalam Alkitab PL tertera sebagai kitab-kitab terakhir. Urutan ini tidak merepresentasikan urutan masa pelayanan mereka yang diperkirakan telah dimulai sebelum masa pembuangan orang Israel ke Babel, sejak diutusnya nabi Yunus ke kota Niniwe (tahun 800-an SM) sampai yang terakhir adalah masa pelayanan nabi Maleakhi (tahun 430-an SM) setelah pemulangan mereka ke Yerusalem.
Dalam susunan Kitabsuci Ibrani yang terdiri atas tiga kelompok--Torah (Lima Kitab Musa: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), Nevi'im (Kitab Para Nabi), dan Kethuvim (Kumpulan Tulisan)--pekabaran dari keduabelas nabi mini tersebut termasuk dalam kelompok Nevi'im sebagai bagian kedua dengan tajuk "Nabi-nabi Terakhir" bersama kitab-kitab nabi Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel (bagian pertama bertajuk "Nabi-nabi Permulaan" yang berisi kitab Yosua, Hakim-Hakim, 1&2 Samuel, 1&2 Raja-raja). Kitab nabi Daniel sendiri digolongkan sebagai "Kitab Sejarah" yang ditempatkan pada bagian ketiga dari Kethuvim (dua bagian pertama ialah "Syair" dan "Lima Gulungan").
Sepanjang dua Sabat pertama triwulan ini, 6 & 13 April, pembahasan pelajaran kita bertumpu pada pekabaran dalam kitab Hosea yang melayani pada masa pemerintahan raja-raja Uzia (767-739 SM), Yotam (739-731 SM), Ahas (731-715 SM), dan Hizkia (715-686 SM) dari kerajaan Yehuda di selatan, dan pemerintahan raja Yerobeam II (782-752 SM) dari kerajaan Israel di utara (Hos. 1:1). Sebenarnya, fokus pelayanan nabi Hosea adalah kerajaan Israel di utara di mana dia telah menjadi saksi penobatan dan kejatuhan dari enam raja Israel, meskipun di awal tulisannya dia hanya menyebut salah satu nama saja dari mereka sedangkan lainnya adalah nama raja-raja kerajaan Yehuda di selatan. Hosea melayani selama 40 tahun, 760-720 SM, yaitu 250 tahun sesudah pemerintahan raja Daud ketika Israel masih bersatu, atau 650 tahun setelah bangsa pilihan itu mewarisi negeri perjanjian Kanaan.
Nama Hosea (Ibrani: ืืֹืฉֵׁืขַ, Hoshea) itu sendiri artinya "keselamatan." Kata ini berasal dari akar kata ืָืฉַׁืข, Yashua, yaitu akar kata yang sama dengan nama Yoshua dan Yesus yang juga berarti "keselamatan" atau "kelepasan." Ketiga nama ini membawa pesan yang serupa, ialah bahwa "Tuhan adalah keselamatan." Tema pekabaran nabi Hosea adalah tentang Allah yang menyelamatkan, dan kehidupannya sendiri merupakan alegori (kiasan) dari pekabaran Tuhan yang disampaikannya kepada bangsa Israel. Sekalipun bangsa itu adalah bangsa yang murtad, yang melakukan perzinaan rohani dengan menyembah berhala-berhala kafir, namun Allah tetap mengasihi mereka dan ingin menerima kembali bilamana mereka bertobat.
Sabat Petang, 30 Maret
PENDAHULUAN
Pelayanan totalitas. Cuma Hosea yang dipanggil Allah untuk menjadi jurukabar dengan berbicara lewat mulutnya dan juga melalui peragaan kehidupan rumahtangganya yang nyata. Jadi, selain berkhotbah Hosea juga "mengorbankan" kehidupan pribadinya sendiri menjadi sebagai lambang pekabarannya. Tuhan memerintahkannya untuk dengan sengaja mengawini Gomer, seorang PSK (pekerja seks komersial), untuk melambangkan Israel sebagai "negeri bersundal" (Hos. 1:2). Sungguh ini merupakan sebuah pelayanan yang bersifat totalitas dari seorang jurukabar Tuhan, sesuatu yang mungkin hanya seorang Hosea dapat melakukannya.
"Kisah pribadi dan nubuatan Hosea terjalin ke dalam kitab ini secara tak terpisahkan. Sama seperti nabi itu telah mengampuni istrinya yang tidak setia dan bersedia untuk menerimanya kembali, demikianlah Allah bersedia berbuat hal yang sama bagi umat-Nya...Apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman Hosea dan cara Allah memperlakukan ketidakpatuhan Israel?" [alinea ketiga dan keempat].
Dosa bangsa Israel disamakan dengan persundalan, atau perzinaan rohani, oleh sebab sementara mereka mengaku sebagai umat Allah dan mengadakan upacara-upacara keagamaan secara tradisional, pada waktu yang sama mereka juga beribadah kepada ilah-ilah kafir atau berhala-berhala orang Kanaan. Tetapi kemurtadan bukanlah perzinaan rohani umat Israel purba saja, perzinaan rohani adalah juga "penyakit" yang diidap oleh umat Israel rohani pada zaman ini.
Namun demikian, sebagaimana pada zaman Hosea dulu Allah bersedia untuk menerima kembali dan mengasihi bangsa pendurhaka itu, Allah yang sama juga tetap mau untuk menerima kembali dan mengasihi umat-Nya yang berzina dan murtad pada zaman ini. Dalam bahasa Ibrani, gomer berasal dari akar kata yang sama dengan gamar yang artinya berakhir atau berhenti, yang mungkin melambangkan berakhir dan berhentinya kesetiaan Israel, tetapi kasih Allah terhadap umat-Nya itu tidak pernah berhenti apalagi berakhir. Dan sebagaimana pelayanan totalitas Hosea, demikian pula kasih Allah kepada manusia bersifat total dan tidak setengah-setengah.
Minggu, 31 Maret
MEMPERAGAKAN PEKABARAN ALLAH (Perintah yang Aneh)
Kepatuhan seorang hamba Tuhan. Karena sifat pekerjaannya, seorang calon pendeta dituntut untuk mempertimbangkan masak-masak ketika memilih teman hidup atau istri. Tetapi tidak bagi Hosea. "Kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal," perintah Tuhan kepadanya (Hos. 1:2). Perintah yang aneh? Tidak bagi Hosea. Hamba Tuhan ini menuruti perintah itu tanpa ragu, mengambil Gomer lalu menikahinya dan lahirlah anak pertama, seorang anak laki-laki (ay. 3).
Apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika membaca adegan awal dari cerita ini? Keluguan Hosea, atau kepatuhannya? Sebagian komentator Alkitab meragukan apakah perkawinan Hosea dengan Gomer adalah sebuah kisah nyata, mungkin itu hanya sebuah cerita perumpamaan saja oleh sebab rasanya mustahil kalau Tuhan membiarkan apalagi menyuruh seorang nabi kawin dengan pelacur. Tetapi sebagian komentator berpendapat bahwa justeru kisah perkawinan Hosea dan Gomer dimaksudkan untuk menjadi sebuah perumpamaan yang nyata dan hidup, untuk menggambarkan kasih Allah yang mengampuni terhadap ketidaksetiaan bangsa Israel seperti yang diperagakan oleh Hosea. Kalau perkawinan itu bukan sebuah kenyataan, berarti pengampunan Allah terhadap pendurhakaan manusia juga bukan suatu kenyataan.
"Kita tidak tahu kepastiannya. Akan tetapi satu hal adalah pasti: ketika Tuhan berbicara kepada Hosea dan melalui dia, Ia ingin mengalihkan perhatian umat manusia dari cerita Hosea kepada kisah cinta Allah dengan Israel. Karena Gomer adalah bangsa Israel, kisah perkawinannya dengan sang nabi berpadu dengan riwayat perjanjian Allah dengan Israel...Sama seperti amoralitas Gomer menyakiti hati suaminya, demikianlah kemusyrikan Israel mendukakan hati Allah. Hosea dipanggil untuk menanggung hati yang patah dan perkawinan yang hancur. Dia tentu telah merasakan kemarahan dan celaan orang banyak. Namun, semakin dia mengalami ketidaksetiaan Gomer, semakin mendalam pemahamannya akan kepedihan dan kekecewaan Allah terhadap Israel" [alinea kedua; alinea ketiga: empat kalimat terakhir].
Bukan hanya berkhotbah. Pengalaman hidup Hosea barangkali adalah yang paling ekstrem, namun bukan dia saja yang diperintahkan Allah menjalani hal-hal nyata untuk menjadi perumpamaan yang hidup demi mempertegas pekabaran-Nya. Nabi-nabi "besar" seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel juga mendapat perintah memperagakan perbuatan-perbuatan yang ganjil dalam rangka memberi bobot tambahan terhadap pekabaran Allah kepada umat-Nya. Untuk menyampaikan pekabaran yang penting dan mendesak kepada manusia pada umumnya, dan terhadap umat-Nya secara khusus, terkadang berkhotbah saja tidak cukup.
Contohnya, Yesaya selama tiga tahun harus bepergian keluar rumah tanpa mengenakan jubah luar dan kasut--sehingga dianggap seperti "telanjang" menurut tatakrama budaya pada masa itu--sebagai pertanda bahwa Tuhan akan mempermalukan Mesir dan Etiopia yang menjadi andalan Israel (Yes. 20:1-6). Juga Yeremia disuruh mengenakan gandar kayu dengan tali pengikat pada lehernya sebagai alat peraga saat dia harus berbicara kepada para utusan dari raja-raja kafir yang menghadap raja Israel, Zedekia, untuk mengibaratkan beban yang akan ditanggungkan ke atas mereka melalui raja Babel (Yer. 27:1-7). Yehezkiel pun disuruh membuat miniatur kota Yerusalem dengan pasukan-pasukan musuh mengepung kota itu, dan nabi itu harus tidur pada posisi badan sebelah kiri sambil matanya menatap kepada miniatur tersebut selama 390 hari yang melambangkan 390 tahun hukuman yang akan didatangkan ke atas kota itu (Yeh. 4:1-6).
Pena inspirasi menulis: "Sebagian dari para pemimpin Israel sangat merasa kehilangan gengsi mereka dan berharap bahwa hal ini bisa dipulihkan. Tapi gantinya berbalik dari praktik-praktik yang telah mengakibatkan kelemahan pada kerajaan itu, mereka terus berbuat kelaliman, memuji diri bahwa apabila muncul kesempatan mereka akan meraih kekuasaan politik yang mereka inginkan oleh bersekutu dengan orang kafir...Melalui hamba Tuhan yang muncul di hadapan mezbah di Betel, melalui Elia dan Elisa, melalui Amos dan Hosea, Tuhan telah berulang-ulang menghadapkan kepada sepuluh suku itu kejahatan dari ketidakpatuhan. Tetapi kendati ada teguran dan desakan, Israel terbenam lebih dalam dan semakin merosot dalam kemurtadan" (Ellen G. White, Prophets and Kings, hlm. 281).
Apa yang kita pelajari tentang "perintah aneh" yang harus dijalani nabi Tuhan?
1. Hosea adalah seorang nabi penurut yang diutus kepada umat yang tidak menurut. Dalam kepatuhannya, Hosea rela mengorbankan kebahagiaan dirinya demi tuntutan tugas. Betapa berbeda sikap nabi Tuhan ini dengan banyak hamba Tuhan zaman ini yang menempatkan kesenangan diri di atas pengabdian.
2. Dalam keadaan-keadaan tertentu, dan demi keberhasilan dalam menyampaikan pekabaran Tuhan, acapkali berkhtobah saja tidak cukup. Meski tidak harus berbuat seperti Hosea, namun dibutuhkan kesediaan untuk menjadikan kehidupan kita sendiri sebagai contoh dan pekabaran yang hidup.
3. Pekabaran nabi Hosea tetap relevan bagi umat Tuhan sepanjang zaman, khususnya pada masa sekarang ini. Banyak umat Tuhan zaman ini yang, disadari atau tidak, sedang berbuat dosa yang sama dengan bangsa Israel purba. Sambil beribadah kepada Tuhan kita juga "menyembah" ilah keduniawian.
Senin, 1 April
AKIBAT RASA TIDAK PUAS (Perzinaan Rohani)
Penyebab ketidaksetiaan. Gomer adalah personifikasi dari ketidaksetiaan dan perselingkuhan. Barangkali bisa dipertanyakan, Mungkinkah mengharapkan kesetiaan dari seorang perempuan PSK? Betul, Hosea mengawini Gomer yang notabene adalah wanita pelacur. Bisa jadi pada waktu dilamar perempuan itu berjanji akan berhenti dari profesi yang selama ini dilakoninya, bukankah diperistri oleh lelaki baik-baik (hamba Tuhan!) adalah suatu anugerah? Normalnya, tidak ada wanita yang bercita-cita menjadi PSK. Lazimnya, perempuan yang terjun ke dunia prostitusi bukan untuk membangun karir, tapi semata-mata untuk mencari nafkah dengan jalan gampang. Pelacur manapun mengidam-idamkan seorang suami yang mampu menyediakan penghidupan yang layak dengan siapa dia berharap untuk hidup bahagia. Kenyataannya, Gomer bukan tipe perempuan yang "normal" seperti itu.
Saya teringat kepada seorang teman, mantan pebulutangkis nasional yang telah malang-melintang dalam berbagai kompetisi dunia dan menjadi juara di berbagai kejuaraan internasional. Sayangnya--atau lebih tepat lagi, sialnya--kawan ini jatuh cinta pada seorang gadis yang ternyata seprofesi dengan Gomer. Perkawinan tersebut menjadi penyebab utama kemunduran prestasinya yang terlalu cepat, sebab istrinya itu tidak sama sekali meninggalkan dunianya yang lama hampir setiap kali suaminya bepergian mengikuti turnamen-turnamen di luar kota atau di mancanegara. Dengan berbagai hadiah uang dan barang berharga yang diterimanya dari para sponsor maupun pemerintah, sudah pasti kekayaannya cukup berlimpah. Apa lagi yang dicari? "Istri saya itu tidak pernah puas dengan apa yang dia dapat," katanya dengan nada sendu bercampur kesal. Memang teman saya itu bukan Hosea, maka mereka pun bercerai.
Barangkali alasan dari ketidaksetiaan bangsa Israel purba juga sama, ketidakpuasan. Tuhan sudah memerdekakan mereka dari perhambaan di Mesir dan mengantar mereka ke tanah perjanjian untuk menjadi satu bangsa yang berdaulat, tangguh dan diberkati. Tetapi itu semua seakan tidak cukup, sambil mengaku sebagai umat Tuhan mereka berselingkuh dengan dewa-dewa kafir dan menyembah berhala-berhala Kanaan. Bangsa Israel "telah berzina dengan banyak kekasih" (Yer. 3:1) dan menjadi seperti seorang "istri yang berzina, yang memeluk orang-orang lain gantinya suaminya sendiri" (Yeh. 16:32). Israel purba tidak puas dengan apa yang telah mereka terima dari Tuhan, bukan karena masih kurang tetapi karena keserakahan.
Mengingkari berkat Tuhan. Tidak cukup dengan menyembah berhala-berhala asing, bangsa Israel purba juga melakukan sesuatu yang keji dan amat menyakitkan hati Allah. Bayangkan saja, mereka sudah menerima berbagai kelimpahan berkat Tuhan, tapi gantinya bersyukur malah mereka mengaku itu semua berasal dari dewa-dewa kafir yang mereka sembah. "Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku...tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal" (Hos. 2:4, 7).
"Pada zaman Hosea, bangsa itu sangat tidak tahu berterimakasih kepada Allah, begitu terkungkung dalam dunia di sekitar mereka, sehingga mereka mempersembahkan pemberian-pemberian yang sebenarnya diberikan oleh Tuhan untuk mereka itu kepada berhala-berhala palsu mereka. Betapa ini menjadi sebuah amaran kepada semua kita agar pemberian-pemberian yang telah diberikan kepada kita harus digunakan dalam pelayanan Tuhan, bukan dalam cara-cara yang tidak pernah dimaksudkan untuk itu (Mat. 6:24)" [alinea ketiga: dua kalimat terakhir].
Jadi, sebagai umat Tuhan kita bisa terjebak ke dalam perzinaan rohani bukan hanya dengan cara menyembah berhala kafir, dalam arti kata yang sesungguhnya maupun kiasan. Anda dan saya pun dapat terjerat ke dalam dosa yang sama dengan Israel purba apabila kita mengingkari berkat-berkat Tuhan dengan cara menyombongkannya seolah-olah itu adalah hasil kemampuan kita sendiri dan berasal dari keberuntungan nasib, atau jika kita menggunakan berkat-berkat Tuhan itu untuk tujuan-tujuan yang bersifat mementingkan diri. Sebab perzinaan rohani pada hakikatnya adalah setiap pemikiran dan perilaku yang tidak mengakui pemeliharaan Allah dan tidak mengutamakan Tuhan dalam peribadatan kita.
Apa yang kita pelajari tentang perzinaan rohani?
1. Ketidaksetiaan seringkali timbul karena adanya rasa tidak puas dalam hati. Tidak puas dengan keadaan kita dan dengan apa yang kita miliki, selanjutnya akan memicu anda dan saya untuk berusaha meraih apa yang kita inginkan dengan cara kita sendiri.
2. Sebagai umat percaya, kita adalah ibarat "perawan suci yang telah dipertunangkan kepada Kristus" (2Kor. 11:2), oleh sebab Kristus adalah bagaikan suami bagi jemaat (Ef. 5:22-27). Kesetiaan adalah kewajiban yang terutama dan tak tergantikan dalam suatu ikatan perkawinan.
3. Segala bentuk ketidaksetiaan rohani pada prinsipnya adalah perzinaan rohani. Setiap umat Tuhan dapat terjebak ke dalam keadaan ini jika tidak berhati-hati dalam menilai dan memanfaatkan setiap berkat Tuhan secara tepat dan benar.
Selasa, 2 April
INJIL DALAM KITAB HOSEA (Sebuah Janji Pemulihan)
Pengampunan sesudah hukuman. Seperti yang kita baca dalam kitab Hosea pasal pertama, Gomer melahirkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Putra pertama bernama Yizreel (ืִืְืจְืขֶืื, artinya: Allah menabur); anak kedua, perempuan, dinamai Lo-Ruhama (ืֹื ืจֻืָืָื, artinya: tiada pengampunan); dan anak ketiga, laki-laki, dinamai Lo-Ami (ืֹื ืขַืִּื, artinya: bukan umatku). Berdasarkan perilaku ibu mereka yang tidak setia terhadap suami, dan pernyataan Tuhan "pernakkanlah anak-anak sundal" (Hos. 1:2), banyak komentator Alkitab cenderung berpendapat bahwa ketiganya bukan anak-anak Hosea tapi anak-anak haram tanpa ayah yang jelas. Bahkan mereka percaya Gomer tadinya adalah perempuan baik-baik tetapi kemudian berbuat serong dan menjadi pelacur setelah kawin dengan Hosea, sesuai dengan skenario yang sudah diketahui oleh sang nabi. Namun itu hanya pendapat, dan tidak ada ayat yang menjadi patokan untuk pandangan tersebut.
Ada sedikit perbedaan isi antara versi TB (Terjemahan Baru) dengan versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) dari kitab Hosea pasal 2. Dalam versi TB--seperti juga versi TL (Terjemahan Lama)--pasal ini hanya terdiri atas 22 ayat, sedangkan dalam versi BIMK--seperti juga versi King James--terdapat 23 ayat. Hal ini karena dalam versi BIMK dan KJV pasal ini dimulai dengan penyebutan nama anak-anak Hosea yang kedua dan ketiga, sedangkan pada versi TB tidak menyebutkannya tetapi langsung kepada desakan kepada kedua anak itu (yang melambangkan rakyat Israel) untuk berbantah dengan ibu mereka (melambangkan para pemimpin Israel). Versi King James memulai pasal 2 (ay. 1) dengan kalimat, "Say ye unto your brethren, Ammi; and to your sisters, Ruhamah" (Katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki, Ami; dan katakanlah kepada saudara-saudaramu perempuan, Ruhama). Dalam versi BIMK bunyinya menjadi, "Karena itu panggillah sesamamu dengan nama "Umat Allah" dan "Dikasihani TUHAN" (ay. 1). Lo dalam bahasa aslinya adalah kata negatif yang berarti tidak, bukan, atau tanpa.
Berdasarkan kata-kata pembukaan dari pasal 2 (Hosea 2:1, BIMK) tersebut kita dapati bahwa Allah menawarkan kembali pengampunan kepada bangsa itu. Fakta bahwa Ia ingin mereka menyapa sesamanya dengan "umat Allah" dan "dikasihani Tuhan" menunjukkan bahwa Allah menyediakan pengampunan bagi mereka, sesudah mereka menjalani hukuman atas pendurhakaan itu. "Pekabaran Hosea menyajikan kebenaran mendasar dari kasih Allah yang teguh bagi satu umat yang tidak layak. Hosea 2 berisi sebuah khotbah yang panjang oleh Tuhan tentang kemurtadan Israel, yang kemudian dibedakan dengan kasih Allah yang tak kunjung padam bagi umat-Nya. Sesudah pehukuman, sang suami akan menuntun sang istri pada sebuah perjalanan ke padang belantara di mana mereka akan dinikahkan kembali" [alinea pertama].
Harga sebuah pengampunan. Kasih Allah yang luar biasa dan ajaib ditunjukkan dalam kerinduan dan tindakan-Nya untuk rujuk dengan umat yang telah berkhianat itu. Allah yang sesungguhnya lebih dulu mengambil inisiatif untuk memulihkan hubungan dengan umat-Nya. Hal ini diperagakan oleh Hosea dengan menebus kembali Gomer, istrinya, yang rupanya sudah balik lagi ke rumah bordil dan menjual diri kepada mucikari. Perintah Tuhan kepada sang nabi menjelaskan segalanya, "Pergilah lagi dan cintailah seorang wanita yang suka berzinah. Cintailah dia seperti Aku juga mencintai orang Israel sekalipun mereka meninggalkan Aku dan menyembah ilah-ilah lain serta suka mempersembahkan kue kismis kepada berhala" (Hos. 3:1, BIMK).
Menurut hukum Musa, apabila seorang istri sudah keluar dari rumah suaminya lalu tidur dengan laki-laki lain, sang suami tidak boleh menebusnya kembali dan membawanya pulang, "sebab hal itu adalah kekejian di hadapan Tuhan" (Ul. 24:1-4). Apalagi, Gomer minggat dari rumah suaminya untuk pergi berzina (Mat. 19:7-9). Namun nabi yang sangat penurut itu tidak ingin berbantah dengan Tuhan sekalipun dia mempunyai alasan yang sah untuk menolak perintah itu, sebab dia tahu bahwa dirinya tengah memerankan skenario Allah agar pekabaran penting kepada bangsanya dapat dipahami. Sesungguhnya, inilah Injil dalam kitab Hosea.
Hosea patuh pada perintah Tuhan sekalipun dia harus mengorbankan harga dirinya dan juga hartanya (Hos. 3:2). Bahkan, Hosea sedang memperagakan kasih Allah kepada manusia berdosa melalui kehidupan pribadinya yang nyata, sebuah peragaan yang tidak ada nabi lain manapun pernah melakukannya. Hanya seorang hamba Tuhan sejati yang mau melayani secara totalitas dan rela mengorbankan "zona nyaman" kehidupannya demi tercapainya tujuan pelayanan yang diembannya.
"Bagaimana pun juga Hosea 'membeli' dia kembali. Dalam satu pengertian, Allah melakukan hal yang sama bagi umat manusia, tetapi harganya adalah kematian Yesus di salib. Maka, hanya dengan memandang kepada Salib kita dapat memperoleh gambaran yang jauh lebih jelas akan harga yang Allah bayar untuk menebus kita kembali dari kehancuran yang telah diakibatkan oleh dosa" [alinea terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang janji pemulihan Allah kepada umat-Nya?
1. Sementara pada Hosea pasal 1 Tuhan mengungkapkan kekesalan-Nya terhadap bangsa Israel purba yang berkhianat, di pasal 2 Tuhan menampilkan kasih-Nya yang tak kunjung padam kepada manusia.
2. Bagi Hosea, harga dari pengampunan ialah menebus istrinya yang berzina dan membawa dia pulang kembali ke rumahnya. Bagi Tuhan, harga pengampunan adalah kematian Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, di atas salib. Dalam pengorbanan ini kita melihat bahwa harga pengampunan itu jauh lebih besar dari harga diri.
3. Hosea adalah model dari seorang hamba Tuhan yang melayani tanpa pamrih, bahkan tanpa tedeng aling-aling. Kepatuhannya kepada apa saja yang Tuhan perintahkan untuk dilakukan dan dilakonkannya dapat menjadi inspirasi bagi kita yang mengaku dan bekerja sebagai hamba-hamba Tuhan.
Rabu, 3 April
KETIKA ALLAH BERPERKARA (Tuduhan Atas Israel)
Israel wanprestasi. Dalam dunia hukum dikenal istilah "wanprestasi" yang dapat dikenakan kepada salah satu dari para pihak yang mengadakan perjanjian berdasarkan kontrak tertulis. Bilamana dua pihak, disertai sedikitnya dua saksi, mengikat diri dalam sebuah perjanjian tertulis di atas kertas bermaterai atau di hadapan notaris selaku wakil negara, biasanya dalam perjanjian atau kontrak tersebut terdapat klausul-klausul yang merupakan butir-butir perjanjian yang disepakati bersama secara timbal-balik dan bersifat mengikat. Apabila dalam pelaksanaannya salah satu pihak terbukti tidak menjalankan butir-butir kesepakatan dimaksud dan dengan demikian dianggap merugikan pihak yang lain, baik karena kelalaian maupun kesalahan, maka pihak yang dirugikan itu dapat mengajukan gugatan terhadap lawannya dengan tuntutan wanprestasi. Istilah ini adalah kata serapan dari bahasa Belanda, wanprestatie (dibaca: wanprestatsi), yang arti harfiahnya adalah "prestasi buruk" atau dalam pengertian lain "ingkar janji" dan tergolong sebagai kasus perdata.
Hubungan antara Allah dengan bangsa Israel dikukuhkan dalam perjanjian tertulis melalui hukum-hukum dan perintah-perintah yang diturunkan Allah melalui Musa (Kel. 24:4). Untuk pengesahannya dilakukan melalui sebuah ritual yang ditentukan oleh Allah, yaitu berupa persembahan kurban lembu-lembu jantan yang disembelih dan dibakar, kemudian darahnya disiramkan ke atas mezbah pembakaran kurban. Sesudah itu Musa mengambil kitab yang berisi perintah-perintah tersebut kemudian membacakannya kepada seluruh bangsa itu, dan mereka menyambutnya dengan berkata, "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan" (ay. 7). Setelah itu Musa mengambil darah binatang kurban yang sisa lalu menyiramkannya ke arah bangsa itu sambil berkata, "Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini" (ay. 8). Demikianlah perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel itu disahkan atas darah kurban. Upacara pengesahan perjanjian itu dilakukan sampai berkali-kali dan diakui tetap mengikat sampai pada generasi sekarang ini.
Salah satu "klausul" yang paling penting dalam perjanjian ini adalah soal pembuatan dan penyembahan berhala. "TUHAN memerintahkan Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel, 'Kamu telah melihat bagaimana Aku, TUHAN, berbicara kepadamu dari langit. Jangan membuat bagi dirimu patung-patung perak atau emas untuk kamu puja selain Aku'" (Kel. 20:22-23, BIMK). Kenyataannya, inilah pelanggaran yang paling sering dilakukan oleh bangsa Israel dari generasi ke generasi yang mereka lakukan secara sadar dan disengaja.
"Hosea 4:1-3 menghadirkan Allah sebagai pihak yang mengajukan tuntutan atau sengketa hukum (Ibrani: rรฎb) terhadap Israel. Bangsa pilihan itu kedapatan bersalah di hadapan Allah mereka oleh karena bangsa itu telah gagal mengamalkan syarat-syarat perjanjian tersebut. Kebenaran, rahmat, dan pengetahuan akan Allah seharusnya menjadi ciri-ciri dari hubungan Israel yang unik dengan Dia. Menurut Hosea 2:18-20, inilah pemberian-pemberian yang Allah karuniakan atas umat-Nya pada pembaruan perjanjian itu" [alinea pertama].
Dosa paling serius. Bangsa Israel purba terlibat dalam berbagai pelanggaran atas perintah-perintah Allah yang telah mereka sanggupi untuk taati, dan puncak dari pelanggaran-pelanggaran mereka ialah penyembahan berhala. Padahal sebelum bangsa itu memasuki tanah perjanjian Kanaan, dalam sebuah upacara perpisahan dengan Musa yang tidak ikut masuk bersama mereka, pemimpin besar itu dengan wanti-wanti sudah berpesan: "Jangan menyembah ilah-ilah lain yang disembah bangsa-bangsa yang tinggal di sekitarmu. Bila kamu menyembah ilah-ilah lain, maka kamu akan ditimpa kemarahan TUHAN Allahmu dan dibinasakan sama sekali, sebab TUHAN Allahmu yang ada di tengah-tengahmu tak mau disamakan dengan apa pun" (Ul. 6:14-15, BIMK). Pesan ini terus diulang-ulanginya (baca Ul. 7:4; 8:19; 11:16, 28; 13:2, 6, 13; 16:22; 17:3; dst.) Pesan itu juga kembali diingatkan oleh Yosua, penerus Musa, yang mengantar bangsa itu masuk ke Kanaan (Yos. 23:16), dan bangsa itu sekali lagi berjanji: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!" (Yos. 24:16).
Tetapi janji tinggal janji, dan apa yang mereka lakukan pada zaman Hosea sangat mengerikan. Mereka bukan saja menyembah patung dan dewa Baal saja, tetapi sampai meminta petunjuk kepada tongkat kayu (Hos. 4:12), mempersembahkan kurban dan membakar dupa di bawah pohon-pohon besar (ay. 13), dan bersetubuh dengan para pelacur di kuil-kuil orang Kanaan dengan harapan untuk mendatangkan kesuburan pada ternak dan ladang-ladang mereka (ay. 14) yang mengalami kekeringan akibat hukuman Tuhan. Begitu bersemangatnya bangsa itu dalam penyembahan berhala sampai Tuhan berkata, "Umat Israel sudah terpikat oleh berhala. Sebab itu biarkanlah mereka" (ay. 17, BIMK).
"Dalam Perjanjian Lama, penyembahan berhala dianggap sebagai dosa paling serius karena hal itu menyangkal peranan Tuhan Allah dalam kehidupan bangsa dan secara pribadi. Disebabkan oleh iklim yang kering, hujan di negeri Israel adalah masalah hidup dan mati. Orang Israel sampai kepada keyakinan bahwa berkat-berkat mereka, seperti hujan yang memberi kehidupan, adalah berasal dari Baal. Jadi, mereka membangun kuil-kuil bagi allah-allah asing dan mulai mencampur-adukkan hal yang tidak bermoral dengan peribadatan" [alinea ketiga].
Apa yang kita pelajari tentang tuduhan Allah atas Israel?
1. Tuhan mempunyai dasar hukum untuk menuntut Israel purba atas kejahatan dan dosa mereka, yakni perjanjian yang disepakati oleh nenek moyang bangsa itu. Dalam tradisi budaya bangsa Israel purba, perjanjian yang dilakukan oleh leluhur mereka mengikat sampai turun-temurun.
2. Tindakan wanprestasi (ingkar janji) paling besar yang dilakukan oleh generasi penerus Israel pada zaman nabi-nabi terakhir, khususnya Hosea, adalah penyembahan berhala. Allah sangat membenci penyembahan berhala sebab hal itu merupakan penyangkalan atas eksistensi Allah dan kuasa pemeliharaan-Nya.
3. Penyembahan berhala bukanlah "dosa fosil" dalam arti hanya terjadi pada umat Tuhan zaman purba saja. Pada zaman moderen ini penyembahan berhala dipraktikkan di kalangan umat Tuhan dalam bentuk idola kekayaan, kepelesiran, ketenaran, pangkat, jabatan, dsb.
Kamis, 4 April
TUJUAN PEKABARAN HOSEA (Panggilan Untuk Bertobat)
Tuhan menyelamatkan. Bukan kebetulan bahwa nama Hosea mengandung arti "Tuhan menyelamatkan." Sebagian pelajar Alkitab berspekulasi bahwa nama Hosea (Ibrani: ืืֹืฉֵׁืขַ, Hoshea; Grika: แฝจฯฮทฮญ, ลsฤรฉ) adalah nama yang diberikan Tuhan ketika Ia memanggil nabi itu untuk menjadi jurukabar-Nya. Tetapi memang secara tradisional pemberian nama anak di kalangan masyarakat Yahudi selalu dikaitkan dengan sesuatu makna, khususnya pada zaman Perjanjian Lama.
Menurut tradisi, orang Yahudi hanya memiliki satu nama dan tidak mempunyai nama keluarga (marga atau fam), tapi menggunakan pola patronymics yang ditandai dengan ben (anak laki-laki dari) dan bat (anak perempuan dari). "Ben" dan "bat" adalah kata sisipan spesifik dari nama seseorang, yang padanannya dalam tradisi bangsa Arab adalah bin (untuk anak laki-laki) dan binti (untuk anak perempuan). Penggunaan nama keluarga dalam masyarakat Yahudi moderen mulai dikenal pada tahun 1787 ketika undang-undang kekaisaran Austro-Hungarian yang menguasai sebagian besar wilayah Eropa waktu itu (benua di mana terdapat banyak pemukim Yahudi) mengharuskan setiap orang menyandang nama keluarga di belakang nama kecil. Itulah sebabnya nama-nama keluarga Yahudi moderen sangat berbau Jerman, bahasa resmi pada masa itu, yang di kemudian hari banyak dari mereka yang berbondong-bondong hijrah ke Amerika.
"Nama Hosea dalam bahasa Ibrani berarti 'Tuhan menyelamatkan,' dan berhubungan dengan nama-nama Yosua, Yesaya dan Yesus. Sang nabi menyerukan bangsa itu untuk menolak dosa dan menemukan perlindungan di dalam Tuhan Allah mereka karena Dialah Pencipta dan Penebus mereka. Tujuan dari penghakiman ilahi ialah untuk mengingatkan orang-orang berdosa bahwa hidup dan kekuatan mereka berasal dari Dia kepada siapa mereka harus kembali" [alinea pertama: tiga kalimat pertama].
Kurang pengetahuan? Hosea meminta perhatian bangsa Israel yang murtad itu dengan berkata, "Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini...Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu..." (Hos. 4:1, 6; huruf miring ditambahkan). Jadi, dalam kasus bangsa Israel purba di zaman Hosea, apabila nanti umat Tuhan binasa itu bukan karena Allah telah kehilangan kasih dan kekuatan-Nya, melainkan itu adalah akibat dari penolakan mereka untuk mengenal Allah dengan lebih akrab dan lama-kelamaan mereka menjadi tidak mengenal Dia lagi.
Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan mengenal dalam ayat-ayat di atas adalah ืַּืขַืช, da`ath, yang artinya pengetahuan atau pengertian. Agak aneh kedengarannya bahwa satu bangsa yang secara turun-temurun kehidupan mereka dijalankan menurut aturan-aturan dan ketetapan-ketetapan Allah, tetapi mereka tidak mengenal dan tidak mempunyai pengetahuan tentang Allah itu sendiri. Janggal rasanya bahwa satu umat yang sejak kecil diajarkan tentang hukum-hukum Allah, dan setiap hari menyebut-nyebut nama Allah, tetapi mereka tidak memiliki pengertian yang cukup tentang siapa itu Allah. Mengapa? Karena mereka itu "menolak" untuk mengenal Allah.
"Sebaliknya, melalui iman dan penurutan mereka bisa datang untuk mengenal Tuhan bagi diri mereka sendiri. Pengetahuan ini dapat menjadi dekat dan juga intim. Itulah persisnya mengapa berulang-ulang kali perkawinan adalah lambang dari jenis hubungan yang Tuhan inginkan dengan kita...Itu juga mengapa kehidupan Kristiani terdiri utamanya dari satu hubungan dengan Allah yang hidup. Itulah sebabnya mengapa Tuhan memanggil orang banyak itu untuk mengenal Dia dan mengikuti kehendak-Nya bagi kehidupan mereka" [alinea ketiga dan keempat].
Tantangan yang sama. Bukankah umat Tuhan zaman sekarang pun bisa menghadapi tantangan dan cobaan serupa? Banyak di antara kita yang mengaku sebagai orang Kristen, yang menyebut-nyebut nama Tuhan dan beribadah sebagai layaknya umat Tuhan, tetapi mereka tidak mengenal Tuhan dengan sesungguhnya. Banyak orang Kristen yang mengaku memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi pengetahuan mereka "belum juga mencapai pengetahuan sebagaimana yang harus dicapainya" (1Kor. 8:2). Oleh karena kita tidak mengenal Allah dengan sempurna, maka kita juga tidak mengasihi Dia dengan sempurna.
Pena inspirasi menulis: "Keadaan umat Tuhan zaman ini serupa dengan Israel yang musyrik. Banyak yang membawa nama Kristen sedang melayani ilah-ilah lain di samping Tuhan. Pencipta kita menuntut pengabdian kita yang tertinggi, kesetiaan kita yang pertama. Apapun yang cenderung mengurangi kasih kita kepada Allah, atau yang menghalangi pelayanan kita kepada-Nya, itu menjadi suatu berhala...Kita harus mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati. Tidak kurang dari penurutan terhadap setiap hukum--tidak kurang dari kasih tertinggi kepada Allah yang setara dengan kasih kepada sesama manusia" (Ellen G. White, Signs of the Times, 26 Januari 1882).
Apa yang kita pelajari tentang panggilan Tuhan untuk bertobat?
1. Nama nabi Hosea itu sendiri sudah merupakan sebuah pekabaran, yaitu "Tuhan menyelamatkan." Allah memilih Hosea menjadi jurukabar kepada bangsanya, untuk mengamarkan mereka akan dosa-dosa mereka dan memanggil mereka kembali kepada Allah yang menjadi sumber kehidupan.
2. Tampaknya bangsa Israel pada zaman itu mengalami masalah yang besar, yakni tidak cukup mengenal Allah nenek moyang mereka, dan akibatnya mereka mudah terpengaruh untuk menyembah berhala-berhala kafir seperti yang dipraktikkan oleh bangsa-bangsa tetangga mereka.
3. Bangsa Israel purba tidak meninggalkan Allah sama sekali, tetapi mereka mencampuradukkan peribadatan kepada Allah yang benar dengan penyembahan kepada allah-allah palsu. Umat Tuhan zaman moderen ini juga tak luput dari cobaan serupa, mengidolakan hal-hal duniawi sambil beribadah kepada Allah surgawi.
Jumat, 5 April
PENUTUP
Arti kesetiaan. Kalau ada seorang nabi yang paling menyelami bagaimana perasaan Allah terhadap umat-Nya, Hosea adalah orangnya. Kehidupan rumahtangga Hosea adalah sebuah pengalaman kepahitan. Gomer adalah seorang istri yang telah membuat hati sang nabi hancur berkeping-keping, barangkali tubuhnya pun sudah menjadi kurus kering. Namun kasih sayang Hosea terhadap istrinya itu tidak pernah surut. Seperti Hosea, hati Allah telah sangat disakiti oleh "petualangan cinta" bangsa Israel purba yang terus melakukan perzinaan rohani, padahal mereka sudah menikmati kenyamanan hidup karena berkat-berkat Tuhan. Pengalaman pribadinya membuat Hosea semakin mengerti apa artinya kesetiaan dalam hubungan perkawinan.
"Sementara waktu berlalu, Hosea menjadi sadar akan kenyataan bahwa nasib diri pribadinya adalah cermin dari rasa kesedihan ilahi, bahwa penderitaannya menggemakan kesedihan Allah. Dalam penderitaan orang ini sebagai sebuah lakon simpati bersama rasa kesedihan ilahi, sang nabi mungkin melihat arti dari perkawinan yang telah dia ikat atas perintah ilahi..." [alinea pertama].
Dalam hubungan perkawinannya yang nyata dengan Gomer, istrinya yang suka berselingkuh, Hosea tidak saja memperagakan kasih Allah yang tak kunjung padam tetapi juga kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Sebagaimana Hosea tetap sayang dan setia kepada istrinya yang pezina itu--setidaknya hal itu terlihat dari kesediaannya untuk menebus Gomer dari tangan mucikarinya--demikianlah Allah tetap mengasihi dan setia kepada umat Israel yang terus melakukan perzinaan rohani. Seperti kata rasul Paulus, "Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? Sekali-kali tidak!" (Rm. 3:3, 4).
Sebagaimana Allah menunjukkan kesetiaan kasih-Nya kepada Israel purba, demikianlah Ia akan menunjukkan kesetiaan kasih-Nya kepada umat-Nya di zaman moderen. Panggilan untuk bertobat yang diserukan oleh Hosea tetap berkumandang kepada kita semua pada zaman ini, supaya bila kita menyambut seruan pertobatan itu maka kita pun beroleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan kembali berkat-berkat yang telah hilang. "Dalam bahasa simbolik Hosea membentangkan di hadapan sepuluh suku itu rencana Allah untuk memulihkan setiap jiwa yang menyesali dosanya, dan yang mau bersatu dengan gereja-Nya di bumi, berkat-berkat yang dikaruniakan kepada Israel di masa-masa kesetiaan mereka di Tanah Perjanjian" [alinea ketiga: kalimat pertama].
"Aku mau mendengar perkataan TUHAN Allah; Ia menjanjikan kesejahteraan kepada kita, umat-Nya, asal kita tidak kembali berbuat dosa. Sungguh, Ia siap menyelamatkan orang yang takwa, Allah yang agung akan berdiam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai akan berpeluk-pelukan. Kesetiaan manusia akan tumbuh dari bumi, dan keadilan Allah menjenguk dari langit" (Mzm. 85:9-12, BIMK).
Label:
Rangkuman Sekolah Sabat
07.32
BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI:
Why. 21: 1-5; Kej 3: 19; 1 Kor. 15: 52-58; Kej. 6: 11-13; Yes. 11: 6-9; Yoh. 14: 1-3.
AYAT HAFALAN:
“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” (2 Ptr. 3: 13).
Dalam 2 Petrus 3: 10-13, Petrus menggambarkan nasib langit dan bumi. Keduanya, bersama dengan semua yang ada di dalamnya, akan dihancurkan. Tetapi itu bukanlah akhir cerita, tidak demikian, karena suatu langit yang baru dan bumi yang baru akan dibuat sebagai penggantinya.
Lihatlah perbedaan antara dua kehidupan. Dosa berkuasa di dalam yang lama, Kebenaran tinggal di dalam yang baru. Kematian memerintah pada yang lama, kehidupan pada yang baru. Perbedaan yang sangat mencolok, atau mutlak.
Sebagaimana juga yang bisa kita lihat pada janji-janji ini, peran Allah sebagai Pencipta tidak berakhir dengan penciptaan pertama bumi. Ini tidak berakhir dengan pekerjaan yang Dia lakukan di dalam kita. membuat kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Tidak, itu terus berlanjut. Tuhan yang sama yang melalui kuasa adikodrati dari Firman-Nya pernah menciptakan dunia ini, akan menciptakannya lagi, dan dengan kuasa adikodrati-Nya juga.
Tentu, tanpa tindakan terakhir penciptaan ini, segala sesuatu yang sebelumnya akan sia-sia. Langit baru dan bumi baru adalah puncak dari janji-janji Allah kepada kita.
*Pelajari pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 30 Maret.
Minggu 24 Maret 2013 "SUATU PERMULAAN YANG BARU"
Satu hal yang memiliki kesamaan antara ilmu pengetahuan dan Alkitab adalah keyakinan bahwa bumi ini, seperti yang kita kenal sekarang, tidak akan bertahan selamanya. Bagi ilmu pengetahuan (setidaknya beberapa versi), kuasa-kuasa kebetulan yang kaku dan tanpa tujuan yang telah membawa bumi dan kehidupan di atasnya menjadi ada adalah kuasa yang sama, yang pada akhirnya akan menghancurkannya. Alkitab juga mengajarkan bahwa bumi ini tidak akan berlangsung selamanya, tetapi pasti akan dihancurkan. Namun dalam skenario yang ditawarkan ilmu pengetahuan, kehancuran itu adalah akhir abadi dari segala sesuatu, sebaliknya, dalam skenario Alkitab, itu adalah permulaan dari sesuatu yang baru dan indah, dan itu berlangsung selama-lamanya.
Baca Wahyu 21: 1-5. Apakah gambaran masa depan yang disajikan di sini? Janji-janji indah apakah yang menanti kita? Mengapa hal ini merupakan sesuatu yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya bagi kita?
Wahyu 21: 1-5
Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
Tidak diragukan, salah satu janji terbaik tentang eksistensi (keberadaan) kita yang baru adalah bahwa kematian dan penderitaan akan hilang selamanya. Jelas bahwa Allah tidak menganggap pengalaman-pengalaman ini positif. Hal itu tidak ada dalam penciptaan yang Tuhan katakan “sungguh amat baik” (Kej. 1: 31). Pengalaman-pengalaman pahit itu adalah penyusup asing, itu tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi bagian dari penciptaan yang asli, dan tidak akan menjadi bagian dari ciptaan yang baru juga. Yesus datang untuk menghancurkan hal-hal itu, dan kita tidak akan pernah mengalaminya lagi.
Penciptaan baru membawa awal yang baru. Pengalaman sial dengan dosa ini akan berakhir. Akibat-akibatnya ada dan jelas: dosa membawa kematian dan penderitaan, dan hukum Allah adalah hukum kehidupan.
Sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi pada mula pertama, Dia akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, dan bersama ciptaan baru itu kita semua ditawarkan permulaan yang baru. Hanya Allah, hanya Sang Pencipta, yang bisa melakukan ini untuk kita. Dan semuanya itu datang kepada kita melalui karya Yesus bagi kita. Tanpa rencana keselamatan, kita tidak memiliki harapan untuk apa pun selain yang ditawarkan oleh kehidupan sekarang ini, pemikiran yang cukup suram.
Mengapa janji-janji tentang suatu eksistensi baru begitu penting bagi kita? Apakah artinya iman kita tanpa janji-janji tersebut?
Senin 25 Maret 2013 "DARI DEBU KEPADA KEHIDUPAN"
Baca Kejadian 2: 7 dan 3: 19. Dari apakah Adam dijadikan, dan apakah akibat dari dosanya?
Kejadian 2: 7 dan 3: 19
2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Allah menciptakan Adam dari debu, dan ia menjadi makhluk yang hidup. Selama ia mempertahankan hubungannya dengan Tuhan, hidupnya akan terus berlanjut. Ketika Adam berdosa, ia menjadi terpisah dari Sumber kehidupan. Akibatnya, ia mati dan kembali kepada debu.
3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Baca Yesaya 26: 19 dan Daniel 12: 2. Apakah yang akan terjadi kepada mereka yang tidur dalam debu?
Yesaya 26:19 Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.
Daniel 12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.
Janji kebangkitan memberikan harapan bagi orang Kristen. Ayub mengungkapkan harapan ini, katanya: “Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” (Ayb. 19: 26). Untuk orang beriman, kematian hanyalah sementara. Allah yang membentuk Adam dari debu dan meniupkan kehidupan ke dalam dirinya tidak lupa bagaimana menciptakan manusia dari debu. Kebangkitan akan menjadi suatu tindakan penciptaan seperti halnya penciptaan semula ketika Adam diciptakan.
Baca 1 Korintus 15: 52-58. Apakah yang diajarkan di sini yang begitu terkait erat dengan kisah penciptaan di buku Kejadian?
1 Korintus 15:52-58 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.
Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.
Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis:"Maut telah ditelan dalam kemenangan.
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Kebangkitan orang benar pada saat kedatangan Yesus akan terjadi dengan seketika. Seperti penciptaan manusia pertama, itu akan menjadi peristiwa adikodrati di mana Allah yang melakukan segalanya. Semua ini terang-terangan bertentangan dengan evolusi teistik. Lagipula, jika Allah tidak akan menggunakan jutaan tahun evolusi untuk menciptakan kita, tetapi melakukannya dalam sekejap, maka ia pasti bisa menciptakan kita di babak pertama tanpa evolusi. Jadi, seperti halnya segala sesuatu yang lain di Alkitab, harapan kebangkitan itu adalah bukti yang lebih Alkitabiah yang membantah evolusi teistik.
Karena ilmu pengetahuan hanya memberikan kepada kita sedikit terang, dan tidak dapat menerangkan mengenai kebangkitan sebagai sesuatu yang penting dan mendasar, apakah yang seharusnya dinyatakan hal ini kepada kita tentang keterbatasan ilmu pengetahuan?
Selasa 26 Maret 2013 "PEMULIHAN KEKUASAAN MANUSIA"
Bandingkan Kejadian 1: 28 dengan Yohanes 12: 31.Apakah status Adam dan Hawa di dunia yang baru diciptakan? Siapakah yang merebut kekuasaan dan menjadi penguasa dunia ini?
Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Yohanes 12:31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;
Adam diberi tanggungjawab untuk menjadi penguasa dunia. Ketika ia berbuat dosa, kekuasaan Adam dipertaruhkan. Setan sekarang menjalankan kekuasaannya atas ciptaan, menyebabkan kecurangan dan kekerasan yang kita lihat di mana-mana.
Namun setelah salib, Yesus merebut kembali bumi dari kekuasaan Iblis (lihat Mar. 28: 18; Why. 12: 10; Yoh. 12: 31). Dan meskipun Setan masih diperbolehkan untuk beroperasi di bumi dan melakukan kerusakan, kita dapat bersukacita karena mengetahui bahwa hari-hari Setan sedang dihitung; kemenangan Kristus di salib menjamin hal itu.
Baca 2 Timotius 2: 11, 12 dan Wahyu 5: 10. Kebenaran apakah yang bisa kita peroleh dari ayat-ayat ini? Lihat juga 1 Kor. 6: 2, 3.
2 Timotius 2:11-12 Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;
jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;
Wahyu 5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."
1 Korintus 6:2-3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.
Mereka yang diselamatkan akan diberi kuasa sebagai raja dan imam. Ide tentang kerajaan menyiratkan beberapa jenis otoritas; ide imam disertai dengan implikasi bertindak dalam komunikasi antara Allah dan makhluk lain, bahkan mungkin dengan mereka yang berasal dari dunia ciptaan lain, mereka yang tidak pemah mengenal pengalaman dosa dan duka karena dosa.
“Segenap kekayaan alam semesta akan terbuka untuk pelajaran dan penyelidikan umat tebusan Allah. Tanpa dibelenggu oleh kefanaan, mereka terbang tanpa letih ke dunia-dunia yang jauh – dunia-dunia yang terharu dalam kesedihan menyaksikan penderitaan manusia, dan yang menyanyikan nyanyian kesukaan karena mendengar kabar penebusan jiwa-jiwa. Dengan kesenangan yang tak terkatakan anak-anak dunia ini berbaur ke dalam sukacita dan hikmat makhluk-makhluk yang tidak jatuh.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 715. Menurut Anda apakah artinya “masuk ke dalam sukacita dan hikmat makhluk-makhluk yang tidak jatuh”? Apakah yang bisa kita peiajari dari makhluk yang tidak jatuh? Dan yang bisa mereka pelajari dari kita?
Rabu 27 Maret 2013 "LEBIH BANYAK PEMULIHAN"
Dalam dunia yang kita kenal, saling memangsa adalah cara hidup yang umum di kalangan binatang. Istilah “rantai makanan” adalah pengingat akrab akan pentingnya saling memangsa dalam ekologi kita, dan kita mengalami kesulitan membayangkan dunia tanpa hal itu. Tapi pada awalnya, semua makhluk darat memakan tanaman hijau (Kej. 1: 30). Tidak ada hewan yang memakan hewan lainnya. Kejadian 1: 30 tidak menyebutkan makanan dari makhluk laut, tetapi prinsip yang sama mungkin akan berlaku, sehingga Allah bisa melihat seluruh ciptaan dan menyatakan itu “sungguh amat baik.”
Baca Kejadian 6: 11-13; 9: 2-4. Pada saat air bah, perubahan apakah yang terjadi di alam? Apakah kerusakan lebih lanjut terjadi dalam hubungan manusia dan binatang setelah air bah?
Kejadian 6:11-13 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.
Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.
Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.
Kejadian 9:24 Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya,
Apa yang dimulai sebagai sebuah kerajaan yang damai telah menjadi penuh dengan penyelewengan, kekerasan, dan kejahatan. lni adalah akibat dosa. Dunia yang dulunya “amat baik” telah menjadi begitu buruk sehingga menyerukan kehancurannya sendiri.
Setelah air bah, binatang menjadi takut terhadap manusia. lni termasuk makhluk darat, udara, dan laut. Ini jelas berbeda dengan situasi sebelumnya. Tampak bahwa kekuasaan manusia atas hewan berkurang saat ini.
Baca Yesaya 65:25; 11:6-9. Bagaimanakah hubungan antara makhluk-makhluk di dunia kita sekarang berbeda dengan yang dijanjikan oleh Allah di masa depan?
Yesaya 65:25 Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus," firman TUHAN.
Yesaya 11:6-9 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.
Melalui keindahan bahasa puisi ini, Yesaya menunjukkan kepada kita bahwa tidak akan ada kekerasan di dunia baru. Penyelewengan dan kekerasan, yang menjadi karakteristik dari dunia sebelum air bah yang menyerukan kehancurannya, keduanya akan hilang dari yang baru. itu akan menjadi dunia yang serasi dan bekerja sama, sebuah kerajaan damai. Kita begitu terbiasa dengan kekerasan, saling memangsa, dan kematian sehingga sulit bagi kita untuk membayangkan hal lainnya.
Seperti kita lihat, lnjil itu pada hakikatnya adalah pemulihan. Meskipun, tentu, Allah saja yang dapat melakukan pemulihan akhir, apakah pilihan yang kita bisa buat yang dapat menolong untuk mengadakan beberapa pemulihan yang dibutuhkan sekarang?
Kamis 28 Maret 2013 "PEMULIHAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH"
“Sebelum dosa masuk ke dalam dunia ini, Adam menikmati suatu persekutuan terbuka dengan Khaliknya.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 7. Meskipun demikian setelah kejatuhan, hubungan dekat itu berubah secara radikal dalam banyak cara.
Baca Kejadian 3: 24, Keluaran 33: 20 dan Ulangan 5: 24-26. Apakah yang diakibatkan dosa terhadap hubungan erat yang ada antara manusia dan Allah?
Kejadian 3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.
Keluaran 33:20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."
Ulangan 5:24-26 dan berkata: Sesungguhnya, TUHAN, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup.
Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara TUHAN, Allah kita, kami akan mati.
Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti kami dan tetap hidup?
Dosa telah merusak hubungan antara Allah dan manusia. Allah menjauhkan pasangan itu dari hadirat-Nya untuk melindungi mereka. Manusia tidak bisa lagi melihat wajah Allah dan tetap hidup.
Namun, Tuhan dengan inisiatif-Nya sendiri, membawa rencana keselamatan, oleh mana hubungan yang rusak bisa diperbaiki, bahkan dengan harga atau tuntutan yang mengerikan terhadap diri-Nya sendiri.
Baca Yohanes 14:1-3 dan Wahyu 22:3-5. Apakah janji Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia menjalani hukuman di kayu salib, dan apakah hasilnya kelak?
Yohanes 14:1-3 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Wahyu 22:3-5 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,
dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.
Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.
Allah dan manusia akan dipersatukan kembali, dalam damai, dan bertatap muka. Bumi akan menjadi bebas dari kutukan apa pun, dan semua yang telah hilang akan dikembalikan. Umat tebusan akan diberikan sebuah lingkungan baru, kehidupan baru, kekuasaan baru, perdamaian baru dengan seluruh ciptaan, dan hubungan baru dengan Allah. Tujuan semula di balik penciptaan manusia sekarang akan terpenuhi. Allah, umat manusia, dan ciptaan akan selaras, dan keselarasan itu akan berlangsung selamanya.
Bahkan sekarang, sebelum penciptaan langit yang baru dan bumi yang baru, bagaimanakah kita bisa belajar untuk menikmati persekutuan yang erat dengan Allah? Apakah pilihan yang kita buat yang mempengaruhi hubungan kita dengan Allah, baik secara positif atau negatif?
Jumat 29 Maret 2013 "PENDALAMAN"
“Dan sementara tahun-tahun kekekalan bergulir, akan membawa penyataan Allah dan Kristus semakin kaya dan semakin mulia. Sementara pengetahuan berkembang, demikian juga dengan kasih, rasa hormat, kebahagiaan semakin bertambah. Semakin manusia mempelajari Allah, semakin besar kekaguman mereka terhadap tabiat Allah. Pada waktu Yesus membukakan di hadapan mereka kekayaan penebusan dan pencapaian yang luar biasa dalam pertikaian besar melawan Setan, hati umat yang telah ditebus tergerak untuk lebih berserah dengan sungguh-sungguh, dan dengan lebih bersukacita mereka memetik kecapi keemasan. Dan beribu-ribu dan berlaksa-laksa suara bersatu menyanyikan nyanyian akbar pujian...
“Pertikaian besar telah berakhir. Dosa dan orang-orang berdosa tidak ada lagi. Seluruh alam semesta sudah bersih. Suatu denyut keharmonisan dan kesukaan berdetak di seluruh alam kejadian. Dari Dia yang menciptakan semuanya, mengalir kehidupan dan terang dan kesukaan ke seluruh jagad raya yang tidak ada batasnya ini. Dari atom yang paling kecil sampai kepada dunia yang paling besar, segala sesuatu, yang bergerak atau yang tidak bergerak, dalam keindahan yang tak terselubung dan kesukaan yang sempurna menyatakan bahwa Allah itu kasih adanya.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 716.
PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN :
Kumpulkanlah ayat sebanyak yang Anda bisa dapatkan, terutama dari kitab Wahyu, yang berbicara tentang seperti apa bumi yang dipulihkan itu. Diskusikan di kelas apa yang dikatakan ayat-ayat tersebut. Aspek apakah dari bumi yang dipulihkan itu yang Anda temukan paling menarik? Aspek apakah yang paling sulit untuk dimengerti?
Bagaimanakah doktrin tentang penciptaan, sebagaimana yang terungkap dalam Kejadian 1 dan 2, terkait dengan doktrin penciptaan kembali langit dan bumi? Bagaimanakah kita bisa memahami penciptaan kembali ini jika evolusi teistik itu benar?
Baca Roma 8: 18 dan 2 Korintus 4: 16, 17. Apakah yang Paulus katakan di sini, dan bagaimanakah kita bisa memperoleh kenyamanan dari kata-kata ini untuk diri kita sendiri?
Masih tetap dalam keseluruhan konsep Injil sebagai “pemulihan.” Apakah arti kata itu? Apakah yang dipulihkan? Bagaimanakah itu dipulihkan? Dan peran apakah yang kita miliki, jika ada, dalam keseluruhan proses itu?
Apakah yang diungkapkan oleh janji langit yang baru dan bumi yang baru kepada kita tentang karakter Allah?
Sekolah Sabat 13 "23 Maret - 29 Maret"
Written By Unknown on Kamis, 28 Maret 2013 | 07.32
Penciptaan Kembali
BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI:
Why. 21: 1-5; Kej 3: 19; 1 Kor. 15: 52-58; Kej. 6: 11-13; Yes. 11: 6-9; Yoh. 14: 1-3.
AYAT HAFALAN:
“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” (2 Ptr. 3: 13).
Dalam 2 Petrus 3: 10-13, Petrus menggambarkan nasib langit dan bumi. Keduanya, bersama dengan semua yang ada di dalamnya, akan dihancurkan. Tetapi itu bukanlah akhir cerita, tidak demikian, karena suatu langit yang baru dan bumi yang baru akan dibuat sebagai penggantinya.
Lihatlah perbedaan antara dua kehidupan. Dosa berkuasa di dalam yang lama, Kebenaran tinggal di dalam yang baru. Kematian memerintah pada yang lama, kehidupan pada yang baru. Perbedaan yang sangat mencolok, atau mutlak.
Sebagaimana juga yang bisa kita lihat pada janji-janji ini, peran Allah sebagai Pencipta tidak berakhir dengan penciptaan pertama bumi. Ini tidak berakhir dengan pekerjaan yang Dia lakukan di dalam kita. membuat kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Tidak, itu terus berlanjut. Tuhan yang sama yang melalui kuasa adikodrati dari Firman-Nya pernah menciptakan dunia ini, akan menciptakannya lagi, dan dengan kuasa adikodrati-Nya juga.
Tentu, tanpa tindakan terakhir penciptaan ini, segala sesuatu yang sebelumnya akan sia-sia. Langit baru dan bumi baru adalah puncak dari janji-janji Allah kepada kita.
*Pelajari pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 30 Maret.
Minggu 24 Maret 2013 "SUATU PERMULAAN YANG BARU"
Satu hal yang memiliki kesamaan antara ilmu pengetahuan dan Alkitab adalah keyakinan bahwa bumi ini, seperti yang kita kenal sekarang, tidak akan bertahan selamanya. Bagi ilmu pengetahuan (setidaknya beberapa versi), kuasa-kuasa kebetulan yang kaku dan tanpa tujuan yang telah membawa bumi dan kehidupan di atasnya menjadi ada adalah kuasa yang sama, yang pada akhirnya akan menghancurkannya. Alkitab juga mengajarkan bahwa bumi ini tidak akan berlangsung selamanya, tetapi pasti akan dihancurkan. Namun dalam skenario yang ditawarkan ilmu pengetahuan, kehancuran itu adalah akhir abadi dari segala sesuatu, sebaliknya, dalam skenario Alkitab, itu adalah permulaan dari sesuatu yang baru dan indah, dan itu berlangsung selama-lamanya.
Baca Wahyu 21: 1-5. Apakah gambaran masa depan yang disajikan di sini? Janji-janji indah apakah yang menanti kita? Mengapa hal ini merupakan sesuatu yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya bagi kita?
Wahyu 21: 1-5
Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.
Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."
Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar."
Tidak diragukan, salah satu janji terbaik tentang eksistensi (keberadaan) kita yang baru adalah bahwa kematian dan penderitaan akan hilang selamanya. Jelas bahwa Allah tidak menganggap pengalaman-pengalaman ini positif. Hal itu tidak ada dalam penciptaan yang Tuhan katakan “sungguh amat baik” (Kej. 1: 31). Pengalaman-pengalaman pahit itu adalah penyusup asing, itu tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi bagian dari penciptaan yang asli, dan tidak akan menjadi bagian dari ciptaan yang baru juga. Yesus datang untuk menghancurkan hal-hal itu, dan kita tidak akan pernah mengalaminya lagi.
Penciptaan baru membawa awal yang baru. Pengalaman sial dengan dosa ini akan berakhir. Akibat-akibatnya ada dan jelas: dosa membawa kematian dan penderitaan, dan hukum Allah adalah hukum kehidupan.
Sebagaimana Allah menciptakan langit dan bumi pada mula pertama, Dia akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, dan bersama ciptaan baru itu kita semua ditawarkan permulaan yang baru. Hanya Allah, hanya Sang Pencipta, yang bisa melakukan ini untuk kita. Dan semuanya itu datang kepada kita melalui karya Yesus bagi kita. Tanpa rencana keselamatan, kita tidak memiliki harapan untuk apa pun selain yang ditawarkan oleh kehidupan sekarang ini, pemikiran yang cukup suram.
Mengapa janji-janji tentang suatu eksistensi baru begitu penting bagi kita? Apakah artinya iman kita tanpa janji-janji tersebut?
Senin 25 Maret 2013 "DARI DEBU KEPADA KEHIDUPAN"
Baca Kejadian 2: 7 dan 3: 19. Dari apakah Adam dijadikan, dan apakah akibat dari dosanya?
Kejadian 2: 7 dan 3: 19
2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Allah menciptakan Adam dari debu, dan ia menjadi makhluk yang hidup. Selama ia mempertahankan hubungannya dengan Tuhan, hidupnya akan terus berlanjut. Ketika Adam berdosa, ia menjadi terpisah dari Sumber kehidupan. Akibatnya, ia mati dan kembali kepada debu.
3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."
Baca Yesaya 26: 19 dan Daniel 12: 2. Apakah yang akan terjadi kepada mereka yang tidur dalam debu?
Yesaya 26:19 Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali.
Daniel 12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.
Janji kebangkitan memberikan harapan bagi orang Kristen. Ayub mengungkapkan harapan ini, katanya: “Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” (Ayb. 19: 26). Untuk orang beriman, kematian hanyalah sementara. Allah yang membentuk Adam dari debu dan meniupkan kehidupan ke dalam dirinya tidak lupa bagaimana menciptakan manusia dari debu. Kebangkitan akan menjadi suatu tindakan penciptaan seperti halnya penciptaan semula ketika Adam diciptakan.
Baca 1 Korintus 15: 52-58. Apakah yang diajarkan di sini yang begitu terkait erat dengan kisah penciptaan di buku Kejadian?
1 Korintus 15:52-58 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.
Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.
Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis:"Maut telah ditelan dalam kemenangan.
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Kebangkitan orang benar pada saat kedatangan Yesus akan terjadi dengan seketika. Seperti penciptaan manusia pertama, itu akan menjadi peristiwa adikodrati di mana Allah yang melakukan segalanya. Semua ini terang-terangan bertentangan dengan evolusi teistik. Lagipula, jika Allah tidak akan menggunakan jutaan tahun evolusi untuk menciptakan kita, tetapi melakukannya dalam sekejap, maka ia pasti bisa menciptakan kita di babak pertama tanpa evolusi. Jadi, seperti halnya segala sesuatu yang lain di Alkitab, harapan kebangkitan itu adalah bukti yang lebih Alkitabiah yang membantah evolusi teistik.
Karena ilmu pengetahuan hanya memberikan kepada kita sedikit terang, dan tidak dapat menerangkan mengenai kebangkitan sebagai sesuatu yang penting dan mendasar, apakah yang seharusnya dinyatakan hal ini kepada kita tentang keterbatasan ilmu pengetahuan?
Selasa 26 Maret 2013 "PEMULIHAN KEKUASAAN MANUSIA"
Bandingkan Kejadian 1: 28 dengan Yohanes 12: 31.Apakah status Adam dan Hawa di dunia yang baru diciptakan? Siapakah yang merebut kekuasaan dan menjadi penguasa dunia ini?
Kejadian 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Yohanes 12:31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;
Adam diberi tanggungjawab untuk menjadi penguasa dunia. Ketika ia berbuat dosa, kekuasaan Adam dipertaruhkan. Setan sekarang menjalankan kekuasaannya atas ciptaan, menyebabkan kecurangan dan kekerasan yang kita lihat di mana-mana.
Namun setelah salib, Yesus merebut kembali bumi dari kekuasaan Iblis (lihat Mar. 28: 18; Why. 12: 10; Yoh. 12: 31). Dan meskipun Setan masih diperbolehkan untuk beroperasi di bumi dan melakukan kerusakan, kita dapat bersukacita karena mengetahui bahwa hari-hari Setan sedang dihitung; kemenangan Kristus di salib menjamin hal itu.
Baca 2 Timotius 2: 11, 12 dan Wahyu 5: 10. Kebenaran apakah yang bisa kita peroleh dari ayat-ayat ini? Lihat juga 1 Kor. 6: 2, 3.
2 Timotius 2:11-12 Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia;
jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;
Wahyu 5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi."
1 Korintus 6:2-3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?
Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.
Mereka yang diselamatkan akan diberi kuasa sebagai raja dan imam. Ide tentang kerajaan menyiratkan beberapa jenis otoritas; ide imam disertai dengan implikasi bertindak dalam komunikasi antara Allah dan makhluk lain, bahkan mungkin dengan mereka yang berasal dari dunia ciptaan lain, mereka yang tidak pemah mengenal pengalaman dosa dan duka karena dosa.
“Segenap kekayaan alam semesta akan terbuka untuk pelajaran dan penyelidikan umat tebusan Allah. Tanpa dibelenggu oleh kefanaan, mereka terbang tanpa letih ke dunia-dunia yang jauh – dunia-dunia yang terharu dalam kesedihan menyaksikan penderitaan manusia, dan yang menyanyikan nyanyian kesukaan karena mendengar kabar penebusan jiwa-jiwa. Dengan kesenangan yang tak terkatakan anak-anak dunia ini berbaur ke dalam sukacita dan hikmat makhluk-makhluk yang tidak jatuh.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 715. Menurut Anda apakah artinya “masuk ke dalam sukacita dan hikmat makhluk-makhluk yang tidak jatuh”? Apakah yang bisa kita peiajari dari makhluk yang tidak jatuh? Dan yang bisa mereka pelajari dari kita?
Rabu 27 Maret 2013 "LEBIH BANYAK PEMULIHAN"
Dalam dunia yang kita kenal, saling memangsa adalah cara hidup yang umum di kalangan binatang. Istilah “rantai makanan” adalah pengingat akrab akan pentingnya saling memangsa dalam ekologi kita, dan kita mengalami kesulitan membayangkan dunia tanpa hal itu. Tapi pada awalnya, semua makhluk darat memakan tanaman hijau (Kej. 1: 30). Tidak ada hewan yang memakan hewan lainnya. Kejadian 1: 30 tidak menyebutkan makanan dari makhluk laut, tetapi prinsip yang sama mungkin akan berlaku, sehingga Allah bisa melihat seluruh ciptaan dan menyatakan itu “sungguh amat baik.”
Baca Kejadian 6: 11-13; 9: 2-4. Pada saat air bah, perubahan apakah yang terjadi di alam? Apakah kerusakan lebih lanjut terjadi dalam hubungan manusia dan binatang setelah air bah?
Kejadian 6:11-13 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.
Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.
Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.
Kejadian 9:24 Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya,
Apa yang dimulai sebagai sebuah kerajaan yang damai telah menjadi penuh dengan penyelewengan, kekerasan, dan kejahatan. lni adalah akibat dosa. Dunia yang dulunya “amat baik” telah menjadi begitu buruk sehingga menyerukan kehancurannya sendiri.
Setelah air bah, binatang menjadi takut terhadap manusia. lni termasuk makhluk darat, udara, dan laut. Ini jelas berbeda dengan situasi sebelumnya. Tampak bahwa kekuasaan manusia atas hewan berkurang saat ini.
Baca Yesaya 65:25; 11:6-9. Bagaimanakah hubungan antara makhluk-makhluk di dunia kita sekarang berbeda dengan yang dijanjikan oleh Allah di masa depan?
Yesaya 65:25 Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus," firman TUHAN.
Yesaya 11:6-9 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.
Melalui keindahan bahasa puisi ini, Yesaya menunjukkan kepada kita bahwa tidak akan ada kekerasan di dunia baru. Penyelewengan dan kekerasan, yang menjadi karakteristik dari dunia sebelum air bah yang menyerukan kehancurannya, keduanya akan hilang dari yang baru. itu akan menjadi dunia yang serasi dan bekerja sama, sebuah kerajaan damai. Kita begitu terbiasa dengan kekerasan, saling memangsa, dan kematian sehingga sulit bagi kita untuk membayangkan hal lainnya.
Seperti kita lihat, lnjil itu pada hakikatnya adalah pemulihan. Meskipun, tentu, Allah saja yang dapat melakukan pemulihan akhir, apakah pilihan yang kita bisa buat yang dapat menolong untuk mengadakan beberapa pemulihan yang dibutuhkan sekarang?
Kamis 28 Maret 2013 "PEMULIHAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH"
“Sebelum dosa masuk ke dalam dunia ini, Adam menikmati suatu persekutuan terbuka dengan Khaliknya.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 7. Meskipun demikian setelah kejatuhan, hubungan dekat itu berubah secara radikal dalam banyak cara.
Baca Kejadian 3: 24, Keluaran 33: 20 dan Ulangan 5: 24-26. Apakah yang diakibatkan dosa terhadap hubungan erat yang ada antara manusia dan Allah?
Kejadian 3:24 Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.
Keluaran 33:20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."
Ulangan 5:24-26 dan berkata: Sesungguhnya, TUHAN, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup.
Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara TUHAN, Allah kita, kami akan mati.
Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti kami dan tetap hidup?
Dosa telah merusak hubungan antara Allah dan manusia. Allah menjauhkan pasangan itu dari hadirat-Nya untuk melindungi mereka. Manusia tidak bisa lagi melihat wajah Allah dan tetap hidup.
Namun, Tuhan dengan inisiatif-Nya sendiri, membawa rencana keselamatan, oleh mana hubungan yang rusak bisa diperbaiki, bahkan dengan harga atau tuntutan yang mengerikan terhadap diri-Nya sendiri.
Baca Yohanes 14:1-3 dan Wahyu 22:3-5. Apakah janji Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia menjalani hukuman di kayu salib, dan apakah hasilnya kelak?
Yohanes 14:1-3 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.
Wahyu 22:3-5 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,
dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.
Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.
Allah dan manusia akan dipersatukan kembali, dalam damai, dan bertatap muka. Bumi akan menjadi bebas dari kutukan apa pun, dan semua yang telah hilang akan dikembalikan. Umat tebusan akan diberikan sebuah lingkungan baru, kehidupan baru, kekuasaan baru, perdamaian baru dengan seluruh ciptaan, dan hubungan baru dengan Allah. Tujuan semula di balik penciptaan manusia sekarang akan terpenuhi. Allah, umat manusia, dan ciptaan akan selaras, dan keselarasan itu akan berlangsung selamanya.
Bahkan sekarang, sebelum penciptaan langit yang baru dan bumi yang baru, bagaimanakah kita bisa belajar untuk menikmati persekutuan yang erat dengan Allah? Apakah pilihan yang kita buat yang mempengaruhi hubungan kita dengan Allah, baik secara positif atau negatif?
Jumat 29 Maret 2013 "PENDALAMAN"
“Dan sementara tahun-tahun kekekalan bergulir, akan membawa penyataan Allah dan Kristus semakin kaya dan semakin mulia. Sementara pengetahuan berkembang, demikian juga dengan kasih, rasa hormat, kebahagiaan semakin bertambah. Semakin manusia mempelajari Allah, semakin besar kekaguman mereka terhadap tabiat Allah. Pada waktu Yesus membukakan di hadapan mereka kekayaan penebusan dan pencapaian yang luar biasa dalam pertikaian besar melawan Setan, hati umat yang telah ditebus tergerak untuk lebih berserah dengan sungguh-sungguh, dan dengan lebih bersukacita mereka memetik kecapi keemasan. Dan beribu-ribu dan berlaksa-laksa suara bersatu menyanyikan nyanyian akbar pujian...
“Pertikaian besar telah berakhir. Dosa dan orang-orang berdosa tidak ada lagi. Seluruh alam semesta sudah bersih. Suatu denyut keharmonisan dan kesukaan berdetak di seluruh alam kejadian. Dari Dia yang menciptakan semuanya, mengalir kehidupan dan terang dan kesukaan ke seluruh jagad raya yang tidak ada batasnya ini. Dari atom yang paling kecil sampai kepada dunia yang paling besar, segala sesuatu, yang bergerak atau yang tidak bergerak, dalam keindahan yang tak terselubung dan kesukaan yang sempurna menyatakan bahwa Allah itu kasih adanya.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 716.
PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN :
Kumpulkanlah ayat sebanyak yang Anda bisa dapatkan, terutama dari kitab Wahyu, yang berbicara tentang seperti apa bumi yang dipulihkan itu. Diskusikan di kelas apa yang dikatakan ayat-ayat tersebut. Aspek apakah dari bumi yang dipulihkan itu yang Anda temukan paling menarik? Aspek apakah yang paling sulit untuk dimengerti?
Bagaimanakah doktrin tentang penciptaan, sebagaimana yang terungkap dalam Kejadian 1 dan 2, terkait dengan doktrin penciptaan kembali langit dan bumi? Bagaimanakah kita bisa memahami penciptaan kembali ini jika evolusi teistik itu benar?
Baca Roma 8: 18 dan 2 Korintus 4: 16, 17. Apakah yang Paulus katakan di sini, dan bagaimanakah kita bisa memperoleh kenyamanan dari kata-kata ini untuk diri kita sendiri?
Masih tetap dalam keseluruhan konsep Injil sebagai “pemulihan.” Apakah arti kata itu? Apakah yang dipulihkan? Bagaimanakah itu dipulihkan? Dan peran apakah yang kita miliki, jika ada, dalam keseluruhan proses itu?
Apakah yang diungkapkan oleh janji langit yang baru dan bumi yang baru kepada kita tentang karakter Allah?
Label:
Rangkuman Sekolah Sabat
09.49
Sabat Petang, 16 Maret
PENDAHULUAN
Hubungan dipulihkan. Manusia--Adam dan Hawa--tidak saja diciptakan sebagai makhluk hidup yang paling cerdas tetapi juga paling mulia, dan kemuliaan itu ditandai utamanya dengan kebebasan berkehendak yang memberi mereka hak bebas memilih. Tanpa kebebasan tersebut pasangan manusia pertama itu hanya akan menjadi "manusia mesin" atau robot yang tidak dapat mengasihi dengan perasaan yang berasal dari hati sanubari.
Namun kebebasan memilih itu bukan tanpa risiko, sesuatu yang sangat pasti diketahui pula oleh Sang Pencipta. Risiko itu menjadi kenyataan tatkala Hawa terperdaya oleh Setan lalu memetik dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, atas kehendaknya sendiri, kemudian menyodorkannya pula kepada Adam yang langsung memakannya tanpa ragu. Tidak jelas apakah mereka masing-masing memakan satu buah atau hanya mengecap dari buah yang sama, tapi yang pasti mereka berdua telah melakukan pelanggaran secara bersama-sama.
Alkitab mencatat bahwa sebelum memetik buah itu Hawa melakukan semacam pengamatan dan pertimbangan. "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian" (Kej. 3:6; huruf miring ditambahkan). Dengan kata lain, proses keberdosaan itu dimulai dalam pikirannya lebih dulu baru kemudian melahirkan sebuah tindakan. Jadi, Hawa melakukan itu dengan penuh kesadaran, dan dia berbuat dosa oleh menggunakan haknya untuk memilih. Ini sesuai dengan perkataan rasul Petrus bahwa manusia berbuat dosa oleh sebab "keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup" (1Yoh. 2:16).
Tetapi puji syukur kepada Allah karena manusia tidak dibiarkan terus hidup dalam keberdosaannya tanpa sesuatu pengharapan. Segera setelah pasangan manusia pertama itu jatuh ke dalam dosa Tuhan langsung mencanangkan suatu jalan kelepasan dari kematian kekal akibat dosa melalui Yesus Kristus, "keturunan Hawa" yang akan "meremukkan kepala" Setan melalui kematian penebusan-Nya di kayu salib. Yesus adalah solusi atas dosa.
"Namun Yesus telah datang untuk menghancurkan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8) dan membebaskan kita dari kekuasaannya. Dia melakukan ini dengan mati menggantikan kita dan menawarkan kehidupan kepada kita. Di salib, Yesus menjadi dosa karena kita (2Kor. 5:21) dan mengalami perpisahan dari Bapa-Nya yang disebabkan oleh dosa. Oleh kematian-Nya, Yesus memulihkan hubungan antara Allah dan umat manusia yang telah rusak oleh dosa Adam dan Hawa" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].
Allah bukan saja Pencipta manusia; Dia adalah juga Penebus manusia!
Minggu, 17 Maret
KESELAMATAN DARI EDEN (Kasih Karunia Dalam Taman)
Bersama Yesus di Taman. Charles Austin Miles (1868-1946), sehari-harinya bekerja sebagai apoteker, adalah seorang pemimpin koor gereja yang menggemari fotografi. Suatu hari di bulan Maret 1912, Charles mengalami suatu pencerahan ketika sedang berada di kamar gelap untuk memproses film negatif hasil pemotretannya. (Bagi banyak generasi muda yang mungkin tidak mengetahuinya, sebelum ditemukan kamera digital yang mulai populer pertengahan dekade 1990-an, fotografi masih menggunakan teknologi seluloid yang disebut "filem negatif" dalam bentuk gulungan yang dimasukkan ke dalam kamera--dulu namanya "tustel"--untuk merekam setiap gambar, dan kemudian harus diproses dalam ruang tanpa cahaya sebelum bisa dicetak ke atas kertas foto.) Di kamar gelap itulah Charles mengaku pikirannya seperti dikuasai oleh pemandangan di kubur Yesus tatkala Maria Magdalena datang pada pagi hari Minggu itu, sebagaimana tercatat dalam Yoh. 20:11-18 yang baru dibacanya.
Masih berada dalam suasana batin tersebut, sekeluarnya dari kamar gelap itu Austin mulai menulis puisi yang kemudian menjelma menjadi lirik lagu berjudul "In the Garden" yang dalam versi bahasa Indonesia adalah "Aku Masuk Dalam Taman" (LS No. 182). Lagu ini langsung populer setelah digunakan sebagai lagu tema sepanjang seri KKR oleh evangelis Billy Sunday (1862-1935), mantan atlet nasional AS cabang olahraga baseball yang kemudian menjadi penginjil. Belakangan lagu tersebut masuk dapur rekaman lewat suara penyanyi Perry Como (1912-2001) tahun 1958, dan selanjutnya diangkat sebagai lagu penutup dalam film drama "Places in the Heart" (1984) dengan pemeran utama Sally Field. Selain dinyanyikan oleh berbagai penyanyi legendaris seperti Mahalia Jackson, Jim Reeves dan Elvis Presley, lagu indah ini juga dilantunkan oleh Anne Murray seperti yang dapat anda saksikan di sini: http://www.youtube.com/watch?v=AzdFHs6j2dE. (Atau, anda juga dapat menyanyikannya sendiri dengan iringan musik dan panduan lirik dari link ini: http://www.youtube.com/watch?v=pWyufa8KTQs.)
Penghakiman di Taman Eden. Allah menangani dosa segera setelah itu terjadi. Sebagaimana sudah kita pelajari terdahulu, Allah mengumpulkan para pelaku yang terlibat dalam kejahatan itu untuk mengadakan "penghakiman pemeriksaan" langsung di TKP (tempat kejadian perkara). Adam, Hawa, dan juga ular sebagai representasi iblis (Kej. 3:9-15). Satu demi satu mereka yang terlibat dijatuhi hukuman, bahkan tak luput juga bumi itu sendiri. Tetapi, tentu saja, vonis yang paling penting dijatuhkan ke atas Hawa dan Setan sebagai pelaku utama. "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (ay. 15). Seperti sudah pernah dibahas sebelumnya, dunia Kristen menyebut ayat penting ini sebagai protoevangelium (injil perdana) di dalam mana termaktub kabar baik tentang penebusan dosa dan keselamatan melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang datang ke dunia ini sebagai manusia yang lahir melalui salah seorang perempuan keturunan Hawa.
"Tujuan dari pengadilan ini bukan supaya Allah dapat mempelajari fakta-fakta. Dia sudah tahu fakta-fakta itu. Sebaliknya, tujuannya adalah memberikan kepada pasangan itu suatu kesempatan untuk menerima tanggungjawab atas perbuatan mereka, langkah pertama menuju pertobatan dan pemulihan. Allah bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi, dan mereka mengaku, sekalipun enggan" [alinea kedua: kalimat kedua hingga kelima].
Kasih karunia di Taman Eden. Seusai mengadili dan menjatuhkan hukuman, tindakan Allah selajutnya adalah menangani Adam dan Hawa yang sedang berada dalam keadaan amat memalukan sesudah berbuat dosa, yaitu separuh telanjang karena tubuh mereka yang hanya dibalut cawat anyaman dari daun pohon ara (Kej. 3:7). Inilah karya pertama manusia setelah berdosa, pakaian yang terbuat dari dedaunan. Namun dalam pemandangan Tuhan pakaian seperti itu sangat tidak pantas untuk dikenakan oleh makhluk ciptaan termulia di Bumi, yang meski sudah berdosa masih tetap mengenakan citra Allah. "Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka" (ay. 21).
Usaha Adam dan Hawa untuk menutupi ketelanjangan mereka akibat dosa dengan pakaian daun ara buatan tangan sendiri melambangkan usaha manusia berdosa untuk membenarkan diri di hadapan Allah. Tetapi Allah tidak berkenan dengan "agama daun ara" seperti itu. Keberdosaan manusia yang telah menyebabkan mereka berada dalam ketelanjangan harus dibalut oleh "pakaian kebenaran" yang berasal dari Allah sendiri, yaitu melalui "korban penebusan" sebagaimana binatang yang harus mati untuk diambil kulitnya demi kepentingan manusia, sebab "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr. 9:22). Manusia tidak dapat membenarkan diri melalui penurutan hukum, ataupun menutupi perbuatan dosa mereka dengan kebaikan dan kebajikan, itu hanya berguna untuk kehidupan sementara di dunia ini. Anda dan saya hanya bisa beroleh keselamatan dengan mengenakan "pakaian pesta" (Mat. 22:11, 12), yaitu kebenaran Kristus, yang adalah kasih karunia Allah.
"Bayangkanlah perasaan Adam ketika hewan itu mati, mungkin untuk menggantikan dia sebagai suatu kurban. Itulah pertama kalinya Adam melihat kematian, dan hal itu pasti telah membawa kesedihan pikiran yang hebat kepadanya. Kemudian hewan itu dikuliti dan pakaian dibuat dari kulit tersebut. Kulit itu ditaruh ke atas tubuh Adam untuk menutupi ketelanjangannya. Setiap kali dia melihatnya, atau merasakannya, dia pasti teringat akan apa yang telah dilakukannya dan apa yang sudah hilang dari padanya. Lebih penting lagi, itu merupakan pengingat akan kasih karunia Allah" [alinea terakhir: enam kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang kasih karunia yang Allah adakan di Taman Eden?
1. Segera setelah manusia pertama itu berdosa, Tuhan langsung bertindak dengan mengadakan penghakiman dan memutuskan vonis. Adam dan Hawa tidak langsung mati pada hari mereka memakan buah larangan itu, tetapi kematian mereka sudah ditetapkan pada hari itu juga (Kej. 2:17).
2. Allah menjatuhkan hukuman atas dosa berdasarkan keadilan-Nya, tetapi pada waktu yang sama Dia juga menyediakan pengampunan dan penebusan dosa berdasarkan kasih-Nya. Dosa ialah pelanggaran hukum Allah (1Yoh. 3:4), tetapi darah Kristus adalah pengampunan dosa (Mat. 26:28).
3. Manusia tidak dapat menutupi dosa-dosanya dan membenarkan diri dengan perbuatan kebaikan atau pun penurutan hukum Allah, itu adalah "agama daun ara" yang tidak berguna. Keselamatan hanya bisa diperoleh melalui iman terhadap kurban penebusan Kristus.
Senin, 18 Maret
ALLAH SUMBER KEHIDUPAN (Dosa dan Kematian)
Tanah kembali ke tanah. Akibat dosa adalah kematian (Rm. 6:23), dan kematian mengubah tubuh manusia--melalui proses dekomposisi--kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Adam telah dijadikan dari debu tanah (Kej. 2:7), atau tanah liat (Ay. 10:9), maka setelah mati akan berubah kembali menjadi tanah. "Hal yang sama terjadi pada kita. Perhatikan--kita tidak kembali menjadi kera karena kita tidak dibuat dari kera. Kita dijadikan dari debu, dan kepada debulah kita kembali pada saat kematian" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
Penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam tubuh manusia mempunyai persamaan dengan unsur-unsur pada lapisan kulit bumi meskipun persentasenya berbeda. Tanah dan tubuh manusia sama-sama memiliki 59 unsur. (Baca di sini---> http://esoriano.wordpress.com/2007/05/25/from-dust-to-man-a-scientific-proof/). Planet bumi terdiri atas empat lingkup interaksi, yaitu atmosfir (udara), litosfir (lapisan kulit Bumi), hidrosfir (laut, danau, sungai-sungai) dan biosfir (semua makhluk hidup). Manusia (bagian dari biosfir) secara fisik mengandung komposisi unsur-unsur kimia yang sama dengan litosfir (lapisan kulit bumi) tapi dalam persentase yang tidak sama, sebagian lebih besar dan sebagian lagi lebih kecil. Silakan mendalami pada situs ini--->
http://www.earthlearningidea.com/PDF/108_What_made_of.pdf.
Kehidupan berasal dari Allah. Musa mencatat bahwa "Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Sementara itu pemazmur menyatakan, "Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta" (Mzm. 104:29-30). Berdasarkan ayat-ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manusia merupakan perpaduan antara dua unsur utama, yaitu unsur bumi (jasmani) dan unsur ilahi (rohani). Unsur yang berasal dari Allah--nafas dan roh--itulah yang menghidupkan manusia, oleh sebab "dalam Dia ada hidup" (Yoh. 1:4), dan "karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas" (Kis. 17:25). Sedangkan unsur yang berasal dari bumi ini--debu dan tanah--tidak mengandung kehidupan apapun tetapi hanyalah sekadar "mewadahi" unsur-unsur ilahi yang merupakan sumber hidup itu.
"Kematian dapat kita hasilkan, tetapi penciptaan kehidupan berada di luar jangkauan kita. Allah saja yang memiliki kemampuan untuk menciptakan organisme-organisme yang hidup. Para ilmuwan telah mencoba untuk menciptakan kehidupan, mengira bahwa jika mereka dapat berbuat demikian maka mereka mempunyai satu alasan mengapa mereka tidak percaya kepada Allah. Sejauh ini, semua upaya tersebut telah gagal" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].
Dosa memisahkan dari Sumber kehidupan. Alasan mengapa Allah tidak menghiraukan umat Israel, bangsa pilihan-Nya itu, ketika mereka ditimpa kemalangan, ialah karena kejahatan dan dosa mereka. "Jangan mengira TUHAN terlalu lemah untuk menyelamatkan kamu, atau terlalu tuli untuk mendengar seruanmu," kata nabi Yesaya. "Karena kejahatanmulah maka Ia tidak mendengarkan waktu kamu berdoa kepada-Nya. Dosa-dosamulah yang memisahkan kamu dari Allah" (Yes. 59:1-2, BIMK; huruf miring ditambahkan).
Dalam kepanikannya Daud pernah berseru kepada Tuhan, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang" (Mzm. 22:2-3). Mengapa Daud takut ditinggalkan Allah? Oleh sebab Allah adalah sumber kehidupan (Mzm. 36:10; Yes. 57:16) dan sumber air hidup (Yer. 17:13).
"Jika kehidupan hanya datang dari Allah, maka perpisahan dari Allah memutuskan kita dari sumber kehidupan. Akibat yang tak terelakkan dari perpisahan dengan Allah adalah kematian...Dosa, berdasarkan pada sifatnya, menyebabkan perpisahan dari kehidupan, dan akibatnya adalah kematian" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang dosa dan kematian?
1. Hukum Allah menetapkan bahwa akibat dosa adalah kematian, dan hukum alam menentukan bahwa tubuh manusia yang mati kembali menjadi tanah. Jasad manusia yang mengalami dekomposisi tidak akan mencemari tanah tapi unsur-unsurnya langsung diserap dan menyatu kembali dengan tanah.
2. Manusia merupakan wujud perpaduan antara unsur-unsur alam duniawi (tanah/debu) dan ilahi (nafas/roh). Dalam perspektif alkitabiah, kematian terjadi akibat hilangnya unsur ilahi dari tubuh manusia. Bila seorang manusia mati, jasadnya tinggal di bumi, rohnya kembali kepada Allah (Pkh. 12:7; Ay. 34:14-15).
3. Allah adalah sumber kehidupan, tetapi dosa menyebabkan kematian. Ini bukan berarti bahwa dosa lebih berkuasa dari kehidupan yang berasal dari Allah, tetapi justeru kematian adalah kegenapan dari hukuman atas dosa (Rm. 6:23; Kej. 3:19).
Selasa, 19 Maret
SOLUSI ATAS DOSA (Ketika Kita Masih Berdosa...)
Respon Allah terhadap dosa. Allah membedakan antara dosa dengan orang berdosa; Ia membenci dosa tapi mengasihi orang berdosa. Rasul Paulus berkata, "Ketika kita dalam keadaan tidak berdaya, Kristus mati untuk kita pada waktu yang tepat yang ditentukan oleh Allah; padahal kita orang-orang yang jauh dari Allah...Tetapi Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa" (Rm. 5:6, 8, BIMK). Surat Paulus kepada jemaat di Roma diperkirakan ditulis dan dikirim dari kota Korintus, tahun 57 AD. Paulus terkesan dengan reputasi orang-orang Kristen di Roma yang telah tersiar ke mana-mana (Rm. 1:8), dan menyatakan kerinduannya untuk mengunjungi mereka suatu hari kelak (ay. 10), keinginan yang baru terpenuhi beberapa tahun kemudian dalam kesempatan untuk naik banding sehubungan dengan perkaranya (Kis. 25:11-12).
Tidak jelas bagaimana dan kapan jemaat di kota Roma itu berdiri, yang pasti pendirinya bukan Paulus dan Petrus (seperti yang diklaim oleh Gereja Katolik Roma). Diyakini gereja di Roma adalah hasil penginjilan orang-orang Kristen Yahudi yang juga hadir pada Hari Pentakosta di Yerusalem (Kis. 2:10). Tatkala kaisar Klaudius pada tahun 49 AD mengeluarkan maklumat persona-non-grata (pengusiran) orang-orang Yahudi dari Roma, sebagian dari mereka mengungsi ke Korintus, termasuk suami-istri Akwila dan Priskila yang kemudian menjadi rekan bisnis Paulus (Kis. 18:2-3). Orang-orang Yahudi perantauan balik ke Roma setelah kaisar Nero yang naik takhta tahun 54 AD mengijinkan mereka untuk kembali. Kekristenan berkembang pesat di Roma, sampai "permainan politik" jahat dari sang kaisar yang dengan sengaja membakar kota ini tahun 64 AD, lalu mengambinghitamkan orang-orang Kristen dan menganiaya mereka dengan bengis.
Jemaat di Roma adalah jemaat yang besar, sebagian adalah orang-orang Kristen Yahudi perantauan dan sebagian lagi orang-orang Kristen non-Yahudi. Kepada mereka inilah sang rasul menyatakan tentang kurban penebusan dosa oleh Yesus Kristus--yang sudah mati lebih dari 20 tahun lalu--sebagai pernyataan kasih Allah ketika umat percaya itu masih "dalam keadaan tidak berdaya" dan "jauh dari Allah." Tulisan rasul Paulus itu juga ditujukan kepada kita, umat percaya yang hidup 2000 tahun kemudian setelah kematian Kristus. Namun sesungguhnya, jauh sebelum itu, rencana penebusan dosa melalui kematian Kristus sudah dicanangkan Allah di Taman Eden segera setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Secepat itulah Allah merespon dan menyediakan solusi terhadap dosa manusia.
"Dia bisa saja dibenarkan sepenuhnya dalam menyerahkan Adam dan Hawa kepada kuasa Setan yang membinasakan; lagi pula, mereka sudah menentukan pilihan mereka. Tetapi Allah tahu bahwa Adam dan Hawa tidak memahami arti sepenuhnya dari apa yang mereka telah lakukan, dan Dia bertekad untuk memberikan mereka kesempatan untuk jadi lebih mengetahui dan mampu untuk memilih kembali" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
Bagaimana respon kita? Kalau Allah telah merespon kesalahan manusia itu dengan menyediakan kesempatan kedua kepada manusia, bagaimana dengan kita ketika merespon orang-orang lain yang berbuat kesalahan terhadap kita? Allah tidak menunggu Adam dan Hawa untuk meminta maaf atas kesalahan mereka, tetapi justeru Allah sendiri yang langsung mengambil prakarsa untuk menyediakan jalan bagi pemulihan hubungan antara manusia dengan Diri-Nya yang telah terputus oleh dosa.
"Perlakuan Allah terhadap orang berdosa menunjukkan arti sebenarnya dari kasih. Itu bukan perasaan belaka tetapi sebuah perilaku berprinsip di mana setiap upaya dilakukan untuk mendamaikan si pelanggar dengan pihak yang dilukai dan memulihkan hubungan. Perlakuan Allah terhadap Adam dan Hawa adalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana Dia menangani dosa kita" [alinea terakhir].
Pena inspirasi menulis: "Kita tidak akan pernah mengenal makna kata "kasih karunia" ini sekiranya kita tidak jatuh. Allah mengasihi malaikat-malaikat suci, yang melayani Dia dan taat kepada semua perintah-Nya; tetapi Dia tidak memberikan kepada mereka kasih karunia. Makhluk-makhluk surgawi ini tidak mengenal akan kasih karunia; mereka tidak pernah memerlukannya karena mereka tidak pernah berdosa. Kasih karunia adalah sifat Allah yang ditunjukkan kepada makhluk manusia yang tidak layak. Kita sendiri tidak mencarinya, tetapi kasih karunia itulah yang dikirim untuk mencari kita" (Ellen G. White, Review and Herald, 15 Oktober 1908).
Apa yang kita pelajari tentang respon Allah terhadap dosa manusia?
1. Ketika Roh Tuhan mengilhami pikiran rasul Paulus untuk menulis surat kepada jemaat di kota Roma abad pertama itu, pekabaran yang menguatkan iman tersebut telah juga disiapkan untuk seluruh umat percaya di kemudian hari hingga pada akhir zaman.
2. Allah ingin agar semua manusia mengetahui tentang kasih karunia yang dicanangkan-Nya di Taman Eden, supaya manusia tahu bagaimana Sang Pencipta itu merespon persoalan dosa. Manusia mengikhtiarkan dosa, tetapi Allah mengikhtiarkan penyelamatan dari dosa.
3. Para malaikat saja tidak pernah merasakan kasih karunia Allah yang ajaib itu, karena mereka memang tidak membutuhkannya. Kita manusia mutlak memerlukan itu, selayaknyalah kita menyambutnya dengan bersyukur dan juga dengan mempraktikkan roh pengampunan yang sama terhadap orang lain.
Rabu, 20 Maret
KURBAN PENEBUSAN (Pengganti yang Menanggung Dosa)
Menebus dari kutukan dosa. Hukum Musa menetapkan bahwa apabila di antara bangsa Israel ada seseorang melakukan tindak kejahatan yang luar biasa, orang itu bukan saja pantas dihukum mati tapi juga mayatnya digantung untuk menjadi tontonan masyarakat, dan dengan demikian maka seluruh keluarganya menjadi malu. Tentu saja hukuman yang terkesan keji ini dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera dan menjadi pelajaran bagi orang lain, "sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah" (Ul. 21:22-23). Namun ditetapkan pula bahwa sebelum matahari terbenam hari itu mayat tersebut harus diturunkan untuk dikuburkan. Itulah sebabnya mayat Yesus diturunkan dari salib untuk dikuburkan pada hari itu juga (Yoh. 19:38-40).
Rasul Paulus menggunakan gagasan hukum Musa tersebut dalam menjelaskan pengorbanan Yesus Kristus untuk mati di salib, sebuah kematian yang memalukan dan terkutuk. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" (Gal. 3:13; huruf miring ditambahkan). Begitu dahsyatnya akibat dari dosa manusia yang tertanggung ke atas pundak Yesus, sehingga Juruselamat itu harus menjalani cara kematian yang dahsyat pula. Kata asli yang diterjemahkan dengan menebus pada ayat ini adalah แผฮพฮฑฮณฮฟฯแฝฑฮถฯ, exagorazล, sebuah kata-kerja yang berarti membeli kembali atau "membayar suatu harga untuk membebaskan dari kekuasaan pihak lain." Oleh kematian-Nya di kayu salib itu Yesus membayar tebusan demi membebaskan anda dan saya dari kutukan dan kuasa dosa. Di kayu salib itu status Kristus adalah seperti orang yang terkutuk oleh dosa yang dipikul-Nya.
"Di salib, Kristus menerima kutukan dosa demi kita. Ini merupakan perubahan dalam kedudukan-Nya dengan Bapa. Anak domba kurban itu ketika dibawa ke mezbah menjadi pengganti bagi kematian orang berdosa. Demikian pula, bilamana Kristus dibawa ke salib, statusnya di hadapan Bapa pun berubah" [alinea kedua: empat kalimat pertama].
Dosa memisahkan dari Allah. Ketika sedang tergantung di atas kayu salib, Yesus melihat Bapa di surga memalingkan wajah-Nya. Ia berseru: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46). Sebagian orang berpendapat bahwa Allah Bapa memalingkan wajah-Nya karena tidak tahan menyaksikan penderitaan yang sedang ditanggung oleh Putra-Nya itu, ada pula yang berkomentar bahwa karena Yesus Kristus saat itu sedang memikul dosa umat manusia membuat Allah yang tidak dapat melihat dosa terpaksa memutuskan hubungan sejenak dengan Putra-Nya itu.
Sementara kedua komentar tersebut sangat baik dan dapat diterima, mungkin kita juga dapat mempertimbangkan alasan ketiga mengapa Allah memalingkan wajah-Nya dari Yesus: Allah harus "berpisah" sejenak dari Yesus supaya Putra-Nya yang sedang memikul dosa manusia saat itu terputus hubungan-Nya dengan Allah, Sumber kehidupan, sehingga Yesus bisa mati sesuai dengan tuntutan hukuman dosa. "Dengan menanggung kesalahan dosa-dosa kita ke atas diri-Nya dan mati dalam keterpisahan dari Allah, Yesus menggenapi janji yang dibuat di Taman Eden bahwa Benih perempuan itu akan meremukkan kepala ular itu. Pengorbanan-Nya memungkinkan terjadinya pendamaian antara Allah dengan umat manusia dan pada akhirnya akan menghasilkan pembersihan terakhir kejahatan dari alam semesta (Ibr. 2:14, Why. 20:14)" [alinea pertama].
Yesus sendiri adalah Sumber kehidupan. Dia telah menunjukkan kuasa itu ketika membangkitkan Lazarus yang sudah tiga hari meninggal (Yoh. 11:1-45), dan juga anak perempuan Yairus, kepala rumah ibadah (Luk. 8:41, 49-56). Tetapi, manakala Yesus meletakkan kutukan dosa manusia ke atas pundak-Nya di atas kayu salib, bukan saja semua kuasa ilahi itu harus dilepaskan dari diri-Nya, tapi Ia juga harus mengalami kematian itu sendirian. "Terpisah dari hadirat Bapa, Ia merasakan kutukan yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan kata lain, Yesus, yang adalah Satu dengan Bapa sejak masa kekekalan, mengalami suatu perpisahan dari Bapa dalam apa yang Ellen White sebut 'keterpisahan dari kuasa ilahi'" [alinea kedua: kalimat kelima dan keenam].
Apa yang kita pelajari tentang kurban penebusan dosa yang Yesus Kristus jalani?
1. Rencana keselamatan Allah menuntut kematian Putra-Nya sendiri sebagai kurban pengganti. Salib adalah skenario penebusan manusia yang nyata, bukan sandiwara. Di Golgota, Yesus Kristus menanggung kutukan dosa yang seharusnya ditanggung oleh anda dan saya (Yes. 53:4, 5).
2. Kematian Yesus di kayu salib disebut "penebusan" karena oleh kematian itu Dia membayar tuntutan untuk pembebasan manusia dari hukuman dosa, yaitu kematian kekal, dan gantinya menyediakan hidup kekal bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16; 1Yoh. 5:10-12).
3. Ketika menghadapi saat-saat kematian-Nya di atas salib itu Yesus harus mengalami keterpisahan dari Allah Bapa, sebuah situasi yang amat mengerikan. Mungkin bagi banyak orang yang belum menyadarinya, dosa adalah soal sepele, tapi bagi Tuhan dosa adalah masalah yang sangat serius.
Kamis, 21 Maret
Meskipun banyak hal tentang cara Allah bekerja tidak diketahui oleh manusia, sebagai umat percaya kita yakin bahwa itu semua dilakukan karena kasih-Nya kepada manusia. Rencana keselamatan yang diadakan-Nya, dengan membiarkan Putra-Nya yang tunggal datang ke dunia ini untuk mati sebagai Juruselamat dan Penebus, itu adalah bukti nyata paling penting yang bisa diperlihatkan-Nya kepada kita. Hal itu sudah lebih dari cukup sehingga kita tidak memerlukan bukti lain apapun. Lagipula, penebusan dan keselamatan tersebut disediakan-Nya bukan karena kebaikan apapun yang anda dan saya telah lakukan. Allah mau menyelamatkan kita--itu saja!
"Ia menyelamatkan kita, bukan karena kita sudah melakukan sesuatu yang baik, melainkan karena Ia sendiri mengasihani kita. Ia menyelamatkan kita melalui Roh Allah, yang memberikan kita kelahiran baru dan hidup baru dengan jalan membasuh kita. Allah mencurahkan Roh-Nya kepada kita dengan perantaraan Yesus Kristus, Raja Penyelamat kita, supaya oleh rahmat Yesus, kita berbaik kembali dengan Allah dan kita mendapat hidup sejati dan kekal yang kita harap-harapkan" (Tit. 3:5-7, BIMK).
PENCIPTAAN DAN INJIL
Written By Unknown on Sabtu, 23 Maret 2013 | 09.49
Sabat Petang, 16 Maret
PENDAHULUAN
Hubungan dipulihkan. Manusia--Adam dan Hawa--tidak saja diciptakan sebagai makhluk hidup yang paling cerdas tetapi juga paling mulia, dan kemuliaan itu ditandai utamanya dengan kebebasan berkehendak yang memberi mereka hak bebas memilih. Tanpa kebebasan tersebut pasangan manusia pertama itu hanya akan menjadi "manusia mesin" atau robot yang tidak dapat mengasihi dengan perasaan yang berasal dari hati sanubari.
Namun kebebasan memilih itu bukan tanpa risiko, sesuatu yang sangat pasti diketahui pula oleh Sang Pencipta. Risiko itu menjadi kenyataan tatkala Hawa terperdaya oleh Setan lalu memetik dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, atas kehendaknya sendiri, kemudian menyodorkannya pula kepada Adam yang langsung memakannya tanpa ragu. Tidak jelas apakah mereka masing-masing memakan satu buah atau hanya mengecap dari buah yang sama, tapi yang pasti mereka berdua telah melakukan pelanggaran secara bersama-sama.
Alkitab mencatat bahwa sebelum memetik buah itu Hawa melakukan semacam pengamatan dan pertimbangan. "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian" (Kej. 3:6; huruf miring ditambahkan). Dengan kata lain, proses keberdosaan itu dimulai dalam pikirannya lebih dulu baru kemudian melahirkan sebuah tindakan. Jadi, Hawa melakukan itu dengan penuh kesadaran, dan dia berbuat dosa oleh menggunakan haknya untuk memilih. Ini sesuai dengan perkataan rasul Petrus bahwa manusia berbuat dosa oleh sebab "keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup" (1Yoh. 2:16).
Tetapi puji syukur kepada Allah karena manusia tidak dibiarkan terus hidup dalam keberdosaannya tanpa sesuatu pengharapan. Segera setelah pasangan manusia pertama itu jatuh ke dalam dosa Tuhan langsung mencanangkan suatu jalan kelepasan dari kematian kekal akibat dosa melalui Yesus Kristus, "keturunan Hawa" yang akan "meremukkan kepala" Setan melalui kematian penebusan-Nya di kayu salib. Yesus adalah solusi atas dosa.
"Namun Yesus telah datang untuk menghancurkan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8) dan membebaskan kita dari kekuasaannya. Dia melakukan ini dengan mati menggantikan kita dan menawarkan kehidupan kepada kita. Di salib, Yesus menjadi dosa karena kita (2Kor. 5:21) dan mengalami perpisahan dari Bapa-Nya yang disebabkan oleh dosa. Oleh kematian-Nya, Yesus memulihkan hubungan antara Allah dan umat manusia yang telah rusak oleh dosa Adam dan Hawa" [alinea pertama: empat kalimat terakhir].
Allah bukan saja Pencipta manusia; Dia adalah juga Penebus manusia!
Minggu, 17 Maret
KESELAMATAN DARI EDEN (Kasih Karunia Dalam Taman)
Bersama Yesus di Taman. Charles Austin Miles (1868-1946), sehari-harinya bekerja sebagai apoteker, adalah seorang pemimpin koor gereja yang menggemari fotografi. Suatu hari di bulan Maret 1912, Charles mengalami suatu pencerahan ketika sedang berada di kamar gelap untuk memproses film negatif hasil pemotretannya. (Bagi banyak generasi muda yang mungkin tidak mengetahuinya, sebelum ditemukan kamera digital yang mulai populer pertengahan dekade 1990-an, fotografi masih menggunakan teknologi seluloid yang disebut "filem negatif" dalam bentuk gulungan yang dimasukkan ke dalam kamera--dulu namanya "tustel"--untuk merekam setiap gambar, dan kemudian harus diproses dalam ruang tanpa cahaya sebelum bisa dicetak ke atas kertas foto.) Di kamar gelap itulah Charles mengaku pikirannya seperti dikuasai oleh pemandangan di kubur Yesus tatkala Maria Magdalena datang pada pagi hari Minggu itu, sebagaimana tercatat dalam Yoh. 20:11-18 yang baru dibacanya.
Masih berada dalam suasana batin tersebut, sekeluarnya dari kamar gelap itu Austin mulai menulis puisi yang kemudian menjelma menjadi lirik lagu berjudul "In the Garden" yang dalam versi bahasa Indonesia adalah "Aku Masuk Dalam Taman" (LS No. 182). Lagu ini langsung populer setelah digunakan sebagai lagu tema sepanjang seri KKR oleh evangelis Billy Sunday (1862-1935), mantan atlet nasional AS cabang olahraga baseball yang kemudian menjadi penginjil. Belakangan lagu tersebut masuk dapur rekaman lewat suara penyanyi Perry Como (1912-2001) tahun 1958, dan selanjutnya diangkat sebagai lagu penutup dalam film drama "Places in the Heart" (1984) dengan pemeran utama Sally Field. Selain dinyanyikan oleh berbagai penyanyi legendaris seperti Mahalia Jackson, Jim Reeves dan Elvis Presley, lagu indah ini juga dilantunkan oleh Anne Murray seperti yang dapat anda saksikan di sini: http://www.youtube.com/watch?v=AzdFHs6j2dE. (Atau, anda juga dapat menyanyikannya sendiri dengan iringan musik dan panduan lirik dari link ini: http://www.youtube.com/watch?v=pWyufa8KTQs.)
Penghakiman di Taman Eden. Allah menangani dosa segera setelah itu terjadi. Sebagaimana sudah kita pelajari terdahulu, Allah mengumpulkan para pelaku yang terlibat dalam kejahatan itu untuk mengadakan "penghakiman pemeriksaan" langsung di TKP (tempat kejadian perkara). Adam, Hawa, dan juga ular sebagai representasi iblis (Kej. 3:9-15). Satu demi satu mereka yang terlibat dijatuhi hukuman, bahkan tak luput juga bumi itu sendiri. Tetapi, tentu saja, vonis yang paling penting dijatuhkan ke atas Hawa dan Setan sebagai pelaku utama. "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (ay. 15). Seperti sudah pernah dibahas sebelumnya, dunia Kristen menyebut ayat penting ini sebagai protoevangelium (injil perdana) di dalam mana termaktub kabar baik tentang penebusan dosa dan keselamatan melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang datang ke dunia ini sebagai manusia yang lahir melalui salah seorang perempuan keturunan Hawa.
"Tujuan dari pengadilan ini bukan supaya Allah dapat mempelajari fakta-fakta. Dia sudah tahu fakta-fakta itu. Sebaliknya, tujuannya adalah memberikan kepada pasangan itu suatu kesempatan untuk menerima tanggungjawab atas perbuatan mereka, langkah pertama menuju pertobatan dan pemulihan. Allah bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi, dan mereka mengaku, sekalipun enggan" [alinea kedua: kalimat kedua hingga kelima].
Kasih karunia di Taman Eden. Seusai mengadili dan menjatuhkan hukuman, tindakan Allah selajutnya adalah menangani Adam dan Hawa yang sedang berada dalam keadaan amat memalukan sesudah berbuat dosa, yaitu separuh telanjang karena tubuh mereka yang hanya dibalut cawat anyaman dari daun pohon ara (Kej. 3:7). Inilah karya pertama manusia setelah berdosa, pakaian yang terbuat dari dedaunan. Namun dalam pemandangan Tuhan pakaian seperti itu sangat tidak pantas untuk dikenakan oleh makhluk ciptaan termulia di Bumi, yang meski sudah berdosa masih tetap mengenakan citra Allah. "Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka" (ay. 21).
Usaha Adam dan Hawa untuk menutupi ketelanjangan mereka akibat dosa dengan pakaian daun ara buatan tangan sendiri melambangkan usaha manusia berdosa untuk membenarkan diri di hadapan Allah. Tetapi Allah tidak berkenan dengan "agama daun ara" seperti itu. Keberdosaan manusia yang telah menyebabkan mereka berada dalam ketelanjangan harus dibalut oleh "pakaian kebenaran" yang berasal dari Allah sendiri, yaitu melalui "korban penebusan" sebagaimana binatang yang harus mati untuk diambil kulitnya demi kepentingan manusia, sebab "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr. 9:22). Manusia tidak dapat membenarkan diri melalui penurutan hukum, ataupun menutupi perbuatan dosa mereka dengan kebaikan dan kebajikan, itu hanya berguna untuk kehidupan sementara di dunia ini. Anda dan saya hanya bisa beroleh keselamatan dengan mengenakan "pakaian pesta" (Mat. 22:11, 12), yaitu kebenaran Kristus, yang adalah kasih karunia Allah.
"Bayangkanlah perasaan Adam ketika hewan itu mati, mungkin untuk menggantikan dia sebagai suatu kurban. Itulah pertama kalinya Adam melihat kematian, dan hal itu pasti telah membawa kesedihan pikiran yang hebat kepadanya. Kemudian hewan itu dikuliti dan pakaian dibuat dari kulit tersebut. Kulit itu ditaruh ke atas tubuh Adam untuk menutupi ketelanjangannya. Setiap kali dia melihatnya, atau merasakannya, dia pasti teringat akan apa yang telah dilakukannya dan apa yang sudah hilang dari padanya. Lebih penting lagi, itu merupakan pengingat akan kasih karunia Allah" [alinea terakhir: enam kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang kasih karunia yang Allah adakan di Taman Eden?
1. Segera setelah manusia pertama itu berdosa, Tuhan langsung bertindak dengan mengadakan penghakiman dan memutuskan vonis. Adam dan Hawa tidak langsung mati pada hari mereka memakan buah larangan itu, tetapi kematian mereka sudah ditetapkan pada hari itu juga (Kej. 2:17).
2. Allah menjatuhkan hukuman atas dosa berdasarkan keadilan-Nya, tetapi pada waktu yang sama Dia juga menyediakan pengampunan dan penebusan dosa berdasarkan kasih-Nya. Dosa ialah pelanggaran hukum Allah (1Yoh. 3:4), tetapi darah Kristus adalah pengampunan dosa (Mat. 26:28).
3. Manusia tidak dapat menutupi dosa-dosanya dan membenarkan diri dengan perbuatan kebaikan atau pun penurutan hukum Allah, itu adalah "agama daun ara" yang tidak berguna. Keselamatan hanya bisa diperoleh melalui iman terhadap kurban penebusan Kristus.
Senin, 18 Maret
ALLAH SUMBER KEHIDUPAN (Dosa dan Kematian)
Tanah kembali ke tanah. Akibat dosa adalah kematian (Rm. 6:23), dan kematian mengubah tubuh manusia--melalui proses dekomposisi--kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Adam telah dijadikan dari debu tanah (Kej. 2:7), atau tanah liat (Ay. 10:9), maka setelah mati akan berubah kembali menjadi tanah. "Hal yang sama terjadi pada kita. Perhatikan--kita tidak kembali menjadi kera karena kita tidak dibuat dari kera. Kita dijadikan dari debu, dan kepada debulah kita kembali pada saat kematian" [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
Penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam tubuh manusia mempunyai persamaan dengan unsur-unsur pada lapisan kulit bumi meskipun persentasenya berbeda. Tanah dan tubuh manusia sama-sama memiliki 59 unsur. (Baca di sini---> http://esoriano.wordpress.com/2007/05/25/from-dust-to-man-a-scientific-proof/). Planet bumi terdiri atas empat lingkup interaksi, yaitu atmosfir (udara), litosfir (lapisan kulit Bumi), hidrosfir (laut, danau, sungai-sungai) dan biosfir (semua makhluk hidup). Manusia (bagian dari biosfir) secara fisik mengandung komposisi unsur-unsur kimia yang sama dengan litosfir (lapisan kulit bumi) tapi dalam persentase yang tidak sama, sebagian lebih besar dan sebagian lagi lebih kecil. Silakan mendalami pada situs ini--->
http://www.earthlearningidea.com/PDF/108_What_made_of.pdf.
Kehidupan berasal dari Allah. Musa mencatat bahwa "Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kej. 2:7). Sementara itu pemazmur menyatakan, "Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta" (Mzm. 104:29-30). Berdasarkan ayat-ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manusia merupakan perpaduan antara dua unsur utama, yaitu unsur bumi (jasmani) dan unsur ilahi (rohani). Unsur yang berasal dari Allah--nafas dan roh--itulah yang menghidupkan manusia, oleh sebab "dalam Dia ada hidup" (Yoh. 1:4), dan "karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas" (Kis. 17:25). Sedangkan unsur yang berasal dari bumi ini--debu dan tanah--tidak mengandung kehidupan apapun tetapi hanyalah sekadar "mewadahi" unsur-unsur ilahi yang merupakan sumber hidup itu.
"Kematian dapat kita hasilkan, tetapi penciptaan kehidupan berada di luar jangkauan kita. Allah saja yang memiliki kemampuan untuk menciptakan organisme-organisme yang hidup. Para ilmuwan telah mencoba untuk menciptakan kehidupan, mengira bahwa jika mereka dapat berbuat demikian maka mereka mempunyai satu alasan mengapa mereka tidak percaya kepada Allah. Sejauh ini, semua upaya tersebut telah gagal" [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].
Dosa memisahkan dari Sumber kehidupan. Alasan mengapa Allah tidak menghiraukan umat Israel, bangsa pilihan-Nya itu, ketika mereka ditimpa kemalangan, ialah karena kejahatan dan dosa mereka. "Jangan mengira TUHAN terlalu lemah untuk menyelamatkan kamu, atau terlalu tuli untuk mendengar seruanmu," kata nabi Yesaya. "Karena kejahatanmulah maka Ia tidak mendengarkan waktu kamu berdoa kepada-Nya. Dosa-dosamulah yang memisahkan kamu dari Allah" (Yes. 59:1-2, BIMK; huruf miring ditambahkan).
Dalam kepanikannya Daud pernah berseru kepada Tuhan, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang" (Mzm. 22:2-3). Mengapa Daud takut ditinggalkan Allah? Oleh sebab Allah adalah sumber kehidupan (Mzm. 36:10; Yes. 57:16) dan sumber air hidup (Yer. 17:13).
"Jika kehidupan hanya datang dari Allah, maka perpisahan dari Allah memutuskan kita dari sumber kehidupan. Akibat yang tak terelakkan dari perpisahan dengan Allah adalah kematian...Dosa, berdasarkan pada sifatnya, menyebabkan perpisahan dari kehidupan, dan akibatnya adalah kematian" [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang dosa dan kematian?
1. Hukum Allah menetapkan bahwa akibat dosa adalah kematian, dan hukum alam menentukan bahwa tubuh manusia yang mati kembali menjadi tanah. Jasad manusia yang mengalami dekomposisi tidak akan mencemari tanah tapi unsur-unsurnya langsung diserap dan menyatu kembali dengan tanah.
2. Manusia merupakan wujud perpaduan antara unsur-unsur alam duniawi (tanah/debu) dan ilahi (nafas/roh). Dalam perspektif alkitabiah, kematian terjadi akibat hilangnya unsur ilahi dari tubuh manusia. Bila seorang manusia mati, jasadnya tinggal di bumi, rohnya kembali kepada Allah (Pkh. 12:7; Ay. 34:14-15).
3. Allah adalah sumber kehidupan, tetapi dosa menyebabkan kematian. Ini bukan berarti bahwa dosa lebih berkuasa dari kehidupan yang berasal dari Allah, tetapi justeru kematian adalah kegenapan dari hukuman atas dosa (Rm. 6:23; Kej. 3:19).
Selasa, 19 Maret
SOLUSI ATAS DOSA (Ketika Kita Masih Berdosa...)
Respon Allah terhadap dosa. Allah membedakan antara dosa dengan orang berdosa; Ia membenci dosa tapi mengasihi orang berdosa. Rasul Paulus berkata, "Ketika kita dalam keadaan tidak berdaya, Kristus mati untuk kita pada waktu yang tepat yang ditentukan oleh Allah; padahal kita orang-orang yang jauh dari Allah...Tetapi Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa" (Rm. 5:6, 8, BIMK). Surat Paulus kepada jemaat di Roma diperkirakan ditulis dan dikirim dari kota Korintus, tahun 57 AD. Paulus terkesan dengan reputasi orang-orang Kristen di Roma yang telah tersiar ke mana-mana (Rm. 1:8), dan menyatakan kerinduannya untuk mengunjungi mereka suatu hari kelak (ay. 10), keinginan yang baru terpenuhi beberapa tahun kemudian dalam kesempatan untuk naik banding sehubungan dengan perkaranya (Kis. 25:11-12).
Tidak jelas bagaimana dan kapan jemaat di kota Roma itu berdiri, yang pasti pendirinya bukan Paulus dan Petrus (seperti yang diklaim oleh Gereja Katolik Roma). Diyakini gereja di Roma adalah hasil penginjilan orang-orang Kristen Yahudi yang juga hadir pada Hari Pentakosta di Yerusalem (Kis. 2:10). Tatkala kaisar Klaudius pada tahun 49 AD mengeluarkan maklumat persona-non-grata (pengusiran) orang-orang Yahudi dari Roma, sebagian dari mereka mengungsi ke Korintus, termasuk suami-istri Akwila dan Priskila yang kemudian menjadi rekan bisnis Paulus (Kis. 18:2-3). Orang-orang Yahudi perantauan balik ke Roma setelah kaisar Nero yang naik takhta tahun 54 AD mengijinkan mereka untuk kembali. Kekristenan berkembang pesat di Roma, sampai "permainan politik" jahat dari sang kaisar yang dengan sengaja membakar kota ini tahun 64 AD, lalu mengambinghitamkan orang-orang Kristen dan menganiaya mereka dengan bengis.
Jemaat di Roma adalah jemaat yang besar, sebagian adalah orang-orang Kristen Yahudi perantauan dan sebagian lagi orang-orang Kristen non-Yahudi. Kepada mereka inilah sang rasul menyatakan tentang kurban penebusan dosa oleh Yesus Kristus--yang sudah mati lebih dari 20 tahun lalu--sebagai pernyataan kasih Allah ketika umat percaya itu masih "dalam keadaan tidak berdaya" dan "jauh dari Allah." Tulisan rasul Paulus itu juga ditujukan kepada kita, umat percaya yang hidup 2000 tahun kemudian setelah kematian Kristus. Namun sesungguhnya, jauh sebelum itu, rencana penebusan dosa melalui kematian Kristus sudah dicanangkan Allah di Taman Eden segera setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Secepat itulah Allah merespon dan menyediakan solusi terhadap dosa manusia.
"Dia bisa saja dibenarkan sepenuhnya dalam menyerahkan Adam dan Hawa kepada kuasa Setan yang membinasakan; lagi pula, mereka sudah menentukan pilihan mereka. Tetapi Allah tahu bahwa Adam dan Hawa tidak memahami arti sepenuhnya dari apa yang mereka telah lakukan, dan Dia bertekad untuk memberikan mereka kesempatan untuk jadi lebih mengetahui dan mampu untuk memilih kembali" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
Bagaimana respon kita? Kalau Allah telah merespon kesalahan manusia itu dengan menyediakan kesempatan kedua kepada manusia, bagaimana dengan kita ketika merespon orang-orang lain yang berbuat kesalahan terhadap kita? Allah tidak menunggu Adam dan Hawa untuk meminta maaf atas kesalahan mereka, tetapi justeru Allah sendiri yang langsung mengambil prakarsa untuk menyediakan jalan bagi pemulihan hubungan antara manusia dengan Diri-Nya yang telah terputus oleh dosa.
"Perlakuan Allah terhadap orang berdosa menunjukkan arti sebenarnya dari kasih. Itu bukan perasaan belaka tetapi sebuah perilaku berprinsip di mana setiap upaya dilakukan untuk mendamaikan si pelanggar dengan pihak yang dilukai dan memulihkan hubungan. Perlakuan Allah terhadap Adam dan Hawa adalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana Dia menangani dosa kita" [alinea terakhir].
Pena inspirasi menulis: "Kita tidak akan pernah mengenal makna kata "kasih karunia" ini sekiranya kita tidak jatuh. Allah mengasihi malaikat-malaikat suci, yang melayani Dia dan taat kepada semua perintah-Nya; tetapi Dia tidak memberikan kepada mereka kasih karunia. Makhluk-makhluk surgawi ini tidak mengenal akan kasih karunia; mereka tidak pernah memerlukannya karena mereka tidak pernah berdosa. Kasih karunia adalah sifat Allah yang ditunjukkan kepada makhluk manusia yang tidak layak. Kita sendiri tidak mencarinya, tetapi kasih karunia itulah yang dikirim untuk mencari kita" (Ellen G. White, Review and Herald, 15 Oktober 1908).
Apa yang kita pelajari tentang respon Allah terhadap dosa manusia?
1. Ketika Roh Tuhan mengilhami pikiran rasul Paulus untuk menulis surat kepada jemaat di kota Roma abad pertama itu, pekabaran yang menguatkan iman tersebut telah juga disiapkan untuk seluruh umat percaya di kemudian hari hingga pada akhir zaman.
2. Allah ingin agar semua manusia mengetahui tentang kasih karunia yang dicanangkan-Nya di Taman Eden, supaya manusia tahu bagaimana Sang Pencipta itu merespon persoalan dosa. Manusia mengikhtiarkan dosa, tetapi Allah mengikhtiarkan penyelamatan dari dosa.
3. Para malaikat saja tidak pernah merasakan kasih karunia Allah yang ajaib itu, karena mereka memang tidak membutuhkannya. Kita manusia mutlak memerlukan itu, selayaknyalah kita menyambutnya dengan bersyukur dan juga dengan mempraktikkan roh pengampunan yang sama terhadap orang lain.
Rabu, 20 Maret
KURBAN PENEBUSAN (Pengganti yang Menanggung Dosa)
Menebus dari kutukan dosa. Hukum Musa menetapkan bahwa apabila di antara bangsa Israel ada seseorang melakukan tindak kejahatan yang luar biasa, orang itu bukan saja pantas dihukum mati tapi juga mayatnya digantung untuk menjadi tontonan masyarakat, dan dengan demikian maka seluruh keluarganya menjadi malu. Tentu saja hukuman yang terkesan keji ini dimaksudkan untuk menimbulkan efek jera dan menjadi pelajaran bagi orang lain, "sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah" (Ul. 21:22-23). Namun ditetapkan pula bahwa sebelum matahari terbenam hari itu mayat tersebut harus diturunkan untuk dikuburkan. Itulah sebabnya mayat Yesus diturunkan dari salib untuk dikuburkan pada hari itu juga (Yoh. 19:38-40).
Rasul Paulus menggunakan gagasan hukum Musa tersebut dalam menjelaskan pengorbanan Yesus Kristus untuk mati di salib, sebuah kematian yang memalukan dan terkutuk. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'" (Gal. 3:13; huruf miring ditambahkan). Begitu dahsyatnya akibat dari dosa manusia yang tertanggung ke atas pundak Yesus, sehingga Juruselamat itu harus menjalani cara kematian yang dahsyat pula. Kata asli yang diterjemahkan dengan menebus pada ayat ini adalah แผฮพฮฑฮณฮฟฯแฝฑฮถฯ, exagorazล, sebuah kata-kerja yang berarti membeli kembali atau "membayar suatu harga untuk membebaskan dari kekuasaan pihak lain." Oleh kematian-Nya di kayu salib itu Yesus membayar tebusan demi membebaskan anda dan saya dari kutukan dan kuasa dosa. Di kayu salib itu status Kristus adalah seperti orang yang terkutuk oleh dosa yang dipikul-Nya.
"Di salib, Kristus menerima kutukan dosa demi kita. Ini merupakan perubahan dalam kedudukan-Nya dengan Bapa. Anak domba kurban itu ketika dibawa ke mezbah menjadi pengganti bagi kematian orang berdosa. Demikian pula, bilamana Kristus dibawa ke salib, statusnya di hadapan Bapa pun berubah" [alinea kedua: empat kalimat pertama].
Dosa memisahkan dari Allah. Ketika sedang tergantung di atas kayu salib, Yesus melihat Bapa di surga memalingkan wajah-Nya. Ia berseru: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46). Sebagian orang berpendapat bahwa Allah Bapa memalingkan wajah-Nya karena tidak tahan menyaksikan penderitaan yang sedang ditanggung oleh Putra-Nya itu, ada pula yang berkomentar bahwa karena Yesus Kristus saat itu sedang memikul dosa umat manusia membuat Allah yang tidak dapat melihat dosa terpaksa memutuskan hubungan sejenak dengan Putra-Nya itu.
Sementara kedua komentar tersebut sangat baik dan dapat diterima, mungkin kita juga dapat mempertimbangkan alasan ketiga mengapa Allah memalingkan wajah-Nya dari Yesus: Allah harus "berpisah" sejenak dari Yesus supaya Putra-Nya yang sedang memikul dosa manusia saat itu terputus hubungan-Nya dengan Allah, Sumber kehidupan, sehingga Yesus bisa mati sesuai dengan tuntutan hukuman dosa. "Dengan menanggung kesalahan dosa-dosa kita ke atas diri-Nya dan mati dalam keterpisahan dari Allah, Yesus menggenapi janji yang dibuat di Taman Eden bahwa Benih perempuan itu akan meremukkan kepala ular itu. Pengorbanan-Nya memungkinkan terjadinya pendamaian antara Allah dengan umat manusia dan pada akhirnya akan menghasilkan pembersihan terakhir kejahatan dari alam semesta (Ibr. 2:14, Why. 20:14)" [alinea pertama].
Yesus sendiri adalah Sumber kehidupan. Dia telah menunjukkan kuasa itu ketika membangkitkan Lazarus yang sudah tiga hari meninggal (Yoh. 11:1-45), dan juga anak perempuan Yairus, kepala rumah ibadah (Luk. 8:41, 49-56). Tetapi, manakala Yesus meletakkan kutukan dosa manusia ke atas pundak-Nya di atas kayu salib, bukan saja semua kuasa ilahi itu harus dilepaskan dari diri-Nya, tapi Ia juga harus mengalami kematian itu sendirian. "Terpisah dari hadirat Bapa, Ia merasakan kutukan yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan kata lain, Yesus, yang adalah Satu dengan Bapa sejak masa kekekalan, mengalami suatu perpisahan dari Bapa dalam apa yang Ellen White sebut 'keterpisahan dari kuasa ilahi'" [alinea kedua: kalimat kelima dan keenam].
Apa yang kita pelajari tentang kurban penebusan dosa yang Yesus Kristus jalani?
1. Rencana keselamatan Allah menuntut kematian Putra-Nya sendiri sebagai kurban pengganti. Salib adalah skenario penebusan manusia yang nyata, bukan sandiwara. Di Golgota, Yesus Kristus menanggung kutukan dosa yang seharusnya ditanggung oleh anda dan saya (Yes. 53:4, 5).
2. Kematian Yesus di kayu salib disebut "penebusan" karena oleh kematian itu Dia membayar tuntutan untuk pembebasan manusia dari hukuman dosa, yaitu kematian kekal, dan gantinya menyediakan hidup kekal bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16; 1Yoh. 5:10-12).
3. Ketika menghadapi saat-saat kematian-Nya di atas salib itu Yesus harus mengalami keterpisahan dari Allah Bapa, sebuah situasi yang amat mengerikan. Mungkin bagi banyak orang yang belum menyadarinya, dosa adalah soal sepele, tapi bagi Tuhan dosa adalah masalah yang sangat serius.
Kamis, 21 Maret
REFORMASI ROHANI (Suatu Ciptaan Baru)
Salib sebagai kegenapan injil. Pada hari Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Taman Eden, proses kematian mulai menjalari tubuh mereka. Samuele Bacchiocchi (1938-2008)--gurubesar agama pada Andrews University, Michigan, yang terkenal dengan bukunya From Sabbath to Sunday (1977) yang menghebohkan itu--mendefinisikan keadaan tersebut sebagai "dari satu keadaan di mana memungkinkan mereka untuk tidak mati (kekekalan bersyarat), mereka masuk kepada keadaan di mana mustahil bagi mereka untuk tidak mati (kefanaan tak bersyarat)" (Sumber: Immortality or Resurection?, Bab IV; www.biblicalperspective.com).
Allah telah menciptakan pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, dalam keadaan mereka yang kekal secara bersyarat. Syaratnya ialah tidak sekali-kali memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu (Kej. 2:17). Karena mereka melanggar syarat tersebut--yang kita sebut sebagai "berdosa"--maka akibatnya mereka kehilangan sifat kekekalan yang disandang sejak diciptakan, dan tanda pertama dari hilangnya sifat kekekalan itu adalah tanggalnya pakaian kemuliaan yang menutupi tubuh sehingga mereka menjadi telanjang (Kej. 3:7). Belakangan, sesuai dengan firman Allah, manusia pertama itupun mati dalam arti kata yang sebenarnya (Kej. 5:5). Kefanaan pun diwariskan kepada keturunan mereka, dimulai dengan Habel yang mati di tangan Kain (Kej. 4:8), dan seterusnya kepada umat manusia hingga hari kiamat. Untuk memberantas kematian itulah Yesus Kristus datang ke dunia ini dengan cara "menanggungkan" kematian itu ke atas diri-Nya.
"Kabar injil yang agung itu terpusat sekitar kematian Yesus sebagai pengganti kita. Dia meletakkan dosa kita ke atas diri-Nya, memikulkan ke atas diri-Nya sendiri hukuman yang jika tidak demikian pasti menjadi bagian kita. Sebagaimana yang juga telah kita lihat, keseluruhan gagasan tentang Kristus sebagai pengganti kita, mati bagi dosa dunia, terkait erat dengan kisah Penciptaan. Kristus sudah datang untuk memusnahkan kematian, yang merupakan penyusup asing dalam penciptaan Allah" [alinea pertama: empat kalimat pertama].
Hati baru. Bangsa Israel purba jatuh-bangun dalam kehidupan rohani mereka sebagai satu umat pilihan, sehingga Tuhan bertindak dengan membuat mereka terusir dari negeri mereka dan terserak ke berbagai negara. Hukuman pembuangan itu telah menimbulkan sindiran, terhadap mereka dan terhadap Tuhan. "Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya," ejek bangsa-bangsa kafir itu (Yeh. 36:20). Akhirnya Tuhan memutuskan untuk mengembalikan mereka ke kampung halaman, bukan demi bangsa yang durhaka itu tetapi demi nama baik Allah sendiri (ay. 22-24). Untuk itu Tuhan hendak melakukan suatu pembaruan rohani. "Maka kamu Kuberikan hati yang baru dan pikiran yang baru. Hatimu yang sekeras batu itu akan Kuganti dengan hati yang taat. Roh-Ku akan Kucurahkan ke dalam hatimu dan kamu akan Kujaga supaya hidup menurut hukum-hukum-Ku serta mentaati segala perintah-Ku" (ay. 26, 27, BIMK; huruf miring ditambahkan).
Ini adalah suatu perubahan total sehingga bangsa itu akan memiliki tabiat dan mentalitas yang baru. Dalam pengertian tertentu, tindakan Allah ini sama dengan "penciptaan ulang" untuk menjadikan mereka seperti manusia baru. "Hati baru adalah suatu ciptaan yang hanya Allah dapat lakukan. Kita tidak dapat melakukannya sendiri tetapi harus bergantung pada Pencipta yang sama yang telah membentuk dunia dan menciptakan leluhur kita yang pertama" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].
Sebagai orang Kristen, kita pun adalah orang-orang yang sudah diciptakan baru di dalam Kristus. Rasul Paulus berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17; huruf miring ditambahkan). Itulah sebabnya kita diamarkan untuk berubah di dalam perangai dan cara hidup, "karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui" (Kol. 3:9, 20; huruf miring ditambahkan). Orang-orang Kristen yang tidak berubah kelakuannya harus mengalami "transplantasi hati dan otak" supaya pada akhirnya mereka dapat berkata seperti rasul Paulus, "Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya" (Gal. 2:20, BIMK).
Pena inspirasi menulis: "Kuasa dari kehidupan yang lebih luhur, lebih suci, dan lebih mulia merupakan kebutuhan kita yang besar. Pikiran kita sudah terlalu banyak memikirkan tentang dunia, dan terlalu sedikit tentang kerajaan surga. Dalam usahanya untuk mencapai idaman Allah untuknya, orang Kristen sama sekali tidak boleh putus asa. Kesempurnaan moral dan rohani, melalui anugerah dan kuasa Kristus, dijanjikan kepada semua. Yesus adalah sumber kuasa itu, mata air kehidupan" (Ellen G. White, The Acts of the Apostles, hlm. 478).
Apa yang kita pelajari tentang ciptaan baru yang dijanjikan Allah?
1. Kematian Yesus Kristus di kayu salib sebagai kurban pengganti menyediakan jalan kepada kita untuk diperbarui dan dipulihkan dari keadaan yang fana kembali kepada keadaan yang baka seperti ketika manusia diciptakan. Kali ini, pemulihan itu bersifat abadi karena maut sudah dikalahkan oleh Kristus.
2. Pada saat seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya maka terjadilah sebuah transformasi dalam diri orang itu, yaitu peralihan dari "manusia lama" diubahkan menjadi "manusia baru."
3. Allah berjanji untuk memberikan kepada kita "hati baru" dan "pikiran baru" agar kita tidak lagi mudah ditipu sehingga jatuh ke dalam dosa seperti leluhur kita yang pertama itu. Ini hanya dapat kita terima dengan berserah kepada kuasa-Nya, tanpa pamrih.
Jumat, 22 Maret
Salib sebagai kegenapan injil. Pada hari Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Taman Eden, proses kematian mulai menjalari tubuh mereka. Samuele Bacchiocchi (1938-2008)--gurubesar agama pada Andrews University, Michigan, yang terkenal dengan bukunya From Sabbath to Sunday (1977) yang menghebohkan itu--mendefinisikan keadaan tersebut sebagai "dari satu keadaan di mana memungkinkan mereka untuk tidak mati (kekekalan bersyarat), mereka masuk kepada keadaan di mana mustahil bagi mereka untuk tidak mati (kefanaan tak bersyarat)" (Sumber: Immortality or Resurection?, Bab IV; www.biblicalperspective.com).
Allah telah menciptakan pasangan manusia pertama, Adam dan Hawa, dalam keadaan mereka yang kekal secara bersyarat. Syaratnya ialah tidak sekali-kali memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu (Kej. 2:17). Karena mereka melanggar syarat tersebut--yang kita sebut sebagai "berdosa"--maka akibatnya mereka kehilangan sifat kekekalan yang disandang sejak diciptakan, dan tanda pertama dari hilangnya sifat kekekalan itu adalah tanggalnya pakaian kemuliaan yang menutupi tubuh sehingga mereka menjadi telanjang (Kej. 3:7). Belakangan, sesuai dengan firman Allah, manusia pertama itupun mati dalam arti kata yang sebenarnya (Kej. 5:5). Kefanaan pun diwariskan kepada keturunan mereka, dimulai dengan Habel yang mati di tangan Kain (Kej. 4:8), dan seterusnya kepada umat manusia hingga hari kiamat. Untuk memberantas kematian itulah Yesus Kristus datang ke dunia ini dengan cara "menanggungkan" kematian itu ke atas diri-Nya.
"Kabar injil yang agung itu terpusat sekitar kematian Yesus sebagai pengganti kita. Dia meletakkan dosa kita ke atas diri-Nya, memikulkan ke atas diri-Nya sendiri hukuman yang jika tidak demikian pasti menjadi bagian kita. Sebagaimana yang juga telah kita lihat, keseluruhan gagasan tentang Kristus sebagai pengganti kita, mati bagi dosa dunia, terkait erat dengan kisah Penciptaan. Kristus sudah datang untuk memusnahkan kematian, yang merupakan penyusup asing dalam penciptaan Allah" [alinea pertama: empat kalimat pertama].
Hati baru. Bangsa Israel purba jatuh-bangun dalam kehidupan rohani mereka sebagai satu umat pilihan, sehingga Tuhan bertindak dengan membuat mereka terusir dari negeri mereka dan terserak ke berbagai negara. Hukuman pembuangan itu telah menimbulkan sindiran, terhadap mereka dan terhadap Tuhan. "Katanya mereka umat TUHAN, tetapi mereka harus keluar dari tanah-Nya," ejek bangsa-bangsa kafir itu (Yeh. 36:20). Akhirnya Tuhan memutuskan untuk mengembalikan mereka ke kampung halaman, bukan demi bangsa yang durhaka itu tetapi demi nama baik Allah sendiri (ay. 22-24). Untuk itu Tuhan hendak melakukan suatu pembaruan rohani. "Maka kamu Kuberikan hati yang baru dan pikiran yang baru. Hatimu yang sekeras batu itu akan Kuganti dengan hati yang taat. Roh-Ku akan Kucurahkan ke dalam hatimu dan kamu akan Kujaga supaya hidup menurut hukum-hukum-Ku serta mentaati segala perintah-Ku" (ay. 26, 27, BIMK; huruf miring ditambahkan).
Ini adalah suatu perubahan total sehingga bangsa itu akan memiliki tabiat dan mentalitas yang baru. Dalam pengertian tertentu, tindakan Allah ini sama dengan "penciptaan ulang" untuk menjadikan mereka seperti manusia baru. "Hati baru adalah suatu ciptaan yang hanya Allah dapat lakukan. Kita tidak dapat melakukannya sendiri tetapi harus bergantung pada Pencipta yang sama yang telah membentuk dunia dan menciptakan leluhur kita yang pertama" [alinea ketiga: dua kalimat pertama].
Sebagai orang Kristen, kita pun adalah orang-orang yang sudah diciptakan baru di dalam Kristus. Rasul Paulus berkata, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor. 5:17; huruf miring ditambahkan). Itulah sebabnya kita diamarkan untuk berubah di dalam perangai dan cara hidup, "karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui" (Kol. 3:9, 20; huruf miring ditambahkan). Orang-orang Kristen yang tidak berubah kelakuannya harus mengalami "transplantasi hati dan otak" supaya pada akhirnya mereka dapat berkata seperti rasul Paulus, "Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya" (Gal. 2:20, BIMK).
Pena inspirasi menulis: "Kuasa dari kehidupan yang lebih luhur, lebih suci, dan lebih mulia merupakan kebutuhan kita yang besar. Pikiran kita sudah terlalu banyak memikirkan tentang dunia, dan terlalu sedikit tentang kerajaan surga. Dalam usahanya untuk mencapai idaman Allah untuknya, orang Kristen sama sekali tidak boleh putus asa. Kesempurnaan moral dan rohani, melalui anugerah dan kuasa Kristus, dijanjikan kepada semua. Yesus adalah sumber kuasa itu, mata air kehidupan" (Ellen G. White, The Acts of the Apostles, hlm. 478).
Apa yang kita pelajari tentang ciptaan baru yang dijanjikan Allah?
1. Kematian Yesus Kristus di kayu salib sebagai kurban pengganti menyediakan jalan kepada kita untuk diperbarui dan dipulihkan dari keadaan yang fana kembali kepada keadaan yang baka seperti ketika manusia diciptakan. Kali ini, pemulihan itu bersifat abadi karena maut sudah dikalahkan oleh Kristus.
2. Pada saat seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya maka terjadilah sebuah transformasi dalam diri orang itu, yaitu peralihan dari "manusia lama" diubahkan menjadi "manusia baru."
3. Allah berjanji untuk memberikan kepada kita "hati baru" dan "pikiran baru" agar kita tidak lagi mudah ditipu sehingga jatuh ke dalam dosa seperti leluhur kita yang pertama itu. Ini hanya dapat kita terima dengan berserah kepada kuasa-Nya, tanpa pamrih.
Jumat, 22 Maret
(PENUTUP)
Diterima oleh iman. Penebusan dosa melalui kematian Kristus di salib adalah cara Allah untuk "penciptaan ulang" manusia, yaitu melakukan pembaruan dalam diri orang percaya dengan menganugerahkan kepadanya pikiran dan hati baru yang akan mengubahnya menjadi manusia baru. Sebagaimana penciptaan manusia pertama, penciptaan ulang manusia untuk memulihkan keadaannya semula hanya dapat dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta. Rincian proses dari kedua hal itu, yakni penciptaan dan penciptaan ulang, hanya dapat kita terima oleh iman.
"Bagaimana persisnya Allah menyelesaikan pekerjaan penciptaan tidak pernah dinyatakan-Nya kepada manusia; ilmu pengetahuan tak dapat mengungkapkan rahasia-rahasia dari Yang Maha Tinggi. Kuasa penciptaan-Nya tak terpahami sama seperti eksistensi-Nya" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
Diterima oleh iman. Penebusan dosa melalui kematian Kristus di salib adalah cara Allah untuk "penciptaan ulang" manusia, yaitu melakukan pembaruan dalam diri orang percaya dengan menganugerahkan kepadanya pikiran dan hati baru yang akan mengubahnya menjadi manusia baru. Sebagaimana penciptaan manusia pertama, penciptaan ulang manusia untuk memulihkan keadaannya semula hanya dapat dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta. Rincian proses dari kedua hal itu, yakni penciptaan dan penciptaan ulang, hanya dapat kita terima oleh iman.
"Bagaimana persisnya Allah menyelesaikan pekerjaan penciptaan tidak pernah dinyatakan-Nya kepada manusia; ilmu pengetahuan tak dapat mengungkapkan rahasia-rahasia dari Yang Maha Tinggi. Kuasa penciptaan-Nya tak terpahami sama seperti eksistensi-Nya" [alinea pertama: dua kalimat terakhir].
Meskipun banyak hal tentang cara Allah bekerja tidak diketahui oleh manusia, sebagai umat percaya kita yakin bahwa itu semua dilakukan karena kasih-Nya kepada manusia. Rencana keselamatan yang diadakan-Nya, dengan membiarkan Putra-Nya yang tunggal datang ke dunia ini untuk mati sebagai Juruselamat dan Penebus, itu adalah bukti nyata paling penting yang bisa diperlihatkan-Nya kepada kita. Hal itu sudah lebih dari cukup sehingga kita tidak memerlukan bukti lain apapun. Lagipula, penebusan dan keselamatan tersebut disediakan-Nya bukan karena kebaikan apapun yang anda dan saya telah lakukan. Allah mau menyelamatkan kita--itu saja!
"Ia menyelamatkan kita, bukan karena kita sudah melakukan sesuatu yang baik, melainkan karena Ia sendiri mengasihani kita. Ia menyelamatkan kita melalui Roh Allah, yang memberikan kita kelahiran baru dan hidup baru dengan jalan membasuh kita. Allah mencurahkan Roh-Nya kepada kita dengan perantaraan Yesus Kristus, Raja Penyelamat kita, supaya oleh rahmat Yesus, kita berbaik kembali dengan Allah dan kita mendapat hidup sejati dan kekal yang kita harap-harapkan" (Tit. 3:5-7, BIMK).
By : Loddy L
Label:
Rangkuman Sekolah Sabat
13.43
PERNIKAHAN: SEBUAH KARUNIA DARI EDEN
Written By Unknown on Jumat, 01 Maret 2013 | 13.43
PELAJARAN KE-IX; 2 Maret 2013
"PERNIKAHAN: SEBUAH KARUNIA DARI EDEN"
Sabat Petang, 23 Februari
PENDAHULUAN
Suvenir dari Taman Eden. Dosa
mengakibatkan Adam dan Hawa terusir dari Taman Eden, rumah alamiah yang
penuh dengan kenikmatan. Namun pasangan suami-istri itu tidak keluar
dengan tangan hampa. Selain pakaian rancangan dan buatan tangan Allah
sendiri sebagai oleh-oleh berupa benda, nenek moyang pertama manusia itu
juga membawa suvenir non-materi dari Sang Pencipta, yakni perkawinan.
Dalam kasus Adam dan Hawa, perkawinan itu bertahan hingga ratusan tahun,
langgeng selama hayat dikandung badan. Sama seperti baju kulit yang
mereka kenakan dari Taman Eden itu, awet sampai akhir hayat.
Tentu
saja lembaga perkawinan bukan hanya untuk pengantin dari Eden itu,
tetapi buat seluruh keturunan mereka. Perkawinan adalah kebahagiaan yang
diciptakan Allah untuk manusia bisa nikmati dengan seutuhnya, sebuah
kenikmatan yang dapat dialami secara biologis dan psikologis. Namun,
sejarah membuktikan bahwa seiring dengan berjalannya waktu kebahagiaan
dari lembaga perkawinan ini pun telah mengalami kemerosotan karena
digerogoti oleh dosa dan penyelewengan.
"Sayangnya, bagi
begitu banyak orang pernikahan telah menjadi suatu pengalaman yang
paling sering penuh rasa sakit dan kemarahan gantinya sukacita dan
kedamaian. Bukan ini maksud atau tujuan pernikahan. Keadaan menyedihkan
dari begitu banyak pernihakan adalah suatu ekspresi yang kuat dari
kemerosotan yang telah diakibatkan oleh dosa terhadap umat manusia"
[alinea pertama: tiga kalimat terakhir].
Setelah Allah menciptakan manusia yang terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan, Ia lalu memberkati kedua pengantin itu sambil memerintahkan mereka untuk beranak-cucuk dan bertambah banyak (Kej.
1:28). Sesungguhnya, perkawinan adalah sebuah lembaga yang ditentukan
Allah untuk menjadi sarana pertumbuhan populasi manusia di bumi ini.
Ciptaan-ciptaan lainnya, fauna maupun flora, juga dikodratkan untuk
berkembang biak dan bertambah banyak, tetapi tidak seperti manusia yang
harus melalui lembaga pernikahan. Perkawinan di kalangan hewan dan
tumbuhan hanya sebuah tuntutan alam yang bersifat fisik supaya terjadi
pembuahan, sedangkan bagi manusia perkawinan adalah juga untuk memenuhi
maksud ilahi.
Minggu, 24 Februari
ADA YANG KURANG (Lo Tov, Tidak Baik)
Kesendirian Adam. Hingga
pada hari keenam minggu penciptaan (tepatnya, sampai Adam diciptakan),
Allah melihat semuanya "sungguh amat baik." Tetapi ternyata ada hal yang
kurang--Adam masih sendirian! "Tidak baik, kalau manusia itu
seorang diri saja," Allah berfirman. "Aku akan menjadikan penolong
baginya, yang sepadan dengan dia" (Kej. 2:18; huruf miring ditambahkan).
Kata Ibrani yang diterjemahkan dengan tidak baik dalam ayat ini adalah ืֹื־ ื֛ืֹื, lล-แนญลwแธ (dilafalkan: lo tov). Ini merupakan bentuk negatif dari kata ื֛ืֹื, baik, yang terdapat pada ayat-ayat sebelumnya.
Tentu
saja kita tidak akan berspekulasi mengapa Allah yang lebih dulu sudah
menciptakan hewan secara berpasang-pasangan, jantan dan betina, tetapi
menciptakan Adam seorang diri. Apalagi, manusia ditakdirkan untuk
menjadi makhluk sosial. Mungkin saja Allah hendak membiarkan agar dalam
diri Adam muncul "rasa membutuhkan" akan seorang teman atau pendamping,
supaya bilamana teman yang akan mendampinginya itu kelak hadir maka Adam
akan menyambutnya penuh rasa syukur dan selalu menghargainya. Tetapi,
apapun itu, Alkitab mencatat bahwa Allah sendiri yang menyatakan
penilaian-Nya. Inilah untuk pertama kalinya pernyataan negatif perihal
penciptaan disebutkan, bahkan dari mulut Sang Pencipta itu sendiri.
"Allah
telah menyatakan semua aspek Penciptaan itu 'baik' sampai pada waktu Ia
menciptakan Adam. Pada saat itu, Adam adalah satu-satunya
manusia...Jadi, Adam membutuhkan seseorang seperti dirinya dengan siapa
dia bisa menjalin suatu hubungan yang saling mencintai dan bekerjasama,
memantulkan hubungan kasih yang dicontohkan dalam Keilahian" [alinea
kedua: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].
Kebutuhan dipenuhi. Pawai
binatang-binatang yang berjalan berpasangan di hadapan Adam tampaknya
telah menimbulkan suatu rasa kebutuhan dalam dirinya--kebutuhan akan
seorang pendamping. Kita tidak tahu apakah Adam sadar bahwa
binatang-binatang yang berlalu di hadapannya itu memiliki dua jenis
kelamin berbeda, jantan dan betina, dan kita juga tidak tahu apakah dia mengerti makna
perbedaan fisiologis itu. Tetapi Allah tentu saja tahu, dan Ia juga
tahu rasa kebutuhan dalam diri Adam yang tidak tercetuskan itu. Maka,
untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Allah melaksanakan rencana-Nya. Jadi,
perempuan bukanlah makhluk yang muncul secara dadakan berdasarkan ide
yang tiba-tiba, tetapi ciptaan yang dihadirkan belakangan setelah
laki-laki menyadari kebutuhannya. Hawa adalah element of surprise (unsur kejutan) dalam skenario penciptaan Allah!
"Kita
bisa pastikan bahwa Tuhan juga bermaksud agar Adam memiliki seorang
istri. Mungkin Tuhan berniat menimbulkan suatu kerinduan dalam diri
Adam, perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang dari keberadaannya sendiri,
yang akan membuatnya semakin menghargai karunia yang Tuhan hendak
berikan kepadanya dalam rupa seorang istri" [alinea ketiga: dua kalimat
terakhir].
Pena inspirasi menulis: "Allah menjadikan
perempuan dari laki-laki, untuk menjadi seorang teman dan penolong bagi
dia, untuk memberi semangat, mendorong, dan menjadi berkat baginya.
Sebaliknya, lelaki itu harus menjadi penolong yang tangguh bagi wanita
itu. Semua yang memasuki kehidupan pernikahan dengan maksud yang
suci--suami untuk memperoleh kasih sayang yang murni dari hati seorang
wanita, istri untuk melunakkan dan meningkatkan tabiat seorang suami,
dan membawa kesempurnaan pada pernikahan itu--memenuhi maksud Allah bagi
mereka" (Ellen G. White, Signs of the Times, 6 September 1899).
Apa yang kita pelajari tentang hal yang "tidak baik" dalam penciptaan?
1.
Kesendirian adalah sesuatu yang "tidak baik" bagi manusia. Dalam kasus
Adam, kesendiriannya tentu saja menghalangi maksud Allah bagi manusia
untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi ini. Jadi, tidak mungkin Allah
sengaja hanya menciptakan Adam seorang diri.
2. Lembaga
pernikahan (suami-istri) adalah sarana melalui mana Allah ingin manusia
itu beranak-cucu dan melahirkan keturunan. Jadi, anak dan cucu maupun
generasi-generasi berikutnya bukanlah sekadar produk genetik dari
orangtua mereka, melainkan hasil dari berkat Allah melalui rumahtangga.
3.
Maksud dari lembaga pernikahan itu ialah agar seorang laki-laki dan
seorang perempuan dapat menjalin suatu hubungan yang berlandaskan kasih
sayang yang suci dan rasa saling membutuhkan, menyadari bahwa adalah
Allah sendiri yang merencanakan hubungan itu.
Senin, 25 Februari
TEMAN YANG SEPADAN (Seorang Pendamping Bagi Adam)
Allah memahami kebutuhan manusia. Meski
tidak disebutkan tetapi kita dapat yakin bahwa di antara hewan-hewan
yang berbaris di depan Adam untuk diberi nama pada hari itu terdiri atas
semua spesis yang pernah hidup di bumi ini. "Manusia itu memberi nama
kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala
binatang hutan..." (Kej. 2:20). Segala ternak dan segala binatang
berarti semua satwa dan burung yang Allah ciptakan. Kecuali, barangkali,
satwa yang hidup di air tidak diberi nama oleh Adam sebab tidak
disebutkan di sini bahwa mereka juga ikut berpawai. Tidak jelas pula
apakah prosesi pemberian nama itu dimengerti oleh hewan-hewan itu, tapi
yang pasti ini merupakan peragaan kekuasaan manusia atas binatang. Hewan
adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia dan tidak ada di antara
mereka yang bisa menyaingi kecerdasan manusia, sekalipun itu simpanse
yang digembar-gemborkan sebagai primata yang paling cerdas.
Segera
setelah tugas memberi nama semua satwa itu selesai, Allah menidurkan
Adam sebelum melakukan tindakan pembedahan. Ini adalah operasi pertama
dalam riwayat dunia ini, untuk menyembuhkan "penyakit kesepian" yang
dirasakan Adam. Perhatikan, meski Adam tidak mengeluh perihal
kesendiriannya tapi Allah mengetahui hal itu. Allah berfirman "Tidak
baik kalau manusia itu seorang diri saja" (Kej. 2:18), lalu Allah
bertindak "membuat manusia itu tidur nyenyak...mengambil salah satu
rusuk dari padanya, lalu...dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari
manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada
manusia itu." (ay. 21-22).
Sementara banyak di antara kita
yang mengeluh karena merasa apa yang kita minta melalui doa belum juga
terjawab, di sini kita melihat bahwa Allah mengetahui kebutuhan kita dan
memenuhinya sebelum kita sempat memintanya. Rasul Paulus menyatakan
bahwa adalah Roh Allah sendiri yang membantu manusia untuk menyampaikan
permohonan yang tak terucapkan. "Begitu juga Roh Allah datang menolong
kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita
berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita
dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. Maka
Allah, yang mengetahui isi hati manusia, mengerti kemauan Roh itu;
sebab Roh itu memohon kepada Allah untuk umat Allah, dan sesuai dengan
kemauan Allah" (Rm. 8:26-27, BIMK; huruf miring ditambahkan).
Satu daging. Mengapa
harus tulang rusuk? Banyak komentar yang pernah kita dengar perihal
"alasan-alasan" mengapa Allah memilih sebilah tulang rusuk dari tubuh
Adam untuk menjadikan Hawa. Terlepas dari kenyataan bahwa Alkitab
sendiri tidak menyebutkan apa-apa mengenai hal ini, kita bisa mengatakan
bahwa semua komentar itu adalah gagasan-gagasan yang cukup kreatif.
Namun yang pasti salah satu tulang rusuk Adam telah menjadi bagian dari
tubuh Hawa.
"Allah tidak membutuhkan tulang rusuk
Adam untuk menciptakan Hawa; Dia bisa saja menciptakan Hawa sebagaimana
Dia menciptakan Adam atau bahkan berfirman sehingga Hawa ada. Tetapi
Allah mempunyai alasan untuk membentuk Hawa dari salah satu tulang rusuk
Adam. Jika keduanya telah diciptakan sama sekali terpisah, hal itu
dapat menunjukkan bahwa secara alamiah mereka adalah individu yang
benar-benar berdiri sendiri. Tetapi berbagi daging dalam diri kedua
orang itu menunjukkan bahwa keduanya ditakdirkan untuk bersatu dan
dimaksudkan untuk menjadi 'satu daging'" [alinea kedua: kalimat
terakhir; alinea ketiga].
Sebenarnya seluruh bagian
tubuh Adam berasal dari debu tanah yang tidak bernyawa (Kej. 2:7),
termasuk tulang-tulang rusuknya. Namun Allah telah mengambil bagian
tubuh Adam yang sudah bernyawa, baru kemudian menambahkan debu tanah
yang tidak bernyawa untuk membentuk tubuh Hawa dengan sempurna (ay. 22).
Tampaknya Adam telah mendapatkan penjelasan tentang proses penciptaan
Hawa, termasuk bahwa dalam tubuh perempuan itu terdapat bagian dari
dirinya sendiri. Tidak heran bahwa demi melihat kehadiran Hawa reaksi
spontanitas Adam penuh dengan sukacita. Katanya berseru, "Inilah dia,
tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai
perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki" (ay. 23).
Orang
boleh saja mempersalahkan Adam ketika turut memakan buah larangan itu,
dan berspekulasi bahwa sekiranya dia menolaknya Tuhan pasti akan
menciptakan "Hawa" yang lain sebagai pengganti. Tetapi, pada hemat saya,
pendapat seperti itu terlalu naif. Adam sedang dalam kerinduan untuk
memperoleh seorang pendamping yang sepadan dengan dirinya ketika Allah
mengantar Hawa kepadanya, dan sejak saat itu Adam telah menikmati
kebersamaan yang penuh kemesraan beberapa waktu lamanya, dan mungkin
saja selama itu telah terjalin rasa saling percaya dan cinta yang
mendalam. Tidak segampang itu bagi seorang pria, yang semula hidup
sendiran, untuk menolak tawaran seorang wanita seperti Hawa yang telah
memberinya kasih sayang dan kemesraan.
"Dia sudah diciptakan dari Adam (ay. 22) dan dibawa kepada Adam (ay. 22). Proses
oleh mana Allah menciptakan Hawa menunjukkan dengan jelas bahwa Allah
dapat menyediakan pendamping yang Adam perlukan. Hal ini menjadi penting
di kemudian hari ketika Adam menghadapi godaan apakah akan bergabung
dengan Hawa memakan buah itu atau mempercayai Allah untuk mengatasi
keadaan" [alinea keempat: kalimat kedua hingga keempat].
Apa yang kita pelajari tentang penciptaan seorang pendamping bagi Adam?
1.
Meski Adam tidak mengungkapkan keinginan hatinya perihal kebutuhannya
akan seorang pendamping, Allah mengetahuinya. Melalui Roh-Nya Allah
menyelidik hati manusia dan mengetahui keinginan kita. Allah akan
memenuhi keinginan kita yang sesuai dengan kehendak-Nya.
2.
Fakta bahwa Hawa tercipta dari bagian tubuh Adam mengandung "sebuah
pesan" bahwa bilamana seorang pria telah dipersatukan dengan seorang
wanita sebagai pasangan suami-istri, mereka bukan lagi dua orang yang
terpisah melainkan dua orang dalam "satu daging" (dua pribadi yang
berbeda tapi tidak terpisah).
3. Penciptaan Hawa adalah
manifestasi dari penilaian dan kesimpulan Allah bahwa "tidak baik kalau
manusia itu seorang diri saja" (Kej. 2:18). Ikatan suami-istri, dari dua
jender yang berbeda, adalah rencana Sang Pencipta sejak permulaan.
Itulah kodrat manusia.
Selasa, 26 Februari
SURGA KECIL DI DUNIA (Pernikahan Ideal)
Meninggalkan ayah-ibu. Ketika
Allah menciptakan Hawa, seorang perempuan, berbeda dari Adam yang
adalah seorang laki-laki, maksud Tuhan ialah agar keduanya menjadi satu
pasangan yang sepadan dan saling melengkapi. Markus 10:6 menjadi
landasan ide dari ayat-ayat berikutnya: "Sebab pada awal dunia, Allah
menjadikan mereka laki-laki dan perempuan." Penciptaan manusia dengan
dua jender (jenis kelamin) yang berlainan itu dilandasi oleh satu maksud
tertentu, "sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu" (ay. 7, 8; huruf miring ditambahkan).
Kata-kata sebab itu (Grika: แผฮฝฮตฮบฮตฮฝ ฯฮฟฯฯฮฟฯ
, heneken toutou) dan sehingga (แฝฅฯฯฮต, hลste)
dalam ayat 7 dan 8 mempertegas adanya "hubungan kausatif" (hubungan
sebab-akibat) dengan ayat 6, di mana ayat 6 berfungsi sebagai kalimat
yang mengandung "fakta khusus" (Allah menciptakan manusia itu laki-laki
dan perempuan). Dalam konsep hubungan sebab dan akibat, fakta pada ayat 6
itu menjadi sebab terhadap akibat yang terjadi pada
ayat 7 dan 8. Jadi, kalau kita hendak menguraikan ketiga ayat ini dengan
mengubahnya menjadi bentuk kalimat tanya, bunyinya akan seperti ini:
Mengapa dari mulanya Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan
perempuan? Supaya mereka nanti bersatu sebagai suami-istri, sebagai satu
daging, dengan meninggalkan ayah dan ibu mereka masing-masing!
Menggenapi maksud Allah. Ayat berikutnya merupakan kesimpulan yang bersifat otoritatif: "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (ay. 9; huruf miring ditambahkan). Kata karena itu (ฮฟแฝฮฝ, oun)
dalam ayat ini mempertegas kewenangan Allah atas hubungan seorang
laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami-istri. Dengan kata lain,
rumahtangga yang mengikat seorang laki-laki dan seorang perempuan
menjadi suami-istri adalah kehendak Allah, dan bahwa perkawinan
merupakan lembaga yang didirikan oleh Allah sendiri, bukan manusia.
Apabila Allah mempersatukan dua insan, laki-laki dan perempuan, sebagai
suami-istri dalam satu rumahtangga, maka perkawinan itu bukan sekadar
sebuah "kontrak sosial" ataupun "ikatan keagamaan" melainkan kegenapan
dari maksud dan rencana Allah sejak penciptaan.
"Kesatuan
adalah ciri lain dari suatu perkawinan yang baik. Kesatuan tidak
berarti bahwa kedua pasangan itu harus berhenti menggunakan otak mereka
yang terpisah, tetapi mereka harus bersatu dalam tujuan mereka melakukan
yang terbaik untuk satu sama lain serta demi persatuan mereka...Yesus
juga menekankan sifat kekekalan dari perkawinan. Perkawinan bukanlah
suatu hubungan biasa untuk dibentuk dan dibubarkan sesuka hati. Itu
adalah komitmen seumur hidup. Mereka yang tidak siap untuk berkomitmen
seumur hidup harus menunda langkah tersebut sampai mereka siap" [alinea
ketiga dan keempat].
Kasih sebagai prinsip. Suami
ditakdirkan untuk menjadi kepala dalam rumahtangga, termasuk atas
istrinya. Ini bukan tradisi budaya yang berlaku dalam adat-istiadat
ketimuran saja, tetapi ini adalah takdir ilahi. Namun, dominasi suami
atas istri dalam rumahtangga tentu tidak identik dengan dominasi kaum
pria atas kaum wanita di luar konteks perkawinan. Tetapi semisal dalam
satu rumahtangga kedudukan sosial atau jabatan publik sang istri lebih
tinggi daripada suaminya, kodrat bahwa suami adalah "kepala" atas istri
tetap berlaku dan wajib dijunjung tinggi, di rumah maupun di luar rumah
sejauh menyangkut hubungan suami dan istri.
Alkitab mengajarkan, "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala
jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat
tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala
sesuatu" (Ef. 5:22-24; huruf miring ditambahkan). Kata Grika untuk kepala dalam ayat ini adalah ฮบฮตฯฮฑฮปแฝต, kephalฤ, (dilafalkan: kefรคlฤ'), sebuah kata-benda feminin yang secara harfiah berarti kepala dan secara arti kiasan merujuk kepada seorang pemimpin.
Setelah menasihati para istri untuk tunduk kepada suami, amaran berikutnya ditujukan kepada para suami. "Hai suami, kasihilah
istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah
menyerahkan diri-Nya baginya" (ay. 25; huruf miring ditambahkan). Kata
Grika untuk kasihilah dalam ayat ini adalah แผฮณฮฑฯแฝฑฯ, agapaล. Kata
ini sama seperti yang digunakan dalam Yohanes 3:16 dan Matius 22:37,
39. Menarik bahwa lazimnya dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan
pemicunya adalah cinta รฉrลs, แผฯฯฯ, (cinta asmara), namun dalam konteks ini Alkitab mengajarkan kepada suami untuk mengasihi istrinya dengan cinta agรกpฤ, แผฮณฮฌฯฮท, (cinta
suci), sebagaimana yang ditunjukkan Allah kepada manusia maupun Kristus
kepada jemaat, yakni cinta yang disertai dengan sikap pengorbanan.
"Adalah
hak istimewa suami untuk menyerahkan dirinya kepada istrinya dalam
pelayanan yang penuh kasih, sebagaimana Kristus telah menyerahkan
diri-Nya untuk jemaat. Pada gilirannya, istri harus menghormati suaminya
dan bekerjasama dalam usaha mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Inilah solusi untuk pertentangan yang telah dibawa oleh dosa ke dalam
hubungan pernikahan. Cinta yang rela berkorban dibalas dengan
penghormatan penuh kasih dan kebahagiaan bersama. Rumahtangga kita dapat
menjadi semacam rasa pendahuluan akan surga" [alinea terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang pernikahan ideal?
1.
Penciptaan manusia dalam dua jenis berbeda, laki-laki dan perempuan,
didasarkan pada gagasan Allah agar di kemudian hari manusia akan hidup
berpasangan dalam sebuah ikatan rumahtangga sebagai suami-istri.
2.
Sudah menjadi kodrat ilahi bahwa setelah dewasa laki-laki dan perempuan
akan meninggalkan orangtua masing-masing untuk hidup bersama sebagai
"satu daging," dua pribadi dalam satu kesatuan.
3.
Hubungan suami-istri digambarkan sebagai hubungan antara Kristus dengan
jemaat, di mana dari pihak suami dituntut kasih sayang dan dari pihak
istri dituntut penghormatan. Cinta yang diungkapkan lewat pengorbanan di
pihak suami dan penghormatan di pihak istri menjadikan sebuah
rumahtangga sebagai surga kecil di atas dunia.
Rabu, 27 Februari
KEINTIMAN DALAM KEKUDUSAN (Melindungi Apa yang Berharga)
Seks sebagai karunia. Seks
telah ditakdirkan untuk menjadi bagian dari kehidupan, dan Allah
sendiri yang menempatkan itu pada manusia maupun hewan. Namun, perilaku
seksual manusia tentu berbeda dari perilaku seksual hewan. (Paling
tidak, begitulah seharusnya!) Pada hewan, seks lebih sebagai sarana
untuk berkembang biak yang dilakukan hanya berdasarkan naluri dan
pengalaman. Sedangkan bagi manusia seks tidak semata-mata untuk
menghasilkan keturunan, tetapi lebih dari itu adalah sebagai ungkapan
cinta dan rasa keintiman. Seks pada manusia bukan saja untuk prokreasi
tetapi juga rekreasi. Hanya pada hewan dikenal istilah "musim kawin"
yang biasanya marak pada awal musim semi (tergantung habitat dan jenis
hewan), sedangkan pada manusia seks bisa menjadi aktivitas sepanjang
waktu.
"Salah satu contoh terbesar dari kasih Allah bagi
umat manusia dapat ditemukan dalam seksualitas manusia. Ini benar-benar
suatu karunia yang mengagumkan dari Allah. Namun, seperti semua karunia
yang telah diberikan kepada kita, itu tidak datang tanpa syarat.
Artinya, itu bukan sesuatu yang kita bisa lakukan sesuka hati. Allah
telah menetapkan aturan. Sesungguhnya, Dia sangat jelas: aktivitas
seksual harus antara seorang suami dan istri, laki-laki dan perempuan,
dan hanya dalam hubungan pernikahan. Apa pun di luar itu adalah dosa"
[alinea pertama].
Seks adalah sebuah karunia Allah yang
sakral dan sangat berharga, bagi manusia itu diberikan untuk mencapai
maksud-maksud yang luhur demi kepentingan manusia itu sendiri. Seks itu
indah, seperti kata sebagian orang, dan tidak sedikit manusia yang
menjadi terobsesi dengan "keindahan seks" sehingga pikirannya selalu
dikuasai oleh angan-angan seks. Dalam keadaan demikian, seks yang indah
itu sangat mudah menjadi tindakan percabulan. Sangat ironis melihat seks
sebagai karunia yang sakral dan berharga itu diperlakukan sebagai
permainan, dalam perbuatan maupun percakapan. Seks bahkan telah menjadi
bahan dan tema lelucon yang digemari oleh banyak orang. Firman Tuhan
mengingatkan, "Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau
keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus" (Ef. 5:3; huruf miring ditambahkan).
Seks dan percabulan. Tampaknya
orang-orang Kristen di Korintus sempat memiliki pandangan yang keliru
mengenai seks, menganggapnya sebagai suatu jerat yang membahayakan iman
mereka sehingga lebih baik dihindari sama sekali. Lalu mereka menulis
surat kepada rasul Paulus dan menyampaikan gagasan tentang hidup
membujang bagi umat Tuhan, seperti sang rasul itu sendiri. Terhadap
surat mereka itulah Paulus menjawab, "Dan sekarang tentang hal-hal yang
kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak
kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki
mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya
sendiri" (1Kor. 7:1, 2).
Maksud rasul Paulus di sini
ialah, hubungan seks tidak apa-apa selama itu dilakukan di antara
seorang laki-laki dan seorang perempuan yang terikat sebagai
suami-istri, tidak peduli seberapa sering pun mereka melakukannya.
Bahkan, dia menambahkan bahwa bagi pasangan suami-istri seks merupakan
kewajiban masing-masing terhadap pasangannya. "Hendaklah suami memenuhi kewajibannya
terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak
berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami
tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya" (ay. 3, 4; huruf
miring ditambahkan). Seks adalah berkat bagi pasangan suami-istri; seks
adalah percabulan apabila menjadi promiskuitas (persetubuhan dengan
siapa saja).
Jadi, Paulus tidak pernah mengajarkan
untuk tidak menikah yang bisa berarti melawan kehendak Allah mengenai
perkawinan, melainkan dia sedang menanggapi gagasan tentang hidup
membujang yang ditanyakan oleh jemaat Korintus. "Tetapi kalau ada
seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin
dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil
keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik" (ay. 37).
Hidup membujang atau pun menikah itu haruslah atas pilihan pribadi. (Baca juga 1Tes. 4:3-5.)
Seks dan perzinahan. Dalam
khotbah-Nya di atas bukit, Yesus menyinggung soal berzinah. "Kamu telah
mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap
orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah
dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:27, 28). Di sini kita melihat Yesus
melakukan amplifikasi dan memperluas makna perzinahan. Jangankan
berbuat, baru menginginkannya saja sudah berzinah. Kata asli yang
diterjemahkan dengan memandang dalam ayat ini adalah ฮฒฮปแฝณฯฯ, blepล, sebuah
kata-kerja yang dalam konteks ini berarti "mencermati dengan perasaan"
atau juga "melirik sambil bermain mata." Selanjutnya Yesus berkata,
"Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah
itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa,
daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka" (ay. 29).
"Sulit
membayangkan bagaimana Yesus bisa menyatakan amaran yang lebih keras
lagi terhadap percabulan seperti yang diungkapkan dalam rangkaian
ayat-ayat ini. Mencungkil mata anda? Memotong tangan anda? Jika
ini yang diperlukan supaya jadi suci, maka hal itu pantas; kalau tidak
maka anda berada dalam bahaya kehilangan hidup kekal anda" [alinea
kedua: empat kalimat terakhir].
Menulis kepada jemaat di
kota Roma, rasul Paulus mengamarkan mereka tentang orang-orang yang
sudah mengenal Allah dan mengetahui hukum-hukum-Nya tetapi kelakuan dan
kehidupan mereka seperti orang-orang yang tidak mengenal dan mengetahui
hukum Allah, baik karena melakukan penyembahan berhala maupun dalam
perilaku seksual yang menyimpang. "Karena manusia berbuat yang demikian,
maka Allah membiarkan mereka menuruti nafsu mereka yang hina.
Wanita-wanita mereka tidak lagi tertarik kepada laki-laki seperti yang
lazimnya pada manusia, melainkan tertarik kepada sesama wanita. Lelaki
pun begitu juga; mereka tidak lagi secara wajar mengadakan hubungan
dengan wanita, melainkan berahi terhadap sesama lelaki. Laki-laki
melakukan perbuatan yang memalukan terhadap sesama laki-laki, sehingga
mereka menerima pembalasan yang setimpal dengan perbuatan mereka yang
jahat itu" (Rm. 1:26-27, BIMK).
Apa yang kita pelajari tentang seks sebagai karunia Allah yang berharga?
1.
Seks adalah suatu karunia Allah yang suci dan berharga bagi manusia,
demi kepentingan manusia dan untuk melaksanakan maksud-maksud Allah
dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya seks pada manusia itu berbeda
dari seks pada hewan.
2. Allah ingin manusia menikmati
seks dan pada waktu yang sama memelihara nilai-nilai seksualitas yang
luhur. Dengan menjaga pemberian Tuhan yang berharga ini sesuai dengan
peruntukkannya yang benar, kita melindungi seks agar tidak merosot
menjadi percabulan.
3. Pencantuman larangan berzinah
sebagai hukum ketujuh dalam Sepuluh Perintah (Hukum Moral) adalah bukti
tentang bagaimana Allah memandang pentingnya menghormati seks. Bahkan,
Yesus mempertajam dan memperluas makna perzinahan dalam khotbah-Nya di
atas bukit.
Kamis, 28 Februari
YESUS SEBAGAI "SUAMI" BAGI JEMAAT (Pernikahan Sebagai Metafora Gereja)
Memelihara kesetiaan. Melalui
Musa, Allah mengamarkan umat pilihan-Nya, bangsa Israel, untuk menjaga
kesetiaan mereka dengan tidak menjalin hubungan dengan orang-orang kafir
bilamana mereka nanti tiba dan bermukim di Tanah Perjanjian itu.
"Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri
itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan
mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang
engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka," pesan-Nya
(Kel. 34:15; huruf miring ditambahkan). Perhatikan, Allah menyebut
hubungan dengan ilah-ilah orang kafir itu sama dengan berzinah (Bahasa Ibrani: ืָื ָื, zanah). Jadi, berzinah itu mengandung konotasi ketidaksetiaan.
Allah
tahu bahwa "kontak spiritual" antara umat-Nya dengan ilah-ilah kafir
itu akan didahului dengan "kontak fisik" dengan orang-orang kafir yang
menyembah berhala. Itulah sebabnya Ia meningatkan, "Apabila engkau
mengambil anak-anak perempuan mereka menjadi istri anak-anakmu dan
anak-anak perempuan itu akan berzinah dengan mengikuti allah mereka, maka mereka akan membujuk juga anak-anakmu laki-laki untuk berzinah dengan mengikuti allah mereka"
(ay. 16; huruf miring ditambahkan). Rasul Paulus menasihati, "Janganlah
mau menjadi sekutu orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus; itu
tidak cocok. Mana mungkin kebaikan berpadu dengan kejahatan! Tidak
mungkin terang bergabung dengan gelap. Tidak mungkin Kristus sepakat
dengan Iblis. Apakah persamaannya antara orang Kristen dengan orang
bukan Kristen?" (1Kor. 6:14-15, BIMK).
"Sudah sangat
dikenal di kalangan pelajar Alkitab bahwa baik dalam Perjanjian Lama
maupun dalam Perjanjian Baru perkawinan digunakan sebagai simbol
hubungan antara Allah dengan umat perjanjian-Nya. Karena itu, misalnya,
pada berbagai kejadian Alkitab menggunakan gambaran tentang seorang
perempuan yang tidak setia untuk melambangkan kemurtadan dan
pengingkaran iman yang sudah lazim pada Israel purba" [aliea pertama:
dua kalimat pertama].
Hubungan Allah dengan manusia. Alkitab
menggambarkan hubungan antara Allah dengan umat-Nya sebagai hubungan
yang bersifat multi-dimensional. Contohnya: hubungan sebagai Bapa dengan
anak yang mengedepankan dimensi kasih/sayang; hubungan sebagai Gembala dengan domba-domba yang mempertegas dimensi pemeliharaan/perlindungan; hubungan sebagai Majikan dengan hamba yang mengetengahkan dimensi pelayanan/penurutan; hubungan sebagai sesama Sahabat yang menonjolkan dimensi kedekatan/keakraban; dan hubungan sebagai Suami dengan istri yang menekankan dimensi kepatuhan/kesetiaan.
Yohanes
Pewahyu mencatat suara dari surga yang berseru, "Marilah kita
bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari
perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia"
(Why. 19:7). Hari "perkawinan Anak Domba" adalah hari ketika Yesus
Kristus akan datang kedua kali untuk menjemput umat tebusan-Nya dari
dunia ini. Setelah seribu tahun tinggal di surga, atau sesudah
millenium, segenap umat tebusan itu akan turun kembali ke dunia ini
bersama kota Yerusalem Baru. "Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem
yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya"
(Why. 21:2; huruf miring ditambahkan). Sejurus kemudian, salah satu
dari tujuh malaikat itu berkata kepada Yohanes, "'Marilah ke sini, aku
akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba.' Lalu,
di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi
tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun
dari surga, dari Allah" (ay. 9, 10; huruf miring ditambahkan).
Ayat-ayat
dalam kitab Wahyu di atas melukiskan hubungan antara Kristus dengan
manusia sebagai suami dengan istri, di mana Kristus yang dijuluki "Anak
Domba" itu adalah suami dan umat tebusan atau orang-orang saleh yang
diselamatkan adalah bagaikan pengantin perempuan. Perumpamaan ini
mendukung penggambaran oleh rasul Paulus, "karena suami adalah kepala
istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat" (Ef. 5:23). Bahkan,
kepada jemaat di Korintus sang rasul menulis, "Kalian adalah seperti
seorang gadis perawan yang masih suci yang sudah saya janjikan untuk
dinikahkan dengan seorang suami, yaitu Kristus" (2Kor. 11:2, BIMK).
"Pada
ayat-ayat ini, hubungan dalam perkawinan yang ideal dibandingkan dengan
hubungan Allah dengan umat-Nya. Allah mengajak umat-Nya untuk bergabung
dengan Dia dalam suatu hubungan yang intim. Ini merupakan gambaran yang
menakjubkan perihal kepedulian Allah terhadap umat-Nya dan
kerinduan-Nya untuk membawa kita ke dalam persekutuan-Nya" [alinea
terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang perkawinan sebagai kiasan dalam hubungan Kristus dengan Jemaat?
1.
Perkawinan adalah hubungan antar pribadi yang paling intim bagi
manusia. Alkitab menggambarkan hubungan Allah dengan manusia--khususnya
Kristus dengan Jemaat--sebagai suatu hubungan yang sama seperti Suami
dengan istri. Selain keintiman, hubungan antara suami dan istri juga
menyangkut kesetiaan.
2. Baik dalam PL maupun PB,
ketidaksetiaan manusia dalam memelihara hubungan dengan Tuhan disamakan
dengan perzinahan. Sebagaimana seorang suami atau istri yang selingkuh
dengan wanita atau lelaki lain disebut berzinah, demikian pula orang
yang menyangkal imannya itu sama dengan berzinah.
3.
Jemaat adalah bagaikan "pengantin perempuan" yang disiapkan untuk "hari
perkawinan Anak Domba" yang akan berlangsung pada kedatangan Yesus
Kristus kedua kali. Setiap orang Kristen adalah "pengantin perempuan"
yang harus menjaga kesucian cintanya kepada Kristus.
Jumat, 1 Maret
PENUTUP
Moralitas dan asal-usul kita. Dari
awalnya Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling
tinggi dari seluruh ciptaan dalam segala aspeknya, termasuk sebagai
makhluk yang paling bermoral. Perilaku seksual adalah bagian yang tak
terpisahkan dari moralitas manusia, dan inilah yang membedakan kita dari
hewan.
"Dalam banyak cara, suatu pemahaman yang tepat
perihal moralitas, terutama moralitas seksual, jelas terkait dengan
pemahaman yang tepat mengenai asal-usul kita. Misalnya: falsafah evolusi
tidak memberikan dasar yang obyektif untuk adanya suatu hubungan antara
aktivitas seksual dan moralitas. Hewan mempunyai banyak jenis berbeda
tentang 'sistem kawin.' Sebagian spesis bersifat poligami, banyak yang
melakukan promiskuitas...Tanpa standar moral obyektif yang diberikan
oleh Sang Pencipta, kita tidak akan memiliki dasar untuk evaluasi
perilaku seksual apakah itu baik atau buruk secara moral. Desakan
sekarang ini untuk menyetujui pasangan homoseksual menggambarkan hal
ini. Hanya dalam terang Penciptaan maka perkawinan itu dapat dipahami
dengan benar" [alinea pertama: empat kalimat pertama dan tiga kalimat
terakhir].
Moralitas adalah kajian yang luas, tidak
terbatas hanya perilaku seksual. Secara sederhana, moralitas adalah
prinsip-prinsip yang membedakan antara perilaku yang baik dengan
perilaku yang buruk, atau suatu sistem nilai dan norma kepatutan dalam
satu masyarakat. Masalahnya, umat manusia terdiri atas berbagai
masyarakat yang menganut sistem nilai dan norma yang berlainan, dan
dengan sendirinya juga berbeda dalam prinsip moral. Itu sebabnya kita
mengenal istilah "relativisme moral" yang berbeda dari "kemutlakan
moral." Sebagai orang Kristen, moralitas kita dibangun di atas kebenaran
ajaran Alkitab yang kita terima sebagai sistem nilai yang mutlak dan
berlaku umum. Sebab kita percaya, meskipun Alkitab ditulis oleh
orang-orang yang berasal dari budaya tertentu yang tidak sama dengan
kita, dalam kurun waktu yang sangat panjang, isinya tetap konsisten
karena Pengarangnya adalah Allah sendiri. Karena itu orang Kristen yang
saleh tidak akan terjebak dalam relativisme moral yang bisa merupakan
wilayah abu-abu.
Pena inspirasi menulis: "Dalam Alkitab
tabiat yang suci dan abadi dari hubungan yang ada antara Kristus dan
jemaat-Nya dilambangkan oleh hubungan perkawinan. Tuhan telah
menggabungkan umat-Nya kepada diri-Nya sendiri melalui sumpah yang
khidmat, Dia berjanji untuk menjadi Allah mereka dan mereka berjanji
pada diri sendiri untuk menjadi milik-Nya dan hanya milik-Nya saja"
(Ellen G. White, The Great Controversy, hlm. 381).
"Jauhkanlah
dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia,
terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa
terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah
bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari
Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah
dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah
dengan tubuhmu! (1Kor. 6:18-20).
Label:
Artikel,
Bacaan,
Rangkuman Sekolah Sabat







